Love Story In Paris

Love Story In Paris
#44



Wajah wanita muda itu tertutup oleh rambut panjangnya sambil menangis memeluk erat Isabella. "Akhirnya kamu ketemu juga, sayang."


Isabella yang berada dalam pelukan wanita muda itu pun memanggilnya. "Mommy..."


Nicholas tercengang melihat dan mendengar Isabella memanggil wanita muda itu dengan sebutan 'mommy'.


Di dalam pikiran Nicholas sosok mommy Isabella adalah wanita yang sudah berumur sekitar 35 sampai 40 tahun. Tetapi dugaannya salah. Ternyata sosok mommy Isabella adalah seorang wanita yang masih terlihat sangat muda dan berkelas. Itu menurut penilaian Nicholas. Meski belum melihat wajahnya secara langsung, tetapi pakaian yang dipakai wanita itu terlihat simpel dan seperti keluaran brand ternama.


"Sayang, kamu ke mana saja? Mommy terus mencarimu, mommy sangat mengkhawatirkanmu."


Wanita muda itu berbicara sambil mengusap wajah dan rambut Isabella. Dia melakukan gerakan yang sama berulang kali.


Nicholas, Felix dan James terpaku melihat adegan antara ibu dan anak yang sedang berjongkok di hadapan mereka.


"Aku tidak kemana-mana, Mom. Aku hanya bersama Daddy." Isabella menjawab sambil menunduk.


"Daddy?" Tanya wanita itu dengan suara keras, lalu dia melihat Isabella dari atas hingga bawah, ada bekas luka yang telah diobati terlihat olehnya di bagian lutut dan kedua telapak tangannya. Wanita itu semakin gusar melihat anaknya yang terluka. "Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa terluka begini?"


"Aku terjatuh karena tadi mengejar Daddy." Jawab Isabella dengan suara renyahnya sambil mengangkat tangan kanannya menunjuk ke arah Nicholas yang masih berdiri di dekat mereka.


Wanita muda itu kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata, "Maaf, Tuan. Putriku..."


Tiba-tiba dia menghentikan ucapannya begitu melihat wajah Nicholas. Mata mereka saling bertemu dan mereka saling menatap.


Nicholas sangat terkejut dan tidak menyangka ternyata Celine adalah mommy dari Isabella, gadis kecil yang pernah dia tolong di London waktu itu.


"Tuan Nicholas?" Celine menatap Nicholas dengan wajah terkejut.


Nicholas tersenyum canggung padanya. "Nona Celine."


"Waaah, rupanya Nona Celine juga ada di sini." James menyela mereka.


Dia melangkah maju, berjalan ke hadapan Nicholas, menghalangi pandangannya dan Celine. Dia memang selalu begitu saat bertemu dengan wanita cantik yang dia kenali.


James kemudian mengulurkan tangannya dan berkata, "Bagaimana kabar Anda hari ini, Nona Celine."


"Kabarku baik, Tuan James." Celine bangkit berdiri dan menjabat tangan James, lalu dia menoleh pada Felix yang masih berdiri diam di tempatnya. "Hallo, Dokter Felix."


Felix menganggukkan kepala. "Hallo, Nona Celine."


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu bersama seperti ini." Celine tersenyum.


"Nona Celine, apa Isabella adalah putrimu?"


Celine menunduk dan melihat Isabella yang berdiri di sampingnya, lalu tersenyum. "Iya, Isabella adalah putriku."


"Waaah, kebetulan sekali kamu bertemu dengan ibu dan anak sekaligus, Nic." James tertawa lalu menunjuk ke mereka satu persatu. "Daddy, Mommy, dan Isabella, pas sekali."


Nicholas hanya diam dan menatap James yang sedang tertawa membuat lelucon memalukan dengan tatapan tajam.


James langsung terdiam ketika menyadari bahwa Nicholas sedang menatapnya tajam. Sedangkan Felix hanya tertawa kecil mendengar lelucon yang dibuat oleh James.


"Tuan James hari ini terlihat berbeda daripada saat memakai jas, dan sangat pintar membuat lelucon." Celine tertawa ringan menanggapi ucapan James yang membuat wajahnya memerah karena malu.


James tersenyum canggung, lalu berbicara sekaligus berpamitan pada Nicholas. "Oh iya, Nic. Kami pergi dulu. Jangan lupa susul kami jika ada waktu."


Selesai berbicara, James langsung menarik Felix pergi berlalu meninggalkan Nicholas, Celine dan Isabella.


Saat mereka sama-sama terdiam cukup lama, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya yang mendekat ke arah mereka.


"Nyonya Celine, aku tidak menemukan–" Ucapannya terhenti ketika melihat Isabella yang berdiri di samping Celine sambil memeluknya, kemudian segera mempercepat langkahnya dan memeluk Isabella dengan erat. "Isabel sayang, akhirnya kamu sudah ditemukan. Kamu membuat nenek sangat cemas."


"Nenek jangan cemas lagi. Ada daddy di sini bersama kita." Isabella berbicara sambil memegang wajah Nenek Aida yang masih memeluknya.


"Anak pintar." Nenek Aida kembali memeluk Isabella, tak lama kemudian dia melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Nicholas. Dia bangkit berdiri dan menyapa Nicholas dengan tersenyum lebar. "Tuan..."


Nicholas tersenyum membalas sapaan Nenek Aida yang sudah berdiri di hadapannya.


