LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 78. BUTUH DOKTER CINTA



Sejak kedatangan Joy, ia memperlakukan dirinya dengan sangat lembut. Baru kali ini Michael tidak dingin terhadap wanita. Bahkan perlakuannya kali ini sangat lembut berbeda sikapnya jika berhadapan dengan Jas Jus.


Siang itu kedua teman satu perjuangan itu sedang mengobrol di ruang kerja Maxime. Keduanya tampak sering melempar senyum dan bertukar cerita. Mesra tampak seperti sepasang kekasih yang lama tidak bertemu.


"Michael, aku sangat berterima kasih untuk jamuan makan siang kali ini."


"Sama-sama, oh ya berapa lama kamu di sini?"


"Mungkin satu bulan aku bisa di sini, lagi pula saat ini aku sedang mendapat cuti, jadi aku ingin berlibur."


"Jarang-jarang dapat cuti ya?"


Joy mengangguk dengan lembut. Tatapan sayu darinya mampu menghipnotis setiap pria yang memandangnya, begitu pula dengan Michael.


"Bisakah kamu menemaniku jalan-jalan sebentar?"


"Oh begitu, tapi sepertinya aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan selama di Jakarta. Kalau weekend mungkin akan aku usahakan."


"Aku tau kamu sibuk banget, apalagi di usia kamu yang sekarang sudah menjadi seorang CEO."


"Ya begitulah."


"Aku tidak memaksa loh, cuma kalau aku butuh bantuanmu mungkin akan sedikit memaksa."


"No problem."


Tiba-tiba pintu ruangan Michael terbuka secara paksa, pelakunya adalah Jas Jus. Padahal sebelum ini, Michael sudah memperingatkan pada asistennya untuk melarang siapa pun masuk ke dalam ruangannya.


"Apa-apaan ini?" ucapnya kemudian.


Michael yang terkejut langsung menegur Jas Jus.


"Kenapa kamu bisa masuk ke ruangan saya tanpa meminta ijin?"


Jas Jus sedikit menciut nyalinya terlebih saat ini Michael menggertaknya di depan seorang wanita cantik. Ingin rasanya ia menangis tetapi ia masih menahannya.


"Maaf, aku nggak tau kalau di dalam sedang ada tamu."


Michael memijit pelipisnya yang baru saja berdenyut. Sesaat kemudian, muncullah asisten Michael. Nafasnya masih memburu karena tadi tidak sempat menyusul jejak Jas Jus yang memaksa masuk meski sudah dicegah sejak di lantai satu.


Michael menatap tajam asistennya itu. Ingin rasanya ia menguliti Jo karena tidak becus melakukan perintah sederhana seperti ini. Hingga membuat Jas Jus berhasil masuk ke dalam ruangannya.


Dilihatnya Joy yang masih memandang heran Jas Jus, akhirnya Michael lebih memilih mengajaknya pergi ke luar. Satu kejutan yang berhasil didapatkan Jas Jus siang itu adalah perlakuan lembut Michael pada seorang wanita.


Tanpa mengatakan apa pun, Michael menggandeng mesra tangan Joy keluar dari ruangannya. Sedangkan Jas Jus sama sekali tidak dianggap karena Michael tidak pamit kepadanya.


Jas Jus masih terdiam mematung melihat semua ini. Ingin rasanya mencekal lengan Michael tetapi ia urungkan.


"Memangnya status gue apa, sadar Jessie kamu nggak pernah ada di hatinya."


Mencegahnya sama saja semakin mempermalukan dirinya. Rencana yang sudah ia susun kini hancur berantakan.


"Belum mulai aja udah patah lagi, sial amat nasib gue!"


Setelah beberapa saat sesudah mereka berlalu, luruhlah kembali air mata Jas Jus. Asisten Michael yang masih satu ruangan dengannya merasa tidak tega akan nasib teman baik nona besarnya itu, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak.


"Aduh, urusan wanita memang sangat merepotkan," keluhnya.


Dengan memberanikan diri, Jo mengulurkan tangannya ke arah Jas Jus untuk menyodorkan sapu tangan.


"Semoga saja ia tidak menolak, kalau nolak bakal gue tinggal sendirian di sini!"


Tanpa memperhatikan siapa yang memberinya sapu tangan, Jas Jus langsung menerimanya.


"Sroottt!"


Tanpa malu-malu Jas Jus mengeluarkan ingusnya. Lalu menyerahkan kembali sapu tangan bekas ingusnya pada Jo. Antara jijik sama menerima dengan ikhlas, mau tak mau Jo mengambil kembali sapu tangannya dari tangan Jas Jus.


Batin Jo seketika menjerit, tatkala membayangkan jika sapu tangannya pemberian sang istri sampai dipakai oleh wanita lain. Tetapi ia lebih takut dipecat Michael karena tidak becus mengatasi masalah ini. Jo terlihat pasrah dan terdiam di tempat duduknya sambil memandangi Jas Jus.


"Kapan sih Nona Jessie pergi, pekerjaan saya lagi banyak Non, cepat pergi ya," doa Jo dalam hatinya.


Sementara itu setelah merasa tenang, Jas Jus segera pergi meninggalkan ruangan Michael tanpa berpamitan.


Jo mengusap dahinya, "Alhamdulillah akhirnya satu masalah selesai."


Sedangkan Jas Jus segera masuk ke dalam mobilnya lalu pergi menjauh dari kantor Michael.


Tujuannya kali ini adalah pergi ke taman kota. Setidaknya di sana ia bisa mendapatkan hiburan untuk hatinya yang sedang gundah gulana.


.


.


Di dalam mobil, obrolan kembali terjadi. Sebagai sesama wanita tentu Joy tau apa yang dirasakan oleh Jas Jus tadi, tetapi ia tidak mau terlalu ikut campur pada kehidupan Michael. Mereka saja baru bertemu, mana bisa ia memihak di antara salah satunya.


"Mich, apa kamu nggak keterlaluan meninggalkan wanita tadi, apalagi kamu baru saja menggertaknya?"


"Aku rasa tidak, lagi pula aku sudah jengah akan tingkahnya yang selalu merepotkanku."


"Rupanya Michael tidak suka akan kehadiran wanita tadi? Lebih baik mengalihkan topik pembicaraan saja."


"Oh ya, sepertinya dia seusia Baby ya, ah jadi kangen Baby, bagaimana kabarnya?"


"Dia baik, cuma sekarang dia tinggal di Paris bersama Daddy dan Mommy."


"Serius? Beberapa bulan lagi aku ada event juga di Paris, siapa tau bisa ketemu sama Baby."


"Mungkin saja begitu."


"Akh senangnya jika bisa bertemu dengannya lagi