LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 111. RESTU YANG TERTUNDA



Baby masih bergelung dengan selimut tebalnya pagi ini. Sesekali ia tersenyum menatap jari manisnya saat ini. Kembali mengingat moment-moment romantisnya tadi malam membuatnya sedikit menggila. Baby seketika bangun dari tempat tidurnya ketika ia menyadari bahwa ia belum menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarganya, termasuk calon suaminya.


"Astaga aku belum masak."


Nyut ... tiba-tiba bekas kaki yang di amputasi berdenyut nyeri. Baby agak mengaduh sedikit karena luka. Ia tidak mau terlihat menyerah. Baby mengambil crutch miliknya lalu mulai berjalan ke arah pintu keluar. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Maxime sudah rapi dengan celemek di dadanya. Beberapa masakan juga sudah tersaji di sana.


Menyadari Baby sudah bangun tidur, Maxime tersenyum ke arahnya.


"Morning Baby .... " sapanya ramah.


Baby yang ingin memberikan kejutan malah terkejut sendiri dengan penampilan Maxime. Dokter Maxime yang melihat Baby menggunakan crutch segera menghampirinya.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Ehem!"


Tiba-tiba deheman dari Michael membuat keromantisan pagi itu berkurang. Dengan cepat Michael melepas tangan yang sempat memegang tangan Baby dan mereka berdua kompak menoleh ke arah Michael.


"Abang ...."


"Bisa dikondisikan tangannya itu?"


"Kami tidak melakukan apa pun saat ini, Abang salah paham dengan semua ini."


"Mau dapat restu atau tidak?" ucapnya setengah acuh.


Maxime melepas celemek yang ia pakai lalu mendekati meja makan bersama Baby. Mereka duduk berdampingan, mata Michael menyipit melihat aneka makanan tersaji rapi di atas meja.


"Siapa yang memasak ini?"


Maxime mengangkat tangannya, lalu Michael mulai melihat ke arahnya.


"Serius kamu yang masak ini?"


Ia pun mengangguk perlahan. Sementara itu Michael mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut. Sejenak mengunyahnya lalu bersiap untuk memasukan potongan berikutnya.


"Bagaimana rasanya Abang?"


"Lumayan enak, aku suka masakan ala western tetapi belum pernah mencoba memasaknya, apa kamu punya waktu untuk mengajariku memasak di lain waktu?"


"Boleh kalau Abang mau?"


Akhirnya ketegangan tadi berakhir indah dengan sebuah obrolan pagi yang ringan. Sampai akhirnya mereka semua mengobrol di halaman belakang rumah.


Sambil menunggu Baby mandi dan bersiap, Michael dan Maxime mengobrol di sebuah kursi taman. Meski Michael tidak bertanya hal apapun pada Maxime dan Baby, tetapi ia penasaran bagaimana bisa ia sampai di Indonesia padahal ini pertama kalinya.


"Boleh Bang, santai saja."


"Ehem, apakah wajahku sudah terlalu tua, sampai kau memanggilku Abang?"


"Wkwkwk, tentu saja tidak, hanya saja aku menghormatimu sebagai kakak laki-laki dari Baby."


"Ehm, oke. Itu sepertinya sebuah alasan yang tepat untukku saat ini."


"Aku sangat penasaran bagaimana kau bisa sampai di sini, padahal kau sama sekali tidak pernah datang kemari bukan?"


"Itu semua karena Baby."


Maxime menjeda kalimatnya, "Aku sangat menggila ketika menyadari bahwa Baby pergi dari Paris. Aku berusaha mencari dia sampai ke seluruh Paris sampai mengunakan kekuasaan kakek tetapi hasilnya nihil. Aku sama sekali kehilangan Baby. Hingga aku menghubungi nomor ponsel Mommy."


"Beruntung Mommy mengangkatnya, dan dari beliau aku mendapatkan pandangan bahwa Baby tidak menghilang melainkan sedang melakukan perjalanan ke Indonesia."


"Di saat itu pula aku memutuskan kalau aku akan mengejarnya. Aku sungguh takut jika harus kehilangan dia."


"Sejak awal aku mengenal Baby aku sudah memendam perasaan ini, aku takut jika aku jatuh cinta."


Michael menoleh, "Kenapa harus takut?"


Maxime terkekeh kecil.


"Aku takut patah hati."


Ucapan dari Maxime barusan menggelitik hati Michael.


"Apakah aku juga takut patah hati?"


"Kenapa aku merasakan apa yang ia takutkan?"


"Memangnya kau pernah patah hati?" tanya Michael blak-blakan.


Saat ini tanpa mereka sadari, Baby sudah berada di belakang mereka. Ia tetap bersikap biasa, sesungguhnya ia ingin segera pergi, namun ... langkah kakinya terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Michael barusan. Ingin rasanya ia mengetahui seperti apa kisah cinta Maxime di masa lalu yang mungkin tidak akan pernah ia ketaui kebenarannya.


"Jadi bolehkah aku tau jawabannya?"


Maxime tersenyum, "Tentu saja aku pernah patah hati, tetapi aku mencoba bangkit dari keterpurukan."


"Cinta membuatku dewasa. Cinta membuatku mampu berdiri tegap sampai saat ini. Dan cinta juga membuatku tau jika kita sudah memiliki pasangan sebaiknya jangan pernah mencoba mencari yang lainnya. Arti dari sebuah kesetiaan itu sangat mahal harganya."


Baby termenung di balik pintu, ia pernah merasakan jatuh cinta tetapi belum pernah sakit hati. Membuat Baby jatuh cinta juga bukanlah hal mudah. Bahkan ia tidak menyadari jika ia telah jatuh cinta pada seorang dokter, duda kece yang mampu membalikkan dunia Baby yang sudah terpuruk.