
Nicholas mengendarai mobilnya dengan tenang melewati jalanan Kota Paris yang masih ramai. Masih terlihat banyak orang-orang berlalu lalang di trotoar pinggir jalan.
Celine tidak bertanya kemana Nicholas akan membawanya. Karena baginya, Nicholas sudah mau berbicara lagi dengannya, itu sudah membuatnya senang dan sedikit lega. Celine percaya, Nicholas sangat tahu kemana akan membawanya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Nicholas menghentikan mobilnya di kawasan tepi pantai, salah satu kawasan di Paris yang ramai setiap malamnya. Banyak orang memilih tempat ini untuk sekedar berkumpul bersama dengan pasangan, teman-teman, maupun orang-orang terdekat lainnya.
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menyusuri trotoar melewati orang-orang yang masih berlalu lalang.
Selama perjalanan dengan mobil hingga berjalan kaki bersama di trotoar ini, tak satupun kata keluar dari mulut mereka berdua. Mereka masih tetap membisu dalam suasana hati yang canggung.
Celine tidak tahu harus mengatakan apa. Kejadian manis tadi masih terlintas di benaknya. Meski mereka terdiam seribu bahasa, tetapi berjalan bersama Nicholas membuatnya merasa sangat nyaman.
Saat sudah berjalan cukup jauh di atas trotoar, Nicholas meraih tangan Celine dan menggenggamnya berjalan di sepanjang jalan yang merupakan distrik perbelanjaan dan kehidupan malam di sana. Genggaman tangannya yang erat mampu menghangatkan hati Celine.
Mereka berjalan kaki di sepanjang jalan yang diterangi lampu neon. Melewati tempat makan santai dan toko-toko lokal yang eklektik sepanjang jalan.
Mereka terus berjalan hingga ke ujung jalan, melintasi zebracross yang panjang, yang menghubungkan beberapa ruas jalan, lalu menyusuri pedestrian pinggir laut yang ada di sana dan akhirnya Nicholas menghentikan langkahnya.
"Apa kamu sudah lelah?" Tiba-tiba Nicholas mengeluarkan suaranya setelah berjalan jauh bersama, dan Celine hanya mengangguk menanggapinya.
"Kita duduk di sana." Nicholas menunjuk ke arah kursi taman yang ada di sudut sana.
Mereka duduk bersama menikmati keindahan malam di pinggir pantai.
Terasa semilir angin dingin dari arah lautan menerpa kulit Celine. Dia memeluk tubuhnya sendiri, menyilangkan kedua tangannya dan mengusap-usapnya pada lengan agar terasa sedikit hangat.
Nicholas menoleh melihat Celine, lalu dia membuka jas yang dipakainya dan memakaikannya di tubuh Celine. "Pakailah. Ini akan menghangatkanmu."
"Terima kasih." Celine tersenyum padanya.
Mereka kembali terdiam cukup lama tanpa saling menatap.
Celine menatap lurus ke depan, ke seberang lautan lepas sana. Terlihat beberapa gedung pencakar langit masih memancarkan lampu terlihat indah.
"Pemandangannya sangat indah." Celine tersenyum menatap ke arah gedung di seberang lautan itu.
Nicholas menoleh kepadanya dan berkata, "Iya, kamu sangat indah."
Celine tertegun sejenak dan wajahnya terasa hangat mendengar ucapan Nicholas. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Saat wajahnya sudah terasa seperti semula, Celine baru menoleh pada Nicholas. "Tuan Nicholas, aku minta maaf untuk kejadian sore tadi. Aku benar-benar lupa kalau kamu ingin datang menjemputku." Ucap Celine dengan tulus.
"Apa dia lebih penting dariku?" Nicholas menanyakan kembali pertanyaan yang tadi pernah dia tanyakan pada Celine tanpa menoleh menatapnya.
Celine langsung menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah ucapan Nicholas. "Aku tidak bilang begitu."
Nicholas membalikkan badannya ke arah Celine, lalu menyandarkan lengannya di sandaran bangku taman menatap Celine. "Lalu kenapa kamu mengabaikan pesan dariku dan pergi bersamanya?"
"Tuan Nicholas, dia itu unclenya Isabella. Selain itu, dia juga rekan bisnisku."
Nicholas menghela nafas sambil memalingkan wajahnya sejenak, lalu kembali menatap Celine. "Aku tidak suka melihatmu bersamanya."