Kemudian Nenek Aida memperkenalkan Nicholas pada Celine. "Nyonya, Tuan inilah yang telah membantuku dan Isabella waktu itu di London. Beliau juga yang mengurus semua pengobatan Isabella di rumah sakit."


Celine kembali menatap Nicholas dengan tatapan yang sulit dimengerti. Tatapannya terhadap Nicholas antara kaget, terpukau, dan canggung. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Celine kemudian tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih banyak atas semua kebaikan Tuan kepada putriku."


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan." Pamit Celine.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Setelah Celine, Isabella dan Nenek Aida hendak pergi, tiba-tiba Isabella menangis dengan kencang. Mereka sampai terkejut melihat Isabella mengeluarkan suara tangisannya yang memekakkan telinga, seperti sedang mencari perhatian.


Celine bertanya dengan wajah bingung. "Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"


"Aku ingin pulang bersama Daddy..." Jawab Isabella dengan air mata yang berlinang.


"Tapi Uncle ini bukan Daddy, sayang. Uncle ini rumahnya jauh dari rumah kita."


Isabella semakin mengeraskan suara tangisannya sambil meronta-ronta. "Dia Daddyku...Daddyku, Mommy..."


Nicholas merasa tidak tega melihat Isabella menangis seperti itu di hadapannya. Gadis kecil itu seperti tidak ingin berpisah dengannya.


Nicholas kemudian berjongkok di hadapan Isabella dan memeluknya sambil membujuknya. "Sayang, jangan menangis lagi. Ini Daddy. Kamu pulang dulu bersama Mommy ya."


"Aku tidak mau pulang jika tidak bersama Daddy..."


Nicholas menoleh pada Celine yang sedang menatapnya memeluk Isabella dengan wajah sedih. Mungkin dia sangat sedih melihat putrinya yang sangat menginginkan seorang daddy. Nicholas kembali menoleh pada Isabella yang sedang mengalungkan kedua tangannya di lehernya. Dia kembali membujuknya. "Sayang, sekarang kamu pulang dulu, besok kita akan bertemu lagi."


Seketika tangisan Isabella berhenti seolah mendapatkan sebuah harapan. "Benarkah?"


Nicholas tersenyum sambil menghapus air matanya dengan ibu jari. "Benar, sayang. Besok Daddy akan datang menemuimu."


"Daddy tidak boleh berbohong lagi padaku..." Isabella berkata dengan sedih karena masih mengingat ketika Nicholas tidak datang lagi menemuinya waktu itu hingga saat ini mereka baru bertemu kembali.


Nicholas kembali memeluk Isabella, mengusap punggungnya dan berkata, "Tidak, sayang. Daddy tidak akan lagi berbohong pada Isabella."


"Janji?"


"Janji. Sekarang Isabella pulang dulu bersama Mommy."


"Baiklah."


Nicholas mencium puncak kepala Isabella lalu membelai rambutnya. "Anak pintar."


Dengan wajah gembira, Isabella menarik Celine dan mengajaknya pergi. "Ayo Mommy kita pulang sekarang! Daddy sudah berjanji akan menemuiku besok." Isabella kemudian melambaikan tangannya pada Nicholas dengan senyum bahagia. "Bye-bye, Daddy..."


"Bye-bye." Nicholas membalas lambaian tangan Isabella.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Tuan Nicholas. Kami pergi dulu." Celine berpamitan pada Nicholas dan berlalu pergi.


Sedangkan Nicholas masih berdiri diam sambil menatap punggung mereka yang pergi hingga tidak terlihat lagi.


Hari semakin sore, langit di Kota Paris yang tadinya masih terang kini mulai berangsur gelap. Awan hitam telah berkumpul di atas seperti ingin hujan deras. Dan tak perlu menunggu lama, air hujan pun mulai berjatuhan dari langit.


Nicholas segera berjalan dengan langkah besar menuju mobilnya dengan segudang pertanyaan di benaknya. Setelah masuk ke dalam mobil Nicholas mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang. "Cari tahu tentang Celine, CEO dari Perusahaan Star Corp!"


Setelah menutup telepon, Nicholas segera mengendarai mobilnya keluar dari parkiran. Dia mengendarai mobilnya dengan santai sambil melihat kesekitar di kawasan tersebut yang masih ramai meski telah diguyur hujan.


Sebagian dari orang-orang yang ada di kawasan ini berlalu lalang melintasi jalan dengan payungnya. Juga ada dari mereka yang berteduh di pinggir jalan di depan pertokoan menunggu hujan reda.


Saat Nicholas melewati beberapa toko yang ada di pinggiran jalan, dia melihat Celine, Isabella dan Nenek Aida sedang berteduh di depan toko yang ada di persimpangan jalan.


Nicholas menepikan mobilnya, membuka kaca mobil dan menyapa mereka. "Kalian mau ke mana?"


"Kami mau pulang, tapi tiba-tiba hujan deras. Kami sedang menunggu supir menjemput." Jawab Celine dengan sedikit berteriak. Karena hujan yang begitu deras membuat suaranya sulit didengar.


"Masuklah!" Nicholas menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobilnya.


Untung saja hari ini dia tidak memakai mobil sport yang hanya memiliki dua kursi saja, jadi dia bisa mengantar mereka pulang.


"Tunggu sebentar!"Nicholas mengambil payung yang ada di dashboard, lalu keluar dari mobil menghampiri mereka.


...***...