
Nicholas yang dari tadi hanya diam melihat tingkah Caroline yang kekanak-kanakan, dia tidak bisa diam lagi. Nicholas melepaskan pegangan Caroline di pergelangan tangannya. "Carol, berhenti bertingkah seperti anak kecil! Kamu sudah membuat takut Isabella. Kalaupun aku punya anak, apa salahnya? Sudahlah, aku ingin makan. Aku menyesal telah meminta bantuan Felix untuk merawatku."
Hati Celine seketika menghangat mendengar ucapan Nicholas yang secara tidak langsung mengatakan Isabella adalah anaknya.
Nicholas kemudian berjalan melewati Caroline sambil meraih tangan Celine mengajaknya ke dapur yang tidak jauh dari ruang tengah Villa ini.
"Apa yang kamu bawa?" Nicholas bertanya pada Celine sambil menatap kotak bekal yang ada di tangan Celine saat mereka sudah sampai di dapur.
"O-oh, ini..." Celine mengangkat kotak bekal yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja. "Aku membuatkan sup daging untukmu. Semoga kamu menyukainya."
Nicholas tersenyum pada Celine sambil menarik kursi dan mendudukkan Isabella di pangkuannya. "Oke, mari kita makan siang bersama."
"Kalau begitu, aku akan mengambilkan peralatan makan dulu." Celine segera bergerak ke lemari dapur mencari peralatan makan, tetapi dia tidak menemukannya.
Tanpa Celine sadari, Nicholas sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan, lalu berkata padanya. "Peralatan makannya ada di sini."
Nicholas membuka lemari yang tidak jauh dari Celine berdiri dan mengambil beberapa peralatan makan.
Saat ini, jarak mereka berdua sangat dekat bahkan mungkin dua sampai tiga centimeter lagi, tubuh Celine akan menyentuh tubuh Nicholas yang tinggi itu. Keadaan ini sangat membuat Celine gugup jika mengingat kembali kejadian yang terjadi siang kemarin.
Nicholas kemudian membalikkan tubuhnya sambil membawa beberapa peralatan makan ke atas meja.
Namun, saat Celine membalikkan tubuh, kehadiran Caroline yang sangat tiba-tiba di meja makan membuatnya lebih terkejut lagi.
Caroline menatap Celine dengan sinis dan berkata, "Aku juga ingin makan."
Nicholas tidak menanggapinya, dia sibuk dengan peralatan makan Isabella.
Sedangkan Celine kembali meraih piring yang ada di dalam kemari untuk diberikan pada Caroline.
Akhirnya mereka makan bersama dalam satu meja.
Celine menghidangkan nasi dan sup di atas meja, lalu mengambilkannya untuk Nicholas dan Isabella.
Namun, Caroline kembali berulah. Dia meminta Celine mengambilkan makanannya sambil mengulurkan piringnya tanpa menyebut nama Celine. "Punyaku!"
Nicholas langsung menatapnya dengan tatapan dingin, tetapi Caroline tidak mempedulikannya. Dia kembali berkata sambil menatap Celine. "Hey, punyaku!"
Celine bangkit berdiri dan hendak mengambilkan makanannya untuk Caroline.
Tetapi Nicholas langsung menahan tangannya, dan berbicara pada Caroline dengan wajah geram. "Carol, kamu bisa mengambilnya sendiri! Apa selama sekolah di luar negeri kamu tidak diajarkan etika?" Kemudian Nicholas menoleh pada Celine. "Duduklah dan lanjutkan makannya!"
Celine kembali duduk dan melanjutkan makannya.
Caroline dengan wajah kesal mengambil makanannya sendiri dan duduk diam di hadapan Celine.
Mereka menikmati makan siang dengan tenang, namun Caroline selalu bertingkah kekanak-kanakan. Saat mereka sedang makan, dia beberapa kali menuangkan sup ke dalam mangkuk Nicholas. Dia melayani Nicholas seolah dia adalah nyonya rumah dan telah memasak untuk mereka.
Celine hanya bisa diam menahan emosi melihat tingkah Caroline yang selalu mencari perhatian Nicholas.
Setelah makan siang, Caroline kembali ke ruang tengah untuk duduk dan menonton TV.
Celine membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.
Isabella masih duduk di meja makan sambil menikmati buah strawberrynya.
Sedangkan Nicholas tengah sibuk dengan ponsel di tangannya menelpon Dokter Felix. "Felix, tolong jemput adikmu, aku sudah sembuh. Jika dia lebih lama di sini, bisa-bisa dia membuatku semakin sakit!"
