Love Story In Paris

Love Story In Paris
#20



Suasana masih seperti pagi tadi saat Celine sampai dikantor. Semua orang masih melihatnya dengan tatapan dan senyuman yang aneh. Jujur saja, Celine sedikit merasa risih jika keadaannya menjadi begini.


Awalnya, Celine berpikir bisa menganggap tidak akan terjadi masalah apa-apa setelah melihat berita yang tersebar di internet. Tapi ternyata tidak! Dan ini semua diluar dugaannya.


Baru saja Celine melangkah keluar dari lift khusus yang ada mengarah ke lobby, Celine melihat banyak orang sedang berdiri diluar pintu perusahaan.


Dia kemudian keluar dari lift dengan langkah besar dan raut wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak mempedulikan banyak pasang mata sedang menatap kearahnya di lobby. Tiba-tiba, Devan dan Jessica datang menghampirinya.


"CEO Celine, Anda mau kemana?" Tanya Devan sambil mensejajarkan langkahnya dengan Celine.


Celine menoleh kearah Devan dan Jessica lalu menjawab. "Aku ingin keluar mencari angin segar."


"Tapi, CEO Celine...." Jessica berusaha ingin menghentikan Celine karena mencemaskannya.


Celine pun menghentikan langkahnya saat melihat orang-orang yang ada diluar pintu perusahaan sedang memegang kamera dan microphone. "Apa yang terjadi di luar, Jess?"


"CEO Celine, orang-orang itu semuanya wartawan. Mereka sudah berada di luar sejak satu jam yang lalu dan mereka ingin mewawancaraimu." Jawab Jessica.


Dari kejauhan, Celine melihat ada seorang pria yang mengenakan jaket hoodie dan celana berwarna hitam sedang mengamatinya. Pria itu juga memakai topi dan masker berwarna hitam. Dia duduk di kap mesin mobilnya sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Dilihat dari mobil dibelakangnya, Celine tau bahwa pria itu adalah Nicholas Emmanuel.


Untuk apa dia kesini? Batin Celine.


Celine kemudian kembali melangkahkan kakinya, berjalan ke arah pintu perusahaan.


"CEO Celine...." Jessica berusaha mencegatnya.


Celine menoleh kearahnya dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Jess. Aku bisa mengatasinya."


Jessica dan Devan hanya bisa mengikuti langkah Celine dari belakang hingga sampai pintu perusahaan.


Saat sampai di pintu perusahaan, para wartawan itu berbondong-bondong berlari kearah Celine dengan kamera dan microphone ditangannya. Untung saja, Jessica dan Devan masih mengikutinya dan membantunya keluar dari pintu perusahaan.


Devan dan Jessica menghadang para wartawan yang ingin mewawancarai Celine.


"Permisi semuanya...permisi..." Devan berusaha menghalangi para wartawan yang ada dihadapannya dan mulai menghidupkan kamera juga menyodorkan microphone kearah Celine.


Devan dan Jessica dengan sigap membentangkan tangannya melindungi Celine dari para wartawan dan memberi dia jalan sampai ke parkiran.


Celine sedikit merasa risih, karena dalam waktu sekejap hidupnya seperti seorang selebriti terkenal yang dikerumuni oleh banyak wartawan. Ini semua karena kesalahannya beberapa hari lalu, yang terlalu berhalusinasi tentang Kenzo William hingga Celine tanpa sadar memeluk seorang musisi terkenal seperti Nicholas Emmanuel di depan banyak penonton dan berujung masalah baginya.


Saat berjalan menuju parkiran, tiba-tiba sebuah mobil sport yang familiar bagi Celine berhenti di hadapannya. Nicholas yang masih memakai masker hitam dan penutup kepala membukakan pintu mobilnya untuk Celine dari dalam.


Saat pintu mobil terbuka, pria itu membuka sedikit maskernya, membuat wajahnya yang sangat tampan terlihat. "Masuklah."


Dan lagi, Celine selalu seperti terhipnotis saat melihat wajahnya juga suara rendahnya yang begitu enak didengar, hingga dia mengikuti perintahnya.


Celine juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Pria itu selalu datang disaat Celine membutuhkan bantuan dan entah kenapa Celine selalu mengikuti apa yang Nicholas suruh padanya.


