LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 97. TAMU TAK TERDUGA



Maxime yang terlalu sibuk dengan jadwal kuliahnya akhir-akhir ini sedikit jarang berkomunikasi dengan Baby. Terlebih waktunya telah habis ia gunakan untuk mengirim Steffany berobat ke luar negeri dengan pengawalan yang ketat.


"Baby tunggu aku kembali, aku janji semuanya akan berjalan lebih baik setelah ini," ucap Maxime sambil melihat foto Baby di atas meja kerjanya.


Ia juga harus membersihkan nama baiknya dari jeratan kisah kasih dirinya dengan mantan istrinya Cherry dan Steffany. Hal ini ia maksudkan agar restu dari Michael tidak dicabut paksa setelah ini. Lagi pula kebahagiaan Baby menjadi prioritasnya saat ini.


๐Ÿ‚Kamar Baby.


Saat ini ia sedang memasukkan baju-baju miliknya yang akan ia gunakan ketika pergi ke Indonesia. Sesekali matanya melihat ke arah meja rias miliknya.


"Kapan kamu telpon sih?"


"Dek, ada telpon dari seseorang," teriak Michael dari ruang keluarga di lantai dua.


"Pasti itu dari dia," gumam Baby senang.


Tidak lama kemudian ia telah sampai di ruang keluarga. Di sana ia mendapati jika Michael sedang membaca buku.


"Hallo ...."


"Hai Baby, keluar yuk, boring nih di rumah aja."


"Tango, kenapa dia sih?"


"Iya, ini aku."


"Heh, dudul ... gue belum bilang kalau itu Lu, kok bisa tau aku mau ngomong apa?"


"Ha ha ha ... sudah terbaca dari rentang waktu kamu terdiam."


"Oh ... " jawab Baby malas.


"Jadi maukah kamu menemaniku?"


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara teriakan Neneknya Tango.


"Sorry Baby, nanti aku jemput jam tujuh ya, nggak ada penolakan. See you."


Tanpa menunggu jawaban dari Baby, seenak jidat Tango sudah menutup sambungan teleponnya.


"Dasar orang aneh!" gerutu Baby.


Michael menautkan kedua alisnya.


"Kenapa Dek, ada yang buat hati kamu nggak tenang?"


Baby mendengus kesal.


Michael menutup buku yang ia baca dan memandang Baby.


"Bikin rujak yuk, kayaknya enak deh."


Baby yang hendak berbalik menuju kamarnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Abangnya.


"Memangnya ada bahan-bahannya?"


"Belanja dulu, yuk!"


Baby mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu, "Oke."


Tidak berapa lama kemudian, keduanya sudah sampai di mini market. Mereka berbelanja beberapa keperluan mereka untuk membuat rujak khas Indonesia.


Saat di jalan, tidak sengaja ia melihat mobil sama persis seperti yang dipakai oleh Maxime sehari-harinya. Baby sampai memperhatikan dengan teliti mobil berserta isinya.


"Kok mirip dia sih, tapi masa iya udah di sini lagi, mana kemarin dia sedang menyelesaikan urusannya sama Steffany."


Michael sejak tadi memperhatikan arah pandang adiknya.


Beruntung sesaat kemudian mereka telah sampai di kediaman mereka, tetapi lagi-lagi Baby melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali terparkir rapi di depan rumahnya.


Belum juga Baby turun, pemilik mobil sport berwarna merah itu sudah keluar dari sana. Tampaklah seorang pemuda dengan motif baju floral sedang menuju pintu utama.



Michael yang ingat sosok dan proposional pemuda tersebut menajamkan pandangannya.


"Bukankah itu Tango?"


Baby menoleh ke arah Abangnya, "Iya."


"Mau apa lagi dia ke sini?"


"Emangnya dia pernah datang ke sini?"


"Belum pernah sih, udah jangan takut ada Abang di sini."


"Oke."


Mendengar ada suara mobil yang baru saja datang, Tango menoleh ke arah Baby lalu tersenyum ketika melihat Baby turun dari mobil.


"Mau ngapain kamu ke sini?"


"Kok galak amat sih, aku kan tamu."


Sesaat kemudian, Michael sudah berdiri di samping Baby.


"Selamat siang Kak."


"Siang, silakan masuk!" ajak Michael pada Tango.


"Terima kasih, Bang Mich."


"Jangan sok akrab, gue nggak suka SKSD!" ucap Michael sembari masuk ke dalam rumah.


"Tau SKSD nggak?" tanya Baby berhenti tepat di depan Tango.


Tango menggeleng cepat dan sukses membuat Baby tersenyum.


"SKSD itu sok kenal sok dekat."


Tawa Baby pecah ketika ia sudah sampai di dalam rumah. Sementara Tango yang dibuat bingung masih terdiam di depan pintu. Baby menoleh dan semakin menertawakannya.


"Katanya mau bertamu, tapi kok diem di situ, atau menunggu aku mengusirmu!"


"Eh, enggak aku masuk aja."


Sesaat setelah Tango masuk, pintu rumah segera menutup secara otomatis seperti terkena sensor alami.


"Keren bet, pintunya otomatis," batin Tango.


Michael yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu belum seberapa dibanding rumah calon adik ipar gue!"


.


.


Memangnya si Michael pernah datang ke rumah calon adik ipar, kok bisa mengatakan hal tersebut? Penasaran ... wajib ๐Ÿ˜†


Jangan lupa hari ini event GIVE AWAY berakhir, jangan lupa VOTE, Kopi atau Kembangnya ya.