Love Story In Paris

Love Story In Paris
#27



Nicholas memarkirkan motornya di kawasan pantai. Celine tertegun ketika melihat ombak dari kejauhan. Ini pertama kalinya Celine menginjakkan kakinya ke pantai setelah kepergian kekasihnya.


Bayangan akan masa lalunya secara acak kembali menghantuinya, dimana saat Kenzo membawanya liburan bersama dan melamarnya di tepian pantai.


Selama ini Celine tidak pernah ingin pergi ke pantai karena takut jika bayangan akan masa lalunya yang begitu indah saat bersama Kenzo akan membuatnya terpuruk dan menjadi lemah.


Namun entah mengapa malam ini rasanya berbeda. Pergi ke pantai bersama Nicholas laki-laki lain selain Kenzo, membuatnya merasakan sesuatu yang beda.


Nicholas memberikan warna baru dalam kehidupannya akhir-akhir ini. Dia membawanya ke tempat-tempat yang selama ini tidak ingin Celine kunjungi. Nicholas seolah ingin membuat Celine bisa lebih menerima kenyataan hidup.


Hidup Celine masih panjang, tidak seharusnya dia merasa takut dengan apapun yang berhubungan dengan masa lalunya.


Nicholas juga memberikan pengalaman baru yang tidak pernah Celine rasakan sebelumnya. Nicholas memberikan kesan spesial dalam hati Celine.


"Tuan Emmanuel, kenapa kita kesini?" Tanya Celine dengan ragu.


Nicholas hanya tersenyum tidak langsung menjawab. Dia meraih tangannya, menariknya berjalan mendekati ke sebuah bangunan yang berbentuk kapal. "Aku ingin mengajakmu makan malam."


"Apa kamu belum makan malam?"


"Belum."


Celine terdiam sejenak mendengar jawaban Nicholas yang singkat dan apa adanya. "Kenapa?"


"Aku menunggumu untuk mengajakmu makan malam bersama."


Jawaban Nicholas kembali memberikan getaran yang berbeda didalam hatinya. Tiba-tiba wajah Celine terasa panas dan mungkin sudah memerah. "Kenapa harus menungguku?"


Nicholas tidak menjawab, dia terus berjalan kedepan sambil menggenggam tangannya.


Genggaman tangan Nicholas membuat hati Celine terasa hangat dan merasakan sebuah kekuatan seolah Nicholas sedang melindunginya. Dan perasaan nyaman yang dirasakan Celine mampu menghilangkan jarak antara dirinya dengan Nicholas.


Celine menjadi tidak lagi merasa asing dengannya meski mereka sering bertemu secara kebetulan beberapa waktu lalu.


"Apakah tadi sore kamu datang ke kantorku?" Tanya Celine kembali pada Nicholas.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Ada perlu apa?"


Nicholas menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya dan menatap wajah Celine yang tengah mendongak menatapnya dengan penasaran. Pria tampan ini memberikan senyum yang sangat indah, yang jarang Celine lihat di wajahnya yang selalu terlihat dingin.


Nicholas melepaskan genggamannya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Aku tadi berniat untuk menjemputmu dan membawamu pergi therapy. Tapi saat aku sampai, kamu malah sudah ada yang menjemput. Ternyata banyak pria yang sedang mengejarmu, Nona Celine."


"Di-dia bukan siapa-siapaku. Hanya rekan bisnis saja." Celine langsung membantah ucapan Nicholas dengan rasa gugup. Celine hanya tidak ingin Nicholas berpikir jika dirinya ada hubungan spesial dengan David William. Karena itu sangatlah tidak mungkin.


Nicholas tertawa kecil melihat ekspresi Celine yang gugup. "Aku tidak menanyakan siapa dia bagimu."


Seketika Celine memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya. Celine sangat malu telah berpikir banyak tentang Nicholas. Mungkin pria tampan ini berpikir jika Celine adalah wanita yang tidak punya malu dan beranggapan bahwa Nicholas menyukainya. Ya Tuhan, mau ditaruh dimana mukaku ini? Aku benar-benar sangat malu!


"Ayo jalan." Nicholas kembali meraih tangan Celine menaiki tangga menuju lantai paling atas bangunan tersebut.


