
Setelah melewati perjalanan selama lebih dari sepuluh jam, kini mereka sudah sampai di Jakarta. Mobil yang menjemput mereka sudah bersiap di depan pintu kedatangan.
"Selamat datang Aden Mich."
"Selamat datang Nona Baby."
"Hai Pak Joko, apa kabar?" sapa Baby ramah terhadap supir keluarganya.
"Alhamdulillah kabar baik Non."
Setelah mereka berada di dalam mobil, mobil segera melaju menuju kediaman Keluarga Baby. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena Baby tidak suka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Hal itu mereka gunakan untuk menghindari trauma di dalam tubuh Baby.
Setelah kecelakaan itu, semuanya bisa terjadi apalagi luka bekas amputasi di kakinya saja sering kambuh apalagi ini. Begitulah pemikiran Mama Marrie dan Daddy Oreo. Sehingga semua peraturan itu akan berlaku selama Baby berada di sana.
"Suasana Ibu Kota masih sama seperti dulu ya, masih macet!" ucap Baby sambil memandangi jalanan yang di laluinya.
"Memangnya mau seperti bagaimana lagi? Mau nggak macet ya salah satu caranya dengan menghentikan proses jual beli mobil."
"Eh, benar juga ya, tetapi sepertinya hal itu nggak mungkin terjadi apalagi jaman sekarang semua orang lebih mementingkan gengsi daripada lingkungan."
"Bang, laper .... "
Tanpa berkata apa pun pada Baby, Michael langsung menyuruh supirnya untuk melajukan mobilnya ke sebuah tempat terfavorit Baby.
"Pak Joko, sebelum pulang mampir ke tempat makan yang biasa ya."
"Baik Den."
Mobil yang awalnya hendak menuju rumah langsung berbelok menuju rumah makan langganan Michael. Sebuah kedai aneka masakan Jogja yang sangat menggugah selera. Berada selama satu tahun di luar negeri membuat lidah Baby sangat merindukan masakan nusantara.
"Wow tau aja sih Bang, aku lagi pengen makan masakan Jogja," ucap Baby dengan berbinar.
"Kenapa kemampuan kamu semakin lama semakin menurun sih, disuruh cari tiket dan maskapai yang terbaik saja tidak becus!"
Jack hanya menunduk, pasrah dan menerima apa pun konsekuensi yang ia dapatkan. Lagi pula ia tidak bisa berharap banyak, melainkan memberikan pelayanan yang terbaik agar semua keinginan bosnya tercapai, tapi apalah daya tangan tak sampai membuatnya harus berusaha lebih keras lagi.
"Bos silakan diminum, sabar, nanti kerutan bertambah loh!"
Mendengar kata kerutan, Maxime menoleh tajam ke arah Jack, "Mau aku kirim ke Afrika atau aku kirim ke Antartika buat menemani penguin!"
"Ha'ah, nggak mau dua-duanya bos, saya belum menikah," ucapnya sambil tertunduk.
Sekali lagi ucapan Jack membuat amarah di hatinya memuncak.
"Cepat bawakan aku jus segar, non pengawet, dan satu lagi gulanya rendah kalori."
"Baik bos."
Setelah itu ia pun segera memberikan permintaan bosnya daripada mendapatkan amarah Maxime untuk kedua kalinya.
"Perasaan selama aku mengabdi pada Tuan Besar tidak seperti ini, tetapi sejak Tuan Muda jatuh cinta semuanya terasa agak aneh dan menggila. Apakah semua orang yang jatuh cinta selalu menjadi gila?"
"Entahlah yang penting saya masih waras!"
Jack akhirnya mempercepat langkahnya menuju stand minuman dingin. Ia segera memesan satu buah jus segar untuk dokter Maxime.
Satu masalah lagi muncul ketika ia lupa menanyakan dia mau jus buah apa.
"Astaga sepertinya aku akan dikirim ke Antartika."