Love Story In Paris

Love Story In Paris
#35



Setelah makan malam berlangsung, mereka duduk bersama di ruang keluarga yang ada di dekat kolam renang mansion.


Mereka mengobrol, menceritakan berbagai topik dan lebih banyak mengobrol tentang bisnis.


Namun, di tengah-tengah perbincangan, Tuan Gabriel William tiba-tiba menanyakan Isabella kepada Celine. "Celine, bagaiamana kamu menjalani hari-harimu bersama Isabella?"


Celine sama sekali tidak merasa terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba Tuan Gabriel William. Sejak awal dia sudah menduga pasti akan ada perbincangan seperti ini. Dia tersenyum dan menjawab dengan tenang. "Kami menjalani hari-hari dengan baik."


"Kenapa kamu tidak memberitahu dari awal kepada kami, Celine?" Sahut Nyonya Anne William.


"Maaf Om, Tante, Kak David, aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini dari kalian. Hanya saja, saat itu aku benar-benar ingin sendiri. Kematian Kenzo membuatku sangat terpukul. Dan aku baru mengetahui bahwa aku hamil setelah Kenzo pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Aku juga tidak ingin membebankan orang lain dalam masalahku yang rumit. Jadi aku memilih untuk tidak menceritakannya kepada siapapun."


"Kamu benar-benar wanita tangguh, Celine. Aku kagum padamu." David William tersenyum memuji Celine.


"Terima kasih, Kak."


"Maksudku, jika kamu tidak keberatan Isabella tinggal bersama kami saja. Kamu pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu dan pasti tidak akan ada waktu untuk mengurus Isabella dengan baik."


Celine terdiam mendengar ucapan Nyonya Anne William yang menurutnya telah meremehkan kemampuannya dalam mengurus Isabella. Ucapannya juga seolah-olah ingin mengambil Isabella darinya. "Maaf, Tente. Aku masih sanggup mengurusnya sendiri."


"Tapi Celine, kami hanya ingin membantu untuk meringankan bebanmu." Sahut Tuan Gabriel William.


Tiba-tiba tubuh Celine gemetar mendengar ucapan sepasang suami istri ini yang menganggapnya begitu lemah. "Maaf, Om. Sedikit pun aku tidak merasa terbebani mengurus putriku walaupun hanya sendirian."


"Celine, percayalah pada kami, kami akan merawat Isabella dengan baik."


Kini Celine mengerti maksud mereka mengajaknya makan malam bersama. Firasatnya benar, ada hal yang tidak mengenakkan terjadi. Mereka mengundangnya hanya untuk memintanya memberikan Isabella kepada mereka.


Ini semua tidak akan terjadi, Celine tidak akan pernah memberikan putrinya kepada orang lain, meskipun mereka adalah kakek dan neneknya sendiri.


Isabella adalah satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa dan sangat berharga baginya.


"Maaf, Om, Tante, Kak David, jika tidak ada hal penting lain yang akan dibicarakan, aku permisi dulu." Celine segera berdiri dan berjalan melewati koridor mansion diikuti oleh Jessica.


Celine merasa menyesal telah datang ke sini malam ini. Mereka mengundangnya hanya untuk mendapatkan apa yang mereka mau. 'Aku Celine Yovella Wijaya, tidak akan pernah memberikan putriku kepada siapa pun!'


...


Keesokan harinya.


Hari ini pekerjaan Celine di kantor sangat longgar, karena ada beberapa pekerjaan yang telah dia selesaikan lebih cepat dari deadline nya.


Celine duduk di kursi putar kantornya sambil mengamati Isabella yang sedang bermain di playground dari balik kaca. Terlihat gadis kecil itu sangat riang bermain sendiri dengan permainan yang telah disediakan untuknya.


Sedangkan Bibi Aida yang semakin hari semakin menua, hanya mengawasinya sambil duduk di dekatnya.


Ada rasa kasihan dalam diri Celine melihat Isabella yang selalu bermain sendirian. Dia pasti merasa kesepian, atau dia pasti ingin merasakan bisa bermain bebas di luar ruangan seperti anak-anak pada umumnya. Tetapi Celine lebih khawatir lagi dengan kondisi putrinya.


Isabella masih asik bermain di playground, sesekali dia melambaikan tangannya menyapa Mommynya. Celine tersenyum dan membalas lambaian tangannya.


Senyuman di bibir Isabella mampu menghilangkan rasa lelah dan stress nya seusai bekerja.


Celine memperhatikannya bermain cukup lama, hingga suara ketukan pintu ruangan dari luar mengganggunya.


"Selamat sore, Celine."


Tiba-tiba David William muncul dari balik pintu ruangannya.


"Kak David." Celine bangkit berdiri menyapanya dengan wajah sedikit kaget. "Kenapa kakak kemari? Apa ada perlu denganku?"


"Apa kamu tidak mempersilakan aku duduk dulu, Celine?"


"Oh maaf, Kak. Aku tidak bermaksud tidak sopan. Silakan duduk, Kak!" Celine mempersilakan David William duduk sebelum dirinya kembali duduk di kursi putarnya.


David William yang duduk di kursi di seberangnya menatap ke arah Isabella yang sedang bermain di playground. Dia memperhatikan Isabella cukup lama dengan tatapan yang sulit dimengerti. Lalu dia membuka pembicaraan. "Celine, sore ini pulang denganku saja. Aku akan mengantar kamu dan Isabella pulang setelah makan malam."


"Setelah makan malam?" Celine mengerutkan keningnya.


"Iya. Aku datang kemari selain untuk menjemputmu, juga ingin mengajakmu makan malam bersama."


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa. Hari ini aku harus cepat pulang karena membawa Isabella." Celine berusaha menolak ajakan David William.


Entah kenapa, sejak awal Celine tidak menyukai David William. Dulu, dia hanya sekedar mengenalnya, dan sikapnya masih terkesan biasa. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat sering datang ke kantornya untuk mengunjunginya, itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Bahkan sikapnya terkesan aneh, karena sebelumnya dia tidak pernah datang ke kantornya.


Tapi setelah Celine kembali dari London dan menetap di Paris, dia malah rajin datang ke Star Corp, meskipun tidak ada hal yang penting.


"Celine, jangan menolakku. Aku hanya ingin makan malam bersamamu dan Isabella, keponakanku." David William tersenyum kepadanya.


Karena David William juga ingin mengajak Isabella makan malam, Celine merasa lega. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja David William hanya ingin dekat dengan keponakannya.


Setidaknya, Isabella memiliki uncle yang akan selalu menjaga dan memperhatikannya. Celine menerima ajakan David William. "Kalau begitu, baiklah, Kak."


David William tersenyum lebar kepada Celine. Dia terlihat senang saat Celine menerima ajakannya untuk makan malam bersama Isabella. Dia menunggu Celine di dalam kantornya hingga jam pulang kantor tiba. Tidak banyak hal yang mereka bicarakan selama berada di dalam kantor.


Celine kembali memeriksa berkas-berkas, sedangkan David William sibuk membaca buku yang dia ambil dari rak buku.


Satu jam kemudian, semua pekerjaan Celine selesai. Bibi Aida juga sudah selesai memandikan Isabella dan mengganti pakaiannya setelah seharian bermain di playground.


Celine berjalan keluar dari ruangan kantornya sambil menggandeng tangan kecil Isabella. Sedangkan David William mengikuti mereka dari belakang.


...***...