Sebuah bangunan yang berbentuk kapal yang sangat besar ini ternyata adalah restoran mewah yang sangat ramai pengunjung. Untung saja Nicholas sudah memakai topi dan masker hitamnya agar tidak mudah dikenali.


Mereka duduk di meja yang ada disudut ruangan di lantai paling atas restoran ini. Tidak banyak pengunjung di lantai ini. Pada umumnya adalah orang-orang yang telah memesan tempat terlebih dahulu pada pihak restoran. Dan kemungkinan besar, Nicholas sudah mereservasi terlebih dahulu tempat ini sebelum mereka datang.


Celine melihat ke sekeliling restoran ini yang tampak begitu megah. Kembali terlintas sebuah pertanyaan dalam benak Celine tentang siapa sebenarnya Nicholas Emmanuel ini?


Karena setiap bertemu dengannya, ia tidak pernah membicarakan tentang dirinya. Bahkan ia lebih sedikit berbicara, namun bertindak dengan semaunya. Siapa sebenarnya kamu, Tuan Emmanuel? Di balik wajah tenang dan dinginmu ini sepertinya banyak menyimpan sesuatu.


Meja tempat mereka duduk saat ini menghadap ke laut yang cukup indah di pandang mata. Lampu-lampu kapal yang melintas dekat restoran dan juga lampu-lampu kota yang ada diseberang sana menambah keindahan malam kota Paris jika dilihat dari lantai paling atas restoran ini.


Celine masih menatap wajah Nicholas yang kini tengah menatap ke luar jendela. Tiba-tiba dia menoleh kearahnya dan berkata, "Apa kamu ingin berfoto?"


Seketika Celine tersadar dari lamunannya. "Hah? Foto?"


Nicholas yang kini telah membuka maskernya kembali tersenyum padanya. "Ya. Restoran ini sangat bagus, sayang jika tidak diabadikan."


"Boleh." Celine bangkit dari duduknya dan mengambil posisi didepan sebuah lukisan yang sangat menarik pada dinding restoran.


Nicholas pun berdiri dan juga mencari posisi berdiri yang pas untuk mengambil foto Celine dari kamera ponselnya.


Saat Nicholas sedang memotret Celine, tiba-tiba beberapa waitress datang menghidangkan makanan dimeja. Setelah itu, salah satu diantara mereka menghampiri Celine dan Nicholas. "Tuan, apa Anda ingin berfoto dengan kekasih anda? Biar saya bantu."


Keduanya menoleh kearah waitress itu. "Oh iya, boleh." Nicholas kemudian menyerahkan ponselnya pada waitress itu dan melangkah mendekati Celine yang masih berdiri di depan lukisan.


"Oke." Nicholas tersenyum dan menarik Celine dengan semangat untuk berpindah ke pinggir jendela yang menghadap ke lautan lepas yang sangat indah.


"Oke, lebih dekat lagi dengan Tuan, Nona. Kalian terlihat sangat serasi."


Celine mendekatkan tubuhnya pada Nicholas dengan posisi lurus menghadap ke depan, tapi Nicholas malah menarik pinggang rampingnya ke dalam pelukannya hingga kini jarak diantara mereka berdua sangat dekat dengan sebagian tubuh Celine menempel pada Nicholas.


Celine hanya bisa diam saat Nicholas memeluk pinggangnya dengan mesra. Dia kembali merasakan jantungnya berdegup dengan kencang dan nafasnya mulai tidak beraturan.


"Oke, siap ya...cheeesssss..."


Waitress itu pun memotret mereka yang sedang tersenyum bersama, kemudian ia memberikan ponsel itu kembali pada Nicholas. "Ini ponsel anda, Tuan. Kalian terlihat sangat serasi, semoga langgeng dan bahagia selalu sampai maut memisahkan kalian."


"Terimakasih." Nicholas tersenyum senang sambil menerima ponsel miliknya kembali dari tangan waitress tersebut.


Setelah Celine dan Nicholas kembali duduk di meja dan menyantap hidangan, waitress itu kembali menghampiri meja mereka. "Maaf Tuan, apakah anda Nicholas Emmanuel violinist terkenal itu?"


"Benar." Nicholas tersenyum ramah.


"Woah, senang sekali bisa bertemu dengan anda langsung. Saya sangat menyukai karya-karya anda. Apakah boleh saya berfoto dengan anda?"


"Tentu saja." Nicholas langsung bangkit dari duduknya dan mendekat pada waitress itu.


