
"Apakah makanannya tidak sesuai dengan seleramu?"
Mendengar suara dari David William membuat Celine tersadar dari lamunannya. Dia menggelengkan kepala dan tersenyum canggung. "Tidak, kak. Makanannya sangat lezat, aku menyukainya."
David menoleh ke luar jendela kaca dan melihat masih ada kapal pesiar yang sedang berlayar dengan indah di lautan.
"Apa kamu masih teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu yang menewaskan Kenzo?" David William bertanya seolah-olah dia tahu apa yang dilamunkan oleh Celine.
"Ingat itu pasti, kak. Tapi aku sudah terbiasa dan bisa menangani perasaanku." Celine tersenyum dan menyuapi sepotong daging ke mulutnya sendiri.
David William tersenyum. "Syukurlah kalau begitu." Dia mengunyah makanan yang ada di mulutnya, lalu kembali bertanya. "Bagaimana dengan keadaan Isabella?"
"Dia baik, kak. Aku berencana ingin mendaftarkan dia sekolah agar dia bisa berteman dengan anak-anak lainnya."
"Itu sangat bagus. Agar dia juga bisa beradaptasi dengan orang lain."
"Iya." Celine mengangguk.
David William masih memainkan garpu dan pisaunya memotong daging, kemudian mengambilkan makanan dan menaruhnya di piring Celine sambil berkata, "Makan yang banyak, kamu terlihat jauh lebih kurus dibanding ketika masih muda."
"Aku masih muda, kak." Celine tersenyum.
David William tertawa. "Aku juga tidak bilang kamu tua. Tapi sekarang, kamu terlihat jauh lebih cantik daripada kamu yang dulu."
"Terima kasih, kak." Celine tersenyum canggung, lalu menunduk melanjutkan makannya.
"Celine." David William memanggilnya, dan Celine kambali mengangkat kelapa melihatnya. David tersenyum dan berkata, "Apa kamu tidak berpikir untuk membuka hati untuk orang lain?"
Celine menggelengkan kepala. "Aku belum berpikiran hingga ke sana, kak."
"Jika kamu ingin memberikan Isabella seorang Daddy, aku bersedia bersamamu. Aku menyukaimu, Celine."
"Uhuk, uhuk!" Tiba-tiba Celine tersedak makanan yang sedang dikunyahnya ketika mendengar ucapan David William yang terlalu berterus terang. Ucapannya membuat Celine sangat terkejut.
Celine langsung meraih segelas air putih yang ada di depannya dan meminumnya, lalu menyeka bibirnya dengan tissue.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya David William dengan wajah cemas.
Celine tersenyum canggung dan mengangguk. "Aku baik-baik saja, kak."
"Celine, maaf karena aku terlalu tergesa-gesa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Tapi aku juga bukan tipe pria yang suka berbasa-basi. Dan menurutku, mengungkapkannya lebih cepat, itu lebih baik. Lagi pula, Isabella pasti sangat membutuhkan sosok seorang Daddy. Aku adalah kakak dari ayah kandungnya, dan aku bersedia menjadi Daddynya."
Celine terdiam mendengar ucapan David William yang panjang lebar. Ucapannya yang kembali sangat berterus terang ini membuatnya mematung, lidahnya juga terasa kelu dan otaknya menjadi buntu, karena tidak bisa memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan kepada David William.
Isabella mungkin memang sangat membutuhkan sosok seorang Daddy, tapi buka dia tipe Daddy Isabella. Lagi pula, Celine juga tidak menyukainya.
Saat Celine terdiam, ponselnya di dalam tas berbunyi. Dengan segera Celine membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
Melihat nama 'Si Mata Biru' di layar ponsel mengingatkannya pada janji Nicholas yang akan menjemputnya pulang sore ini.
Celine benar-benar lupa bahwa Nicholas akan menjemputnya sepulang dari kantor. Mungkin, sore tadi Nicholas sudah datang ke kantor, tapi tidak menemukannya.
"Hallo..." Celine menjawab telepon dari Nicholas dengan sangat hati-hati.
"Celine, kamu di mana? Tadi aku menjemputmu di kantor, tapi kamu tidak ada."
"Maaf, aku lupa."
"Aku juga mengirim pesan kepadamu, apa kamu tidak membacanya?" Nicholas berbicara dengan suara berat.
"Sekarang aku sedang bersama Isabella di apartemenmu. Kamu sedang ada di mana?"
Celine tertegun mendengar Nicholas ada di apartemennya bersama Isabella saat ini. Dia tidak menyangka jika Nicholas bakal datang ke apartemennya mencarinya. "A–aku sedang makan malam di restoran Italia."
"Makan malam? Dengan siapa?"
"Kak David."
David William menatap Celine lama dan memperhatikannya. Dia menggerakkan bibirnya memberi isyarat pertanyaan, "Telepon dari siapa?" Celine hanya menggelengkan kepala tidak menjawab.
"Aku akan menjemputmu." Nicholas berbicara dengan suara rendah dan penuh penekanan. Lalu dia memutuskan sambungan teleponnya dengan tiba-tiba.
Celine mengerutkan dahinya menatap pada layar ponsel yang telah mati. Dia merasa sedikit kesal karena Nicholas memutus sambungan teleponnya secepat itu.
Sepertinya pria itu sedang marah karena Celine tidak ada saat dia menjemputnya, juga tidak membalas pesannya.
"Dari siapa?" Tanya David William sambil mengangkat alisnya.
Celine tersenyum canggung dan menjawab, "Teman."
"Oh..." David William mengangguk, kemudian melanjutkan makannya.
Setelah makan malam bersama, Celine dan David William keluar dari restoran sambil melanjutkan perbincangan ringan menuju ke parkiran mobil.
Saat mereka sudah sampai di parkiran mobil, Celine melihat ada sebuah mobil sport yang sangat dia kenal telah terparkir di halaman restoran. Kemudian dari dalam mobil itu keluar sosok Nicholas Emmanuel sambil menggendong Isabella.
"Mommy!" Suara teriakan Isabella yang renyah terdengar nyaring.
Celine melambaikan tangannya ke arah Isabella sambil tersenyum. Dia tidak menyangka jika Nicholas akan sampai secepat ini. Padahal, dia belum memberitahu alamat restoran ini kepadanya, dan tempat ini juga lumayan jauh dari apartemennya.
Nicholas berjalan ke arahnya dengan wajah datar. Wajahnya yang terlihat kaku mengeluarkan aura dingin.
Celine menoleh pada David William yang berdiri di sampingnya. David William hanya diam menatap ke depan melihat Nicholas yang sudah berada di hadapan mereka.
Tatapan kedua pria itu saling bertemu, namun sangat sulit untuk Celine pahami. Celine merasa suasana di sekiranya menajdi semakin dingin dan tegang dari sebelumnya.
"Mommy, kenapa Mommy belum pulang?" Suara Isabella yang manja memecahkan suasana.
Celine melangkah ke depan, menatap Nicholas yang masih dingin, lalu menyapanya. "Tuan Nicholas..."
Nicholas tidak menjawab sapaannya. Dia hanya sekilas meliriknya dengan tajam, kemudian kembali menatap ke depan, menatap pada David William dengan wajah dingin, tidak ada sedikitpun keramahan di wajahnya.
Begitu juga dengan David William yang juga memberi tatapan dingin pada Nicholas.
Melihat suasana yang sangat canggung ini, Celine berpura-pura tidak melihatnya. Dia kemudian memalingkan wajahnya dan tersenyum pada Isabella. "Malam ini, Mommy pergi makan malam dengan Uncle David. Ayo sapa uncle dulu,.sayang."
"Uncle..." Isabella pun patuh dan langsung menyapa David William dengan suara renyahny.
David William pun tersenyum ramah pada Isabella sambil melambaikan tangannya. "Hai, Isabella. Keponakan uncle sudah terlihat besar."
Celine mengangkat tangannya hendak mengambil Isabella dari gendongan Nicholas. "Sini Mommy peluk. Mommy rindu Isabella."
Namun, Isabella menggelengkan kepalanya sambil memeluk leher Nicholas seperti tidak ingin lepas, dan berkata. "Tidak. Aku digendong Daddy saja, Mom. Aku sudah berat."
"Daddy???" Mata David William terbelalak saat mendengar Isabella menyebut kata 'Daddy' pada Nicholas.
...***...