Hal ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya selama ini. Bahkan terhadap Kenzo, lelaki yang sangat dicintainya pun Celine tidak pernah sepatuh ini.


Celine duduk dikursi samping Nicholas yang sedang mengemudikan mobilnya. Meskipun agak sulit melewati para wartawan yang ramai di depan perusahaan, akhirnya mareka bisa sampai di jalan kota dengan tenang.


Nicholas hanya menatap ke depan mengemudikan mobilnya dengan tenang, sedangkan Celine juga masih terdiam menatap keluar jendela mobil.


"Kamu mau kemana?" Tiba-tiba Nicholas membuka pembicaraan dengan suaranya yang rendah dan enak didengar.


Celine hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh melihat pria itu. "Tidak tau."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin keluar menghirup udara segar." Celine menimpali pertanyaan Nicholas dengan wajah tanpa ekspresi.


Beberapa detik setelah Celine menjawab, Celine baru tersadar dengan ucapannya. Kenapa aku menjawab seperti itu? Bukannya aku keluar dari kantor ingin pergi sendiri? Kenapa aku malah pergi bersama pria ini? Batin Celine.


Celine ingin mengatakan pada Nicholas jika Celine ingin berhenti di sini saja dan pergi sendiri. Tapi, tiba-tiba lidahnya terasa kelu untuk mengatakannya.


Aura pria ini seperti seorang kaisar yang membuat para rakyatnya tidak dapat berkutik.


Nicholas tidak lagi bertanya padanya. Dia memasang wajah dinginnya yang kaku, menatap kedepan fokus pada kemudinya.


Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam dan hanya terdengar alunan lagu Broken Angel dari Arash feat. Helena.


...Helena:...


...I’m so lonely, broken angel...


...(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)...


...I’m so lonely, listen to my heart...


...(Aku sangat kesepian, dengarkanlah isi hatiku)...


...You, you are the one...


...(Kamu, kamulah satu-satunya)...


...I miss you so much, now that you’re gone...


...(Aku sangat merindukanmu, sekarang setelah kamu pergi)...


...Don’t, don’t be afraid...


...(Jangan, jangan takut)...


...I’ll be by your side, leading the way...


...(Aku akan berada di sisimu, memimpin jalan)...


...Helena:...


...I’m so lonely, broken angel...


...(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)...


...I’m so lonely, listen to my heart...


...(Aku sangat kesepian, dengarkanlah isi hatiku)...


...One and only, broken angel...


...(Satu-satunya, bidadari terluka)...


...Come and save me before I fall apart...


...(Datang dan selamatkan aku sebelum aku hancur)...


...I wish that I could touch, touch you again...


...(Aku berharap bisa menyentuh, menyentuhmu lagi)...


...Feeling in love, don’t want it to end...


...(Merasakan cinta, tidak ingin itu berakhir)...


...Two, two worlds apart...


...(Dua, terpisah dua dunia)...


...Less in a dream, it’s breaking my heart...


...(Kurang dalam mimpi, itu menghancurkan hatiku)...


Lagu Broken Angel yang sedang didengar, sangat mengena di hati Celine. Benar-benar menggambarkan perasaannya saat ini.


Tapi kali ini, tidak setetespun air matanya yang jatuh membasahi pipi. Mungkin, matanya sudah terlalu lelah untuk menangis, hingga tangisan itu hanya ada didalam hati.


Celine masih memalingkan wajahnya ke arah jendela agar Nicholas tidak tau kalau dirinya sedang bersedih.


Mobil sport Nicholas berhenti di sebuah Mall bersamaan dengan selesainya alunan lagu Broken Angel.


Celine baru menyadari bahwa Nicholas membawanya ke sebuah Mall ternama yang ada di kota ini setelah mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing selama diperjalanan. Dia menoleh kearah Nicholas yang sudah berdiri diluar pintu mobil disampingnya dan membukakan pintu untuknya.


"Kita mau kemana?" Tanya Celine dengan bingung.


"Tadi kamu bilang ingin menghirup udara segar?"


"Iya, tapi aku tidak ingin berbelanja. Aku tidak suka berbelanja." Jawab Celine sambil mengerutkan keningnya.


Setelah membukakan pintu untuk Celine, Nicholas membalikkan tubuhnya dan berjalan kedepan. "Ikuti saja aku."


...***...