Waitress itu mengulurkan tangan menyerahkan ponselnya pada Celine sambil berkata, "Nona, bisa tolong ambilkan fotoku bersama Tuan Nicholas Emmanuel?"


"Boleh." Celine menerima ponsel milik waitress itu kemudian memotonya.


"Terimakasih." Waitress itu menerima ponselnya kembali dan berkata, "Nona, jaga kekasihmu baik-baik, kalau tidak kamu akan menyesal, karena ada banyak wanita yang mengantri untuk bisa dekat dengan Tuan Nicholas Emmanuel ini. Dia sangat mempesona." Waitress itu kemudian berlalu pergi dengan hati yang senang.


Celine hanya tersenyum mendengar ucapan waitress itu. Memang dia akui, dengan ketampanan dan popularitas yang dimiliki Nicholas, sudah pasti ada banyak wanita yang ingin dekat dengannya.


"Ternyata begini rasanya jika berjalan dengan orang populer." Ucap Celine.


"Tidak juga, hanya kebetulan saja." Nicholas tertawa mendengar ucapan Celine. "Ayo, kita lanjutkan makannya. Makanannya tidak akan enak kalau sudah dingin."


Celine mengangguk dan mereka kembali menikmati hidangan seafood yang tertata dimeja. Makanannya sangat lezat.


"Apa hidangan ini sesuai dengan seleramu?" Tanya Nicholas.


"Ya, aku sangat menyukainya." Jawab Celine sambil mengunyah makanan lezat yang ada didalam mulutnya.


Nicholas tersenyum menatapnya. "Syukurlah kamu menyukainya."


Setelah menikmati makan malam direstoran ini, Nicholas membawa Celine mengitari kawasan pantai untuk menikmati pemandangan laut yang sangat memanjakan mata.


Mereka berjalan di sepanjang jalan melewati pasar, kedai seafood, restoran, dan area bersantai keluarga serta dermaga.


Disepanjang jalan, mereka berdua hanya membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sesekali mata mereka saling bertemu, saling menatap tetapi tidak tau harus mengatakan apa. Hanya ada rasa kikuk diantara mereka berdua.


Hingga akhirnya langkah mereka berhenti disebuah tempat pejalan kaki untuk bersantai dan duduk memandangi pelabuhan yang tidak jauh dari sana.


Celine dan Nicholas duduk dikursi taman sambil menatap laut yang luas di depan mata.


"Malam yang indah." Nicholas berkata sambil memejamkan mata dan menghirup udara malam yang berhembus dari lautan.


Celine tersenyum menatap wajahnya yang tampan dari samping. "Ya, sangat indah. Langit malam juga cerah."


Nicholas membuka matanya dan menoleh kearah Celine yang duduk disampingnya. "Besok aku kembali ke London, aku harap kamu bisa menjaga dirimu baik-baik selama tidak ada aku."


"Tentu saja. Aku akan menjaga diriku dengan baik." Celine tersenyum pada Nicholas yang kini juga tersenyum kepadanya.


Rasanya banyak pertanyaan yang ingin Celine tanyakan pada Nicholas tentang dirinya, tapi lidahnya terasa kelu. Aura yang ada pada diri Nicholas begitu kuat membuatnya tidak berani menanyakan tentang pribadinya.


Nicholas menatap Celine dengan tatapan dalam, seolah sepasang matanya yang biru bak batu sapphire itu menariknya ke dalam dunianya. Timbul rasa ingin taunya terhadap pria yang kini ada dihadapannya.


Nicholas mampu membuatnya tertarik ke dalam kehidupannya yang sepertinya sulit untuk dijamah.


"Satu lagi, jangan ceroboh, dan jangan terlalu larut dalam masalah dan kesedihan. Tidak baik untukmu. Kamu masih terlalu muda dan masih banyak yang dapat kamu lakukan di masa depan. Cobalah membuka hati untuk orang lain, agar kamu tidak lagi merasa kesepian."


Celine tersentak mendengar ucapan Nicholas yang panjang lebar. Celine merasa, sepertinya Nicholas sangat tau tentang dirinya, atau itu hanya perasaannya saja?


Celine akui, pria tampan yang ada dihadapannya ini menyimpan banyak kelembutan di balik sikap dinginnya yang mendominan.


...***...