Love Story In Paris

Love Story In Paris
#40



Nicholas Emmanuel mengendarai super car nya membelah jalanan Kota Paris yang masih ramai.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di kawasan yang tidak asing lagi di Paris. Sebuah tempat yang menjadi ikon dari Kota Paris yang mendunia, yaitu Menara Eiffel.


Siapa yang tidak tahu Menara Eiffel, atau yang sebagaimana orang Prancis menyebutnya, La Tour Eiffel?


Menara ini adalah salah satu landmark paling terkenal di dunia, dan menara ini memiliki sejarah yang cukup panjang.


Menara Eiffel adalah hasil rancangan yang dibuat untuk World’s Fair 1889 di Paris dan dimaksudkan untuk memperingati seratus tahun Revolusi Prancis dan memamerkan kehebatan mekanik modern Prancis di kancah internasional dunia.


Sejak dibuka pada tahun 1889, Menara Eiffel telah didatangi lebih dari 300 juta orang dan mereka masih terus kedatangan hampir 7 juta pengunjung per tahun.


Saat melihat menara ini, terbesit rasa sedih di hati Celine. Masa lalunya saat bersama Kenzo William kembali muncul di benaknya.


Setelah keluar dari mobil, Celine masih diam terpaku sambil mendongakkan kepala menatap Menara Eiffel yang ada di hadapannya. Kakinya terasa berat untuk melangkah ke sana.


"Nona Celine, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nicholas.


Celine menggelengkan kepala dan tersenyum. "Ya. Aku baik-baik saja."


Nicholas berjalan ke arah Celine, dia mengulurkan tangannya dan kembali menggenggam tangan Celine. "Mari kita ke sana!"


Nicholas membawa Celine ke Le Jules Vernes, sebuah restoran yang terletak di tingkat kedua menara Eiffel.


Sebenarnya, ada sedikit rasa enggan di hati Celine naik ke restoran tersebut. Ini akan membuatnya kembali mengingat masa-masa indahnya beberapa tahun lalu saat masih bersama Kenzo, saat Kenzo masih hidup. Tetapi lidah Celine terasa kelu untuk menolak ajakan dari Nicholas.


Tidak tahu kenapa dia seperti medan magnet bagi Celine, membuat Celine yang seperti magnet ini terus mengikuti kemana pun dia pergi tanpa menolak sedikit pun.


Nicholas membawanya ke Restoran Le Jules Vernes yang terletak di tingkat kedua Menara Eiffel.


Restoran ini memiliki kelebihan tersendiri. Dengan tempatnya yang lebih tinggi, orang akan bisa memandangi pemandangan Kota Paris lebih jelas dan view yang lebih memikat.


Ketika mereka datang, hari masih sore. Waitress dari restoran ini menyuguhkan mereka Scone Tea Set sebagai cemilan sore hari sebelum menyantap makan malam.


Sambil menikmati teh di sore hari, Celine menoleh ke luar jendela yang menampilkan pemandangan Kota Paris. Celine tidak memperhatikan pemandangan itu, tetapi malah teringat momen makan malam bersama mendiang Kenzo beberapa tahun lalu.


"Nona Celine, apa kamu baik-baik saja?"


Tanpa Celine sadari, tangan Nicholas telah berada di wajahnya dan menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes dengan ibu jarinya.


Celine merasa kaget hingga menjawab dengan terbata-bata. "Ti–tidak...aku tidak apa-apa."


Dia melepaskan tangannya dari pipi Celine dan berkata, "Apa kamu ingin kita pindah restoran saja?"


"Tidak, tidak usah. Kita makan malam di sini saja." Dengan spontan Celine memegang tangan Nicholas yang berada di atas meja berusaha mencegahnya.


Nicholas menatap tangan Celine yang memegang tangannya dengan erat. Dia tersenyum tipis, dan bertanya, "Apa kamu yakin?"


"Ya. Aku yakin." Celine menarik tangannya yang ditatap oleh Nicholas dengan segera, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha menutupi wajahnya yang kini memerah karena malu.


Nicholas tidak berbicara apa-apa, dan tetap bersikap tenang menatap Celine. "Makan malamnya sudah datang. Mari makan!"


Setelah makan malam bersama di restoran tersebut, Nicholas mangajak Celine naik ke tingkat tertinggi Menara Eiffel dengan lift.


Meskipun pernah makan malam bersama mendiang Kenzo di restoran Le Jules Verne beberapa tahun lalu, tetapi baru kali ini Celine menginjakkan kaki di tingkat tertinggi Menara Eiffel. Ini adalah pengalaman pertama baginya, dan Nicholas Emmanuel kembali menorehkan pengalaman berharga dan sangat indah dalam benaknya.


Dari tingkat tertinggi Menara Eiffel ini, Celine melihat pemandangan Kota Paris yang spektakuler dan sangat memukau pada malam hari.


Nicholas berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Dia menata lurus ke depan cukup lama, lalu memanggil Celine. "Nona Celine."


Celine menoleh ke Nicholas yang berdiri di sampingnya. "Ya?"


Nicholas masih menatap ke depan tanpa menoleh ke Celine. "Kebahagiaan dan kesedihan akan silih berganti memasuki kehidupan kita. Kesedihan itu tidak untuk dinikmati atau dibawa berlarut-larut. Jadi cobalah membuka hati untuk hal-hal yang baru agar kamu tidak terperangkap dalam masa lalu yang menyedihkan, dan bisa menjalani hidup lebih baik lagi."


Celine terpaku menatap dari samping wajah Nicholas yang masih menatap ke depan. "Terima kasih, Tuan Emmanuel."


Nicholas menoleh menatapnya dan tersenyum hangat. "Apa kamu menyukai tempat ini?"


Celine tersenyum lebar pada Nicholas. "Ya, aku sangat menyukainya."


"Kalau begitu, aku akan selalu membawamu ke sini setiap akhir pekan."


Celine menatap Nicholas dengan mata lebar. "Maksudmu?"


"Itu pun kalau kamu mau." Nicholas berbicara dengan nada datar seperti acuh tak acuh.


Dia kemudian mengulurkan tangannya, melihat arloji yang ada di tangannya. Dia membalikkan tubuhnya dan merangkul bahu Celine, lalu berjalan sambil berkata, "Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang."


...***...