
"Jadi dia benar-benar sudah mengidap penyakit kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif?"
Maxime terus memandangi hasil pemeriksaan kesehatan Steffany yang sempat ia sembunyikan. Beruntung sample darah yang didapatkannya secara sembunyi beberapa hari yang lalu sudah berhasil ia uji di laboratorium, hingga hasil pemeriksaan yang akurat sudah berada di tangannya.
"Sepertinya fakta baru darimu akhir-akhir ini sangat menarik," gumam dokter Maxime.
Mendapati hasil tersebut, ia kemudian mencari jejak keluarga Steffany selama beberapa tahun terakhir. Matanya menyipit ketika ia mendapati jika kedua orang tua Steffany sudah bercerai beberapa tahun itu. Saat ini ia tinggal bersama neneknya dan ada satu fakta lagi yang membuatnya sedikit miris ketika membacanya.
Riwayat kesehatan milik Steffany juga menyebutkan jika ia pernah melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri. Belum lagi ia kecanduan obat terlarang dan sempat direhabilitasi.
"Pantas saja kakek membatalkan rencana perjodohan kami."
"Fix dia gila!" pekik dr. Maxime.
Maxime membuang pulpen yang tadinya ia pegang ke atas meja. Lelah karena terlalu banyak pikiran, ia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Sambil sesekali menatap layar monitor serta memikirkan cara untuk menghentikan tingkah gila Steffany dan kalau bisa mencoba untuk menyelamatkan nyawanya.
"Menyakitkan, tetapi kalau aku membiarkan hal ini secara terus menerus, keluargaku akan berhutang budi pada keluargamu."
Maxime mengedarkan pandangannya ke langit-langit ruang kantornya. Lalu ia mulai mengingat seseorang.
"Ya, Cherry pasti bisa mengatasi hal ini."
Maxime mengambil ponselnya lalu mendial nomor mantan istrinya itu tanpa berpikir dua kali. Cherry yang sedang bersantai di tepi kolam renang kaget saat mengetahui jika ponselnya berdering. Alisnya menyatu ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Maxime? Ada apa lagi ia menghubungiku?"
Dengan gaya malasnya ia mengangkat panggilan telepon dari mantan suaminya itu. Bagaimana tidak malas, saat ini ia benar-benar dibuang ke pulau terpencil oleh Maxime karena perbuatan nekadnya mencelakai Baby. Hal yang wajar kan kalau seorang lelaki benar-benar melindungi calon pendamping hidupnya kali ini.
"Ada apa kau mencariku, apa masih belum cukup kau merendahkan harga diriku! Kau kejam Maxime Perkasa!"
Sesaar terdengar gelak tawa dari seberang sana. Membuat Cherry mengepalkan tangannya karena geram.
"Woi, stay calm, Cherry."
"Cepat katakan apa maumu?"
"Oke akan aku katakan tapi jangan ngamuk dong, janji."
Meski mendengus Cherry tetap mengiyakan permintaan dari Maxime.
"Oke aku setuju."
"Nah begitu dong, kalau dulu kau tidak mencoba menyakiti Baby mana mungkin aku bersikap kejam terhadapmu!"
Maxime berdiri dari tempat duduknya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Matanya menerawang jauh ke depan.
"Aku akan memberikan satu pengampunan untukmu jika kau berhasil membantuku."
Cherry mengigit bibir bawahnya karena kesal, bagaimana ia bisa mengumpankan dirinya untuk gadis gila itu. Selama menjadi istrinya, Cherry sempat bertemu dengan Steffany satu kali. Dari pertemuan saat itu ia saja pernah dilukai olehnya. Makanya saat Maxime menawarkan hal tersebut rasanya ia amat malas.
Kalau bukan karena uang dan popularitas yang akan dikembalikan untuknya, tentu Cherry tidak akan mau. Sementara itu Maxime masih menunggu jawaban dari mantan istrinya itu.
"Kenapa diam, atau kamu terus tinggal di pulau terpencil itu dan menjalani hukuman selamanya?"
Tidak mau kehilangan kesempatan untuk yang kedua kali, Cherry dengan sangat terpaksa menerima penawaran tadi.
"Oke, aku ikut permainan darimu."
"Bagus, persiapkan dirimu karena dua jam lagi Jack akan menjemputmu!"
"Hm, oke."
Selama masa pengasingan, Cherry di bawah pengawasan langsung dari Jack. Lelaki bertubuh menjulang itu sangat dingin dan merupakan orang rahasia dibawah pimpinan Maxime.
Lalu rencana apa yang akan mereka lakukan nanti ya?