
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Nicholas pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Celine.
"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit demam dan kelelahan. Tapi kalau demamnya semakin naik, kamu segera hubungi aku."
"Oke."
"Kalau begitu, aku pamit dulu Tuan Nicholas."
"Biar, aku antar dokter sampai ke depan."
Celine mulai tersadar. Dia mendengar suara langkah kaki dan percakapan seorang pria dan wanita keluar dari ruangan yang Celine sendiri tidak tau dimana.
Dengan perlahan, Celine membuka matanya yang terasa berat. Begitu dia membuka mata, dia baru menyadari bahwa dia sedang terbaring di sebuah ranjang yang berukuran sangat besar juga terasa lembut dan harum.
Celine menatap sekeliling ruangan. Ruangan ini begitu besar, sangat minimalis dan bergaya Eropa. Semua furniture-nya terbuat dari kayu terbaik dengan model yang simple. Ruangan ini begitu wangi. Wangi yang tercium sangat maskulin dan fresh. Dan sepertinya Celine merasa familiar dengan Wangi yang khas ini.
Perlahan Celine mencoba bangun dari tidurnya, tapi tubuhnya terasa begitu lemas.
"Kamu sudah siuman?" Tiba-tiba Nicholas masuk dan menghampirinya. "Tidak perlu buru-buru bangun. Kondisimu masih lemah. Berbaringlah."
Celine terdiam sejenak, dia terpana melihat pria tampan yang ada dihadapannya.
Apa aku sedang bermimpi? Kenapa ada Nicholas?
Karena terkahir yang Celine ingat, Celine berada di dekat taman yang tidak jauh dari gedung kesenian. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Tuan Nicholas, sekarang ini aku ada dimana?"
Nicholas mengangkat sedikit sudut bibirnya. Senyum mahal yang mampu menghancurkan benteng pertahanan hati para wanita yang melihatnya. "Kamu sedang berada di Villaku. Tadi kamu tiba-tiba pingsan. Istirahatlah. Kamu akan aman disini, aku tidak akan mengganggu istirahatmu."
Nicholas menyelimuti Celine kemudian membalikkan badan dan pergi keluar kamar.
Celine yang sedang tidak berdaya karena kondisinya masih lemah, sedikitpun dia tidak menolak. Meski hatinya ingin sekali pulang. Dia memejamkan matanya yang terasa panas, hingga dia terlelap kembali.
Celine mengernyitkan dahi saat melihat disekelilingnya sangat gelap. Tiba-tiba kakinya melangkah melintasi sebuah jembatan yang begitu panjang. Celine terkejut saat ada seseorang yang menggenggam tangannya. Celine menoleh dan melihat ternyata Kenzo yang menggenggam tangannya dengan membawa sebuah lilin sambil tersenyum kepadanya.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang Indah. Apa kamu mau ikut denganku?"
Celine tidak tau apa yang dia rasakan saat melihat Kenzo berada disampingnya. Ada rasa bahagia, namun juga dia merasa kecewa.
Dia bahagia karena bisa bertemu kembali dengannya. Namun, dia juga merasa kecewa karen pria itu telah pergi meninggalkannya sendirian selama ini.
Perjalanan melewati jembatan ini terasa begitu lama. Tapi Celine sangat menikmatinya, karena Celine sudah begitu lama merindukan kehangatan genggaman tangan Kenzo yang membuat hatinya merasa aman.
Di tengah-tengah perjalanan, Celine melihat di ujung jembatan ini ada sosok seorang pria sedang berdiri seperti sedang menunggu seseorang. Celine tidak dapat melihat wajah pria itu. Tapi, postur tubuh pria itu begitu familiar.
Pria itu berdiri dan bersandar pada sisi tiang jembatan dan pria itu dipenuhi dengan cahaya yang begitu terang.
Setelah sampai diujung jembatan, Kenzo menghentikan langkahnya dan menatap Celine dengan hangat. Kenzo masih menggenggam tangan Celine dengan lembut, lalu meraih tangan pria yang sedang bersandar pada sisi tiang jembatan.
Kenzo menyatukan tangan Celine dengan tangan pria itu. "Honey, jangan menungguku lagi. Pergilah dengannya, kamu akan selamat sampai tujuan."
Seketika, Celine tersadar dan membuka matanya. Hal yang pertama dia dapati adalah Nicholas yang duduk disampingnya sedang mengompresnya.
Ternyata itu hanya mimpi.
Celine takut kalau kembali ke dalam mimpi yang sangat gelap tadi. Celine kemudian bangun dan duduk di atas tempat tidur. Dia menatap wajah tampan Nicholas yang sedang memegang handuk kecil dan tersenyum padanya.
"Tuan Nicholas, jangan tinggalkan aku karena aku sangat takut sendirian di tempat yang gelap." Pinta Celine dengan suara serak sambil merangkul lengan Nicholas.
Nicholas kembali tersenyum menatap Celine. "Tenanglah. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Nicholas menyentuh kepalanya lalu menyandarkan dibahunya.
Celine kembali teringat dengan mimpi buruknya dan tanpa dia sadari, tangan yang semula berada di lengan Nicholas kini telah melingkar di pinggangnya.
Celine mempererat pelukannya dan masuk kedalam dada bidangnya.
Nicholas mendekapnya dalam pelukan dan mengusap rambut panjang indahnya dengan lembut.
Dadanya yang bidang dan kuat, mempu memberikan kenyamanan yang selama ini Celine rindukan. Celine memeluknya begitu lama dan Nicholas juga tidak menolaknya. Hingga akhirnya Celine kembali tertidur dalam pelukan hangatnya.
Nicholas masih diam membiarkan sejenak wanita cantik ini tertidur dalam pelukannya. Baru kali ini, Nicholas memeluk seorang wanita selain ibunya. Dia juga baru kali ini peduli dengan seorang wanita selain pada ibunya. Dan wanita yang berada dalam pelukannya saat ini, mampu menyita perhatiannya yang selama ini tidak pernah dia berikan pada wanita lain yang datang kepadanya.
Nicholas tidak tau apa yang sedang dirasakan oleh Celine saat ini. Dia juga tidak tau apa yang terjadi hingga membuat wanita cantik ini terlihat sangat terpuruk seperti ini.
Nicholas juga tidak tau apa yang membuatnya selalu datang padanya disaat wanita ini sedang berada dalam keadaan kurang beruntung.
Yang Nicholas tau, saat ini Nicholas sangat peduli padanya.
...***...