
Setelah cukup lama berada di depan makam dan mencurahkan segala isi hati, Baby memutuskan untuk segera pergi dari sana. Ia tidak mau berlarut-larut terjebak dalam masa lalu. Tidak ada yang mau berada di kubangan masa lalu terlalu lama karena masa depannya terlihat jelas di depan mata. Masa depan harus ia perjuangkan sejak saat ini. Terlebih sudah ada Maxime yang mengiringi langkahnya.
"Kita pulang," ajak Baby setelahnya.
Maxime mengangguk. Lalu keduanya kembali pergi meninggalkan tempat itu. Tidak butuh waktu lama mereka sudah kembali ke rumah besar. Karena sekolah Maxime tidak bisa ditinggalkan dalam waktu yang lama, begitu pula dengan pekerjaan Baby maka keesokan harinya mereka akan segera kembali ke Paris.
"Serius kamu udah siap balik ke Paris?" tanya Maxime di dalam mobil.
Baby menoleh menatap dokter Maxime, "Serius lah, masa aku nggak serius, nanti bisa di geprek sama Mom and Daddy dong."
"Iya juga sih, apalagi banyak hal yang harus kita lakukan di sana."
"Nah itu sudah tau."
Maxime hanya tersenyum ketika Baby masih bersikap jual mahal di sana. Meskipun mereka sudah saling mencintai dan menyatakan sebagai sepasang kekasih, tetapi saat duduk dalam satu mobil, Baby Corn masih menjaga jarak.
Baby Corn bahkan tidak pernah bersikap manis manja terhadap kekasihnya, Maxime. Tidak melakukan hal-hal yang sama seperti para remaja ketika sedang kasmaran. Meski begitu Maxime tidak mempermasalahkan hal tersebut. Lagi pula saat ini Baby sudah terlihat lebih dewasa dari pada saat di awal mereka bertemu.
Baby yang merasa risih ketika Maxime terus mengamatinya segera menegurnya.
"Dokter ngapain lihatin saya terus?"
"Ha-ah, aku nggak liatin kamu kok, siapa yang bilang."
"Itu kaca spion yang berada di depan yang bilang, kan keliatan dari sana, masa enggak?"
"Wkwkwk, iya aku ngaku deh."
Sang sopir yang melihat interaksi sepasang kekasih di dalam mobil itu hanya bisa tersenyum.
"Non Baby mah masih sama seperti yang dulu. Beda sama gadis seusianya," ucapnya dalam hati.
"Jangan galak-galak dong, kan cuma bertiga," ucap Maxime sengaja menggoda Baby.
Baby hendak mencubit Maxime tetapi tangannya tak sengaja dipegang Maxime lebih dulu.
"Mau marah atau enggak tetap saja cantik," puji dokter Maxime.
Blush ... seketika wajah Baby terlihat memerah karena merasa malu. Tetapi hal-hal kecil seperti ini semakin membuat Baby dan Maxime langgeng dalam hubungan percintaannya. Mau di Indonesia ataupun Paris tetap saja ia bahagia asalkan tetap bersama Baby.
Lagi pula Maxime harus menyelesaikan persiapan pertunangannya dengan Baby. Sementara itu di Paris, tanpa mereka ketahui Kakek Delicious sudah menyiapkan beberapa hal terkait proses lamaran yang akan segera dilakukan beberapa hari lagi.
"Bagaimana Jo, semuanya sudah siap?"
"Sudah Tuan Besar. Semuanya sudah sesuai dengan permintaan Anda."
"Bagus, jangan lupa kau urus perijinan kuliah Maxime, agar ke depannya tidak menyulitkan perjalanan skripsinya."
"Tentu saja Tuan."
🍂Jakarta, Indonesia.
Maxime terkekeh sambil merangkul pinggang Baby. Mereka berdua bahkan sudah pamer kemesraan di depan Michael.
"Cih, malah pamer kemesraan, memangnya siapa yang ngiri, aku mau ke kanan kok."
Baby tergelak akan ucapan Michael barusan, "Dasar abang bengek!"
"Bang jangan lama-lama menjomblo, kasihan Jas Jus yang sudah lama menunggu Abang. Lagi pula kami sepantaran, jadi bukankah sebaiknya kalau kira merasakan kebahagiaan secara bersama."
"Tapi kau tau sendiri kalau dia bukan tipeku?"
"Trus mau Abang yang seperti apa? Kak Joy sudah kembali ke Los Angeles dan tidak akan pernah kembali ke sisi mu lagi, jadi sebaiknya Abang membuka hati untuk yang lain saja."
Michael tampak merenungi setiap ucapan Baby. Ia sungguh terjebak dengan permainan takdir kali ini. Bertahun-tahun saling mencintai ternyata tidak menjamin jika mereka bisa bersama.
Sayang, Michael tidak tau jika Joy sengaja meninggalkannya karena penyakitnya bukan karena tidak cinta.
"Sudah ah, kita mau berangkat dulu, Bang Mich jangan bersedih, lain kali kita pasti balik lagi ke sini. Cuma bukan sekarang, melainkan beberapa bulan atau mungkin tahun lagi kita baru ke sini."
Michael menepuk bahu Maxime lalu memeluknya.
"Gue nitip adik gue, jangan kamu sakiti dia atau kamu akan berhadapan dengan gue! Paham?"
"Paham Mich, tanpa kamu minta aku akan selalu menjaga Baby."
Lalu kini Michael mulai mendekati Baby, memeluknya untuk terakhir kali.
"Buat adik gue yang manis, jangan lupa kalau dokter hatimu ini main-main sama kamu, lapor segera ke aku. Oke."
"Siap abang."
Karena setelah ini ia tidak yakin bisa pergi ke Paris dengan bebas, Michael memeluk adiknya erat-erat.
Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan saat ini. Beban tanggung jawab yang ia pikul lumayan sehingga tidak membiarkannya hidup santai.
"Hati-hati di sana, Abang bakal jarang ke sana lagi setelah ini. Kalau Maxime nakal bilang aja sama Abang, biar nanti aku atasi."
"Baik Bang, jangan kuatir. Kita tau perjalanan ke depannya tidak terlalu mudah untuk kita lalui. Hanya kepercayan yang menguatkan perjalanan cinta aku dan dokter Maxime."
Setelah cukup lama berpamitan, akhirnya keduanya segera pergi.
🍂Satu bulan kemudian.
Mansion Rose kini sudah tampak ramai, banyak orang berlalu lalang di sana. Semuanya tampak bersuka cita dalam peresmian hubungan Baby dan dokter Maxime.
Sesuai rencana mereka akan melakukan lamaran hari ini. Semua persiapan dilakukan sangat matang kali ini apalagi ini merupakan perhelatan akbar tentang kisah cinta anak pengusaha ternama di kota Paris dengan keluarga besar Maxime.
Lalu keseruan apa yang terjadi selanjutnya?