
Keesokan harinya, beberapa dokter ahli utusan uncle tampannya Isabella kembali datang untuk memeriksa kesehatan gadis kecil itu.
Celine memperhatikan dari penampilan dan cara mereka memperlakukan pasien terlihat sangat berkompeten. Dia hanya berdiri di sudut ruangan memperhatikan para dokter itu memeriksa dan memberikan Isabella obat.
Celine merasa, sepertinya pria yang membantu Isabella itu sangat baik. Bahkan dia rela mencarikan dokter terbaik untuk putrinya.
Celine melangkah mendekat ke arah para dokter yang baru saja selesai memeriksa Isabella sambil bertanya. "Bagaimana keadaan putriku, Dok?"
Salah satu dari dokter itu tersenyum dan menjawab. "Anak Nyonya sudah membaik. Perkembangan jantungnya untuk kembali stabil sangat cepat. Dan sekarang, saluran jantungnya sudah mulai bekerja dengan baik."
"Syukurlah. Jadi, kapan putriku diijinkan pulang, Dok?" Tanya Celine kembali.
"Hari ini, putri Anda sudah bisa pulang, dengan syarat Anda harus memeriksakan keadaan anak Anda satu kali tiga bulan secara rutin selama setaun kedepan kepada kami. Anda tidak boleh memeriksakan anak Anda ke dokter selain kami, karena itu dapat menyulitkan kami untuk memantaunya."
"Baik, Dok. Aku akan melakukan sesuai dengan anjuran Dokter."
"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Kami semua pamit undur diri."
"Terimakasih banyak, Dok."
Para dokter ahli pun keluar dari kamar inap Isabella.
Celine kemudian meminta Bibi Aida untuk membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang. Celine merasa sangat bahagia karena Isabella sudah diijinkan pulang hari ini.
Celine segera pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan Isabella.
"Suster, aku ingin mengurus surat kepulangan dan membayar biaya perawatan putriku Isabella." Celine berbicara pada perawat yang ada di bagian administrasi.
Suster tersebut tersenyum ramah. "Baik, Nyonya. Siapa nama putri Anda?"
"Isabella William Wijaya." Jawab Celine.
"Tunggu sebentar, kami akan mengeceknya terlebih dahulu."
Setelah menunggu sejenak, perawat tersebut kembali berbicara. "Nyonya, untuk pasien atas nama Isabella William Wijaya tidak ada yang harus dibayarkan lagi, karena pagi tadi asisten Chris Jordy telah menyelesaikan semua urusan administrasi dan biaya pengobatan serta rawat inapnya."
"Asisten Chris Jordy?" Celine mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak.
"Benar, Nyonya. Asisten Chris Jordy telah mengurus semuanya. Dia adalah asisten dari Tuan Emmanuel pemilik rumah sakit ini. Jadi, tidak ada yang harus dibayarkan lagi." Perawat itu tersenyum pada Celine.
Celine baru ingat bahwa pria yang membawa beberapa orang dokter ke kamar Isabella kemarin bernama Chris.
Siapa Tuan Emmanuel? Apa dia seseorang yang aku kenal? Tidak mungkin, tidak mungkin Tuan Emmanuel itu adalah Nicholas Emmanuel. Seorang musisi sepertinya tidak mungkin bisa menjadi pemilik rumah sakit sebesar ini. Lagipula, besar kemungkinan orang yang bernama Emmanuel itu banyak di London ini. Batin Celine.
"Baiklah suster, kalau begitu aku permisi dulu, terimakasih." Celine segera kembali ke kamar rawat inap Isabella.
...
Beberapa hari kemudian setelah Isabella diijinkan pulang oleh dokter, Celine membawa Isabella dan Bibi Aida kembali ke Paris. Karena sangat sulit baginya jika berpisah dengan putrinya terlalu lama. Celine juga sangat mencemaskan kesehatan Isabella. Celine takut saat dirinya kembali ke Paris sendirian, penyakit Isabella akan kambuh. Akhirnya, dia mengajak Isabella dan Bibi Aida untuk menetap di Paris.
Saat ini mereka sedang berada didalam pesawat. Isabella duduk disamping Celine dan bertanya padanya. "Mommy, apa kita akan pergi ke Paris?"
Celine tersenyum dan menjawab. "Iya, sayang. Kita akan pergi ke Paris."
"Apa kita akan bertemu dengan Daddy?"
Celine terdiam sejenak. Jantungnya serasa ingin lepas saat Isabella menyebutkan nama Daddy. Wajah Kenzo pun seketika terlintas di pikirannya.
Anak ini ingatannya sangat bagus, bahkan dia ingat jika Daddy nya berada di Paris. Tapi aku tidak tau bagaimana menceritakan padanya nanti bahwa Daddy nya sudah meninggal sejak dia masih didalam kandungan.
Sekarang Celine baru mengerti maksud Isabella menyebut nama Daddy. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedang merindukan pria itu, pria yang telah membantunya. Tapi Celine tidak tau siapa pria itu. Dia juga tidak tau nomor ponselnya. Bahkan saat bertemu dengan Chris, asistennya, Celine lupa menanyakan tentang pria itu.
Celine menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Isabella. Pertanyaan yang membuatnya tidak tau harus menjawab apa, karena Celine tidak suka berbohong apalagi pada putrinya sendiri.
"Sayang, apa kamu sangat merindukan Daddy?"
Isabella menganggu. Wajahnya yang kecil terlihat sangat menggemaskan. Celine mencium dan memeluknya. "Saat ini, mungkin Daddy sedang sibuk, jadi kita tidak bisa menemuinya. Mungkin dilain kesempatan, kita bisa bertemu kembali dengan Daddy."
Seketika Isabella mengerutkan bibirnya menahan tangis. Matanya yang memerah dan berkaca-kaca menatap Celine dengan wajah sedih. "Tapi Daddy sudah janji padaku, akan sering-sering menemuiku."
"Sayang, Daddy tidak akan ingkar janji padamu. Tapu mungkin untuk saat ini, Daddy benar-benar sedang sibuk, dan kita juga harus berangkat." Celine berusaha membujuk dan menenangkan Isabella.
Gadis kecil itu tidak lagi berbicara. Dia hanya diam menatap keluar jendela pesawat sambil meneteskan airmatanya.
Celine benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Isabella. Sebegitu dekatnya hati Isabella pada pria itu hingga dia menangis saat merindukan dan tidak bisa menemuinya.
Isabella menangis tanpa mengeluarkan suara. Celine sudah berusaha membujuknya, namun tidak dihiraukan olehnya hingga akhirnya Isabella lelah menangis dan tertidur di dalam pelukannya.
Selama perjalanan menuju Paris, Celine membaca dan memeriksa beberapa berkas perusahaan ,kemudian memberikannya pada Jessica. "Jess, apa lusa ada rapat penting yang harus aku hadiri?"
Jessica yang duduk dikursi seberang bersama Bibi Aida menjawab. "Ada, Bu Celine. Lusa ada rapat koordinasi dengan semua kepala departemen perusahaan, dan aku baru mendapat kabar dari Chika bahwa pihak Grand Corp sudah menerima surat pengajuan kerja sama yang kita kirim beberapa waktu lalu."
"Bagus, semoga semuanya berjalan dengan lancar."
Setelah selesai membaca dan memeriksa berkas-berkas perusahaan, Celine kembali hanyut dalam pikirannya. Dia masih memikirkan pria yang telah membantu putrinya. Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya. Seperti apa sosok pria itu? Bagaimana karakternya? Kenapa dia bisa sebaik itu, hingga membuat Isabella begitu menyukainya?
Celine kembali mengingat pembicaraannya dengan perawat di bagian administrasi beberapa hari yang lalu. Perawat itu menyebut nama 'Tuan Emmanuel', dibenaknya pun kembali terlintas wajah tampan Nicholas Emmanuel. Dan kebetulan, dia pernah melihat sosok yang mirip sekali dengan Nicholas Emmanuel ketika dia baru sampai di rumah sakit.
Apa mungkin itu dia? Batinnya.
Celine segera menggelengkan kepalanya, berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh. Kemudian dia mengambil ponselnya didalam tas. Celine membuka album foto di galeri ponselnya dan men-scroll nya. Saat sedang asik melihat foto-foto Isabella dari bayi hingga foto Isabella yang dia ambil beberapa jam yang lalu, terselip dua foto pria dalam ponselnya.
Celine merasa kaget melihat foto tersebut. Dia tidak menyangka foto Nicholas Emmanuel masih tersimpan di galeri ponselnya.
Foto itu diambil saat mereka berdua sedang makan malam beberapa minggu yang lalu. Tanpa sadar, Celine menyunggingkan sudut bibir tersenyum menatap foto Nicholas yang tengah merangkulnya.
Celine menyentuh layar ponselnya untuk memperbesar foto tersebut. Wajah tenang dan tampan Nicholas terlihat sangat teduh, meski saat itu dia mengenakan pakaian ala geng motor. Sedikit pun tidak menghilangkan ketampanannya. Justru dia malah terlihat begitu memikat.
Celine masih ingat bagaimana pria tampan itu menatapnya dengan matanya yang indah berwarna biru bak batu sapphire itu seolah hendak menariknya masuk ke dalam pusaran air laut yang ada di matanya. Tapi setelah makan malam bersama waktu itu, tidak ada kabar lagi darinya hingga saat ini.
"Ehem, fotonya sangat Bagus dan posenya juga pas."
Tiba-tiba terdengar suara yang familiar dari belakang membuat Celine langsung mengunci layar ponselnya.
Entah sejak kapan Jessica sudah berdiri di belakang kursinya. Celine menoleh dan menatapnya kesal.
Yang ditatap hanya tersenyum nyengir sambil garuk-garuk kepala terlihat canggung. "Maaf, Bu Celine. Aku tidak sengaja melihatnya. Tapi, kalian terlihat sangat serasi."
Celine mengerutkan keningnya menatap Jessica. "Jessica, sejak kapan kamu suka bergosip?"
"Ma-maaf, Bu Celine. Kalau begitu aku kembali ke tempat dudukku." Dengan cepat, Jessica kembali duduk di kursinya.
Celine mendengus kesal. Dia hanya tidak suka ada orang yang ikut campur dalam urusan pribadinya, kecuali dia sendiri yang berinisiatif menceritakannya.
...***...