LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 102. CALON MANTU PILIHAN MAMA



Jas Jus masih tidak mau membuka selimut yang menutup tubuhnya. Tetapi Bryan tidak hilang akal. Ia mengambil salah satu bulu dari kemoceng lalu memainkannya di telapak kaki Jas Jus yang keliatan. Tentu saja hal itu membuat Jas Jus kegelian dan meminta ampun.


Sementara Bryan tetap melakukan hal tersebut agar ia membuka selimutnya. Benar saja sesaat kemudian selimutnya terbuka. Hingga secara tidak sengaja saat Jas Jus hendak menarik selimutnya kembali, bukannya selimut yang ditarik melainkan sweater yang dipakai Bryan ditarik kuat olehnya.


Kini tubuh Bryan jatuh tepat di atas tubuh Jas Jus yang terlentang. Seolah hendak menerkam Jas Jus yang pasrah. Tatapan mereka saling beradu satu sama lain. Bahkan deru nafas kedua muda-mudi tersebut saling bersahut-sahutan. Mungkin karena merasa nyaman atau memang tidak sadar.


Saat berada di posisi itu mereka habiskan dalam waktu yang cukup lama. Hingga deheman dari Jas Jus membuat Bryan tersadar dan segera bangun dari tubuh Jas Jus.


"Ehem."


Deheman dari Jas Jus mampu menyadarkan Bryan saat itu.


"Sorry."


"No problem."


"Oh ya, kamu ditunggu Mama di bawah buat memastikan apakah kamu suka dengan dekorasi mereka atau enggak?"


Jas Jus yang masih merasa malu akhirnya mau tidak mau keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah. Meninggalkan Bryan yang masih mematung. Bryan tampak belum beranjak dari tempat tidurnya saat ini dan masih terdiam di sana.


"Kenapa kamu jadi berubah dingin padaku? Atau memang seharusnya aku tidak kembali ke sini?"


Tidak mau keberadaannya dipertanyakan, Bryan segera menyusul Jas Jus ke lantai bawah. Langkahnya yang panjang memudahkan dirinya dengan cepat untuk menyusul Jas Jus. Bryan mengedarkan pandangannya. Dilihatnya saat ini Jas Jus sedang bersama Mama Kara, ia segera mendekatinya.


Dari kejauhan Mama Kara sudah menyadari keberadaan Bryan dan melambaikan tangan ke arahnya. Bryan pun membalas hal tersebut dengan tersenyum lalu perlahan mulai mendekatinya.


Kebetulan saat itu salah satu teman Mama Kara sedang berkunjung lalu dengan sengaja memperkenalkan keberadaan Bryan sebagai calon tunangan Jas Jus.


"Hei Jeng, kenalin ini calon tunangan Jas Jus."


"Wah ganteng sekali, siapa namanya nih?"


"Bryan tante," ucapnya sambil bersalaman dengan mereka.


"Kok bisa milih bibit unggul kayak gini to Jeng, mbok ya kita dikenalin salah satu udah senang banget loh."


Jas Jus yang merasa tidak nyaman saat berada di sana memutuskan untuk segera pergi.


"Ehem, tante saya permisi ke belakang dulu ya, maaf nggak bisa temani lama," ucap Jas Jus basa basi.


Melihat sebelumnya ada hal yang mencurigakan dari Jas Jus, membuat Bryan ingin mengikutinya. Keadaan yang tidak nyaman seolah membuat jarak di antara keduanya. Ia pun meminta ijin pada Mama Kara dan temannya untuk permisi.


"Maaf Tante, sepertinya saya juga mau ke belakang sebentar."


"Iya, silakan ganteng."


Setelah kepergian mereka, ibu-ibu itu tetap menggunjingkan mereka.


"Benar-benar calon menantu idaman Jeng, tau banget kalau ceweknya lelah."


"Tunggu dulu Jeng, bukannya Bryan itu saudara jauh dari suamimu?"


"Ha ha ha, sebenarnya bukan, itu memang akal-akalan kami agar sewaktu kecil mereka tidak saling mencintai, tetapi ternyata takdir berkata lain. Bryan benar-benar mencintai putriku, hingga kami mengadakan acara ini untuk semakin mengikat mereka dalam satu ikatan pertunangan."


"Jessie kan cantik, masa iya belum ada pasangan?"


"Sebenarnya ada, hanya saja ia belum mengenalkan lelaki itu pada kami. Jadi terpaksa kami memilih semua ini."


.


.


"Pesankan satu tiket penerbangan dari Inggris ke Indonesia. Namun perlu kamu ingat, sampai di Jakarta jangan terlalu lama. Paling lambat sebelum jam enam sore aku sudah sampai sana."


"Hm, oh ya sekalian pesankan baju yang simple tetapi bisa menghipnotis kaum wanita saat memakainya, plus satu set baju untuk ke pesta, jangan formal."


"Baik Tuan, akan saya persiapkan sebaik mungkin!"


Meski di mulut ia berkata manis, tetapi di dalam hati Jack ia sangat kesal terhadap Maxime yang selalu membuatnya kerepotan.


Jack hanya mendengus kesal, saat ia dibebani memilih baju untuk bos-nya kali ini. Meski begitu semua keinginan beliau tetap menjadi titah untuknya.


"Sabar, ya beginilah nasib bos yang sibuk pacaran, dia yang enak kita yang repot. Dasar nasib, nasib," gerutu Jack sambil berlalu.


Meskipun begitu, Jack tetap setia menemani Maxime. Hal ini lebih menyenangkan daripada ia harus bekerja pada orang lain. Selain supel dan ramah sebenarnya Maxime sosok yang hangat dan penuh kasih sayang.


...🌹Bersambung🌹...