Love Story In Paris

Love Story In Paris
#65



Namaun, ketika Celine baru keluar pintu dan hendak berbelok mengejar putrinya, dia dikagetkan oleh sebuket besar bunga yang tiba-tiba ada di hadapannya.


Karena buket itu cukup besar, Celine tidak bisa melihat siapa yang membawa buket bunga tersebut. Tapi dia bisa melihat kaki dan sepasang sepatu pria dewasa serta sepasang sepatu Isabella yang sedang berdiri di belakangnya.


Celine pun tersenyum melihatnya dan berkata. "Apa kamu ingin menggodaku?"


Seketika sepasang mata indah bak batu sapphire muncul dari balik buket bunga dan mengedipkan matanya, kemudian memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan pada Celine dan berkata, "Ini bunga spesial yang aku rangkai sendiri, untuk seseorang yang spesial."


Hatinya pun menghangat ketika mendengar bahwa Nicholas yang merangkai bunga itu sendiri. Buket bunga itu terlihat sangat indah dan rapi. Apa ini keahliannya selain bermain musik?


Bunga ini mampu membuat suasana hatinya kembali membaik dari sebelumnya. Dia tersenyum dan menerima buket bunga pemberian dari Nicholas. "Terima kasih."


Nicholas kemudian merangkul bahunya di sisi kanan, dan menggandeng tangan Isabella di sisi sebelah kiri sambil memasuki ruang kerja Celine. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Belum. Masih ada beberapa laporan yang harus aku urus." Celine menjawab sambil meletakkan buket bunga itu di atas mejanya. "Apa kamu sengaja menjemput Isabella ke apartemen terlebih dahulu, lalu menjemputku?"


"Ya. Aku sangat merindukan Isabella, jadi aku pikir untuk menjemputnya terlebih dahulu sebelum menjemputmu." Nicholas berbicara sambil menggendong Isabella dan mencium pipi chubbynya.


Isabella tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Nicholas. Wajahnya terlihat sangat senang saat mendengar Nicholas merindukannya. "Aku juga merindukan Daddy."


"Anak Daddy yang pintar." Nicholas membelai rambut Isabella dengan penuh kasih sanyang, lalu berjalan ke arah meja kerja Celine.


Dia melihat Celine sedang sibuk membaca beberapa table yang dipenuhi banyak angka.


Nicholas mengerutkan keningnya melihat berkas yang ada di hadapan Celine. "Serius sekali, apa itu laporan penting?"


"Ya." Celine menghela nafas panjang, lalu menutup map berkas laporan yang sedang dia lihat. "Ayo kita pulang!"


"Bukankah pekerjaanmu belum selesai?"


"Semua ini membuat kepalaku terasa sakit. Aku lanjutkan besok saja." Celine tersenyum pada Nicholas dan mengambil tasnya.


Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan Celine.


Saat mereka melewati koridor dan lobby perusahaan, semua mata tertuju pada mereka. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka dengan berbagai ekspresi. Ada yang senang, ada yang bingung, dan ada ekspresi yang sulit untuk dimengerti.


Nicholas sepertinya tidak peduli dengan tatapan semua orang, tapi itu membuat Celine sedikit gugup, karena Nicholas dengan santainya menggenggam tangannya, melewati keramaian di jam pulang kantor. Dan itu sangat mencuri perhatian semua orang yang melihatnya.


Saat mereka berjalan bersama menuju pintu masuk perusahaan, terdengar ada suara seorang wanita yang memanggil-manggil nama Celine dari arah belakang. "CEO Celine....CEO Celine..."


"Ya?" Celine membalikkan badannya menoleh ke arah sumber suara.


Ternyata yang memanggilnya adalah Rossa, manajer humas Star Corp.


"Rossa, ada apa?"


"Ya, benar."


Seketika Rossa berteriak dengan antusias. "Woah...beruntung sekali. CEO Celine, apa aku boleh berfoto dengan Tuan Nicholas Emmanuel?"


Celine menoleh pada Nicholas dengan maksud bertanya. Dia mengedipkan matanya, pertanda setuju. "Baiklah, Rossa."


"Terima kasih, CEO Celine." Senyum Rossa makin mengembang, tampak senang sekali. Dia kemudian mengulurkan tangan, memberikan ponselnya pada Celine. "CEO Celine, tolong ambilkan fotoku bersama Tuan Nicholas Emmanuel ya?"


"Baiklah." Celine menerima ponsel yang diberikan Rossa padanya dengan perasaan sedikit kesal.


Melihatnya memeluk lengan Nicholas dengan penuh semangat, membuat Celine semakin kesal. Tapi Celine berusaha bersikap tenang dan tidak menunjukkan kekesalannya.


Saat Celine akan memotret, dia baru sadar bahwa Isabella masih berada di gendongan Nicholas. Dia pun segera mendekati Isabella dan hendak mengambilnya dari gendongan Nicholas. "Sayang, turun sebentar dari gendongan Daddy ya? Aunty ini ingin berfoto dulu dengan Daddy."


Isabella malah mengeratkan pelukannya di leher Nicholas dan merengek. "Tidak mau, aku mau digendong Daddy."


Nicholas menatap Celine dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Isabella biar saja aku gendong." Lalu Nicholas menoleh pada Rossa. "Tidak apa-apa kan, Nona? Kalau aku tetap menggendong putriku ini."


Mata Rossa langsung terbelalak saat mendengar Nicholas mengatakan Isabella adalah putrinya. "Putri?" Dia kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha membuat wajahnya terlihat sebaik mungkin. "Ah...i–iya. Tidak apa-apa Tuan. Yang penting aku bisa berfoto denganmu."


Celine pun segera mengambil foto mereka dengan ponsel Rossa.


Melihat Rossa yang sedang berfoto dengan Nicholas di lobby perusahaan, memicu para karyawan lainnya juga ingin berforo bersama.


Mereka berbondong-bondong mengitari Nicholas dan secara bergantian meminta berfoto dengan Nicholas.


Hal ini benar-benar di luar dugaan dan membuat Celine merasa kewalahan saat melihatnya.


Namun, Nicholas masih terlihat tenang menghadapi serbuan orang-orang yang ingin berfoto dengannya. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.


Celine memilih mundur dan menunggu di sudut lobby saat yang lainnya tengah sibuk ingin berfoto dengan Nicholas.


Saat ini, Nicholas sudah seperti gula yang sedang dikerubungi oleh rombongan semut.


Sedangkan Isabella sudah terlihat mengerutkan dahinya melihat keramaian yang menghampirinya.


Nicholas menoleh pada Isabella yang masih berada dalam gendongannya sedang mengerutkan dahi, sepertinya Nicholas tahu kalau Isabella sudah mulai resah.


"Maaf! Sudah dulu ya fotonya, kami harus pulang." Nicholas tersenyum ramah dan segera berjalan keluar dari kerumunan sambil melambaikan tangannya.


Nicholas menghampiri Celine yang menunggunya di sudut lobby, lalu menggenggam tangannya, mengajaknya keluar dari lobby perusahaan.


...***...