Dokter Felix Christian datang untuk menjemput Caroline, adiknya. Dia tidak bisa berlama-lama di Villa Nicholas, karena ada jadwal prakteknya sore ini.
"Kakak, aku tidak ingin pulang!" Caroline b berusaha melepaskan genggaman tangannya Felix, kakaknya.
"Sudah, ayo ikut aku!" Felix menarik tangan Caroline, adiknya dan berpamitan pada Nicholas. "Nic, aku pamit dulu ya." Felix menepuk ringan pundak Nicholas, kemudian menoleh ke arah Celine yang sedang duduk di sofa ruang tengan Villa. "Nona Celine, aku pamit dulu."
Celine tersenyum pada Dokter Felix yang sudah berdiri di ambang pintu. "Hati-hati di jalan, Dokter Felix."
"Hati-hati di jalan. Carol, terima kasih sudah merawatku, bye bye." Nicholas segera menutup pintu Villanya, kemudian berjalan ke arah Celine.
Celine yang sedang duduk bersama Isabella menonton cartoon berpura-pura tidak melihatnya. Dia masih merasa kesal dengan tingkah Caroline yang kekanak-kanakan itu. Dia juga tidak suka dengan sikap agresifnya pada Nicholas. Terlebih lagi caranya menghardik Isabella tadi. Celine tidak suka melihat gayanya yang arogan itu, benar-benar sangat berbeda dengan Felix, kakaknya.
Nicholas telah duduk di samping Celine dengan posisi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menyilangkan kakinya. Dia meletakkan tangan kanannya di belakang sandaran Celine, lalu berbicara mendekatinya. "Kenapa kamu masih cemberut?"
Sebelum Celine menjawab, Isabella telah lebih dulu bergerak dan duduk di tengah-tengah mereka. "Daddy."
"Ya, sayang."
"Apa aku boleh memainkan puzzle ini di sana?" Isabella menunjuk ke arah lantai yang ada di balik sofa.
Nicholas tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, sayang."
Isabella pun langsung meluncurkan tubuhnya turun dari sofa, lalu berjalan ke arah belakang sofa dengan sekotak puzzle di tangannya.
Nicholas menoleh memperhatikan Isabella sampai gadis kecil yang menggemaskan itu telah duduk di lantai dan memainkan puzzlenya.
Nicholas kembali mendekatkan tubuhnya pada Celine, dan berbisik. "Kenapa kamu masih cemberut? Apa kamu cemburu?"
Celine membelalakkan matanya menatap Nicholas sambil melipat kedua tangannya di dada. "Siapa yang cemburu? Aku hanya tidak suka melihat sikapnya!"
"Tenang saja, dia bukan siapa-siapaku. Caroline adalah adik Felix. Saat aku meminta Felix datang untuk mengobatiku, dia malah mengirim adiknya ke sini." Nicholas mencoba menjelaskan.
"Aku tidak peduli." Jawab Celine dengan acuh tak acuh sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Nicholas tersenyum dan menyentuh dagu Celine agar menoleh padanya. "Celine, yang aku suka itu bukan dia, tapi kamu."
Celine kembali terbelalak menatap Nicholas dengan tidak percaya. "Tuan Nicholas Emmanuel, kamu jangan bercanda. Aku ini seorang wanita dengan masa lalu yang kelam. Aku juga sudah memiliki seorang anak, jadi tidak mungkin bersamamu atau pria manapun. Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih pantas untukmu."
"Lalu apa masalahnya dengan punya anak? Setiap orang akan mempunyai anak." Nicholas menatap Celine dengan tatapan hangat. "Aku tidak peduli seberapa kelam masa lalumu, aku hanya ingin berada di masa sekarang dan masa depanmu."
Celine menghela nafas, masih tidak percaya. "Tuan Nicholas, kamu tidak mengenalku."
"Aku sudah mengenalmu."
Celine semakin gugup. "A–aku...kamu tidak tahu bagaimana aku."
"Kalau begitu, coba ceritakan bagaimana kamu." Ucap Nicholas dengan santai.
Celine terdiam sejenak, lalu berkata, "Ceritanya panjang. Jika kamu mendengarnya, kamu akan bosan."
"Ceritakan saja, aku akan mendengarkan ceritamu meski harus mendengarnya hingga beberapa hari ke depan, aku punya banyak waktu luang untukmu."
Celine sampai menepuk keningnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Otaknya terasa buntu dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menolak Nicholas.
...***...