Celine kembali tertegun dengan mata lebar menatap Nicholas. Ucapannya sangat jujur, dia juga berbicara dengan wajah serius dan sedikit cemberut. Kali ini aura dinginnya berubah menjadi sedikit kekanak-kanakan, terlihat sangat lucu membuat Celine menjadi tertawa geli melihatnya.
"Kenapa tertawa?" Nicholas menatap Celine dengan tatapan dingin.
Celine seketika berhenti tertawa dan memberi sebuah senyuman. "Apa Tuan Nicholas sedang cemburu?"
Celine sedikit memiringkan wajahnya menatap wajah tampan Nicholas. "Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak suka! Dia itu jelas-jelas ada maksud mendekatimu."
Celine kembali tertawa melihat wajah Nicholas yang jelas-jelas terlihat cemburu sedikit cemberut dan sangat lucu. Meski begitu, dia tetap terlihat sangat manis.
Celine hanya tidak menyangka dengan sosok Nicholas Emmanuel yang awalnya dia kenal sangat dingin, bisa merajuk seperti ini.
Celine masih menatap Nicholas dari samping, sedangkan pria tampan bermata biru itu sudah kembali menghadap ke depan masih dengan ekspresinya yang dingin.
Mereka pun kembali saling diam dalam waktu cukup lama.
Celine tidak mengerti apa yang ada di benaknya. Haruskah dia mengalah dan membujuknya agar mereka bisa kembali berbaikan? Celine tipe wanita yang tidak memiliki keahlian dalam membujuk seorang pria. Karena dulu saat masih bersama Kenzo William, Kenzo yang selalu membujuknya.
Tetapi jika terus begini dengan Nicholas, akan membuat Celine merasa sangat tidak nyaman.
Celine menghela nafas panjang, mengumpulkan segala kekuatannya untuk mengalah. Lagi pula, sejak awal dia yang salah hingga membuat Nicholas marah kepadanya. "Tuan Nicholas."
"Hm."
"Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi berhentilah marah kepadaku."
"Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka kamu dekat dengannya. Dia ada maksud lain kepadamu."
Celine terdiam, tidak menanggapi perkataan Nicholas. Dia tahu jika David William memang ada maksud lain padanya. David William ingin bersamanya menggantikan Kenzo. Dan tadi pria itu juga sudah mengatakan maksudnya kepadanya, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Tetapi Celine tidak bisa sepenuhnya menjauhinya. Selain dia unclenya Isabella, dia juga rekan bisnisnya.
"Aku hanya ingin menjagamu, Celine." Nicholas berkata lagi.
Celine tersenyum menggoda Nicholas yang masih dingin. "Benarkah?"
Nicholas menoleh padanya dan berkata, "Aku hanya ingin menjagamu dan Isabella, kalian berdua sangat berarti bagiku."
Celine tertegun menatap Nicholas. Tiba-tiba matanya terasa panas dan tanpa sadar air matanya menetes di pipinya. Dia sangat terharu mendengar ucapan Nicholas yang sangat menyentuh.
Baru kali ini Celine menemukan seorang pria yang sangat tulus kepadanya dan Isabella. Tidak hanya mempedulikan dirinya saja, tetapi juga peduli pada Isabella, putrinya. Bahkan Nicholas sudah menganggap Isabella seperti putri kandungnya sendiri.
Celine langsung menghambur ke pelukan Nicholas membuat pria tampan itu tertegun melihatnya yang tiba-tiba memeluk dengan erat.
"Terima kasih, Tuan Nicholas." Ucap Celine dalam pelukan Nicholas yang hangat.
Nicholas tidak menjawab ucapan Celine, tetapi dia membalas pelukannya dan membelai rambutnya.
Ini untuk kesekian kalinya Celine sangat dekat dengan Nicholas.
Nicholas meletakkan dagunya di atas puncak kepala Celine, dan berkata. "Aku selalu cemas jika melihatmu dengan pria lain, Celine."
Celine melonggarkan pelukannya dan menghapus air matanya, lalu menatap wajah tampan Nicholas. "Kamu tidak perlu cemas, Tuan Nicholas."
Nicholas mengerutkan keningnya menatap Celine.
Celine kemudian tersenyum manis dan berkata, "Hatiku sudah menjadi milikmu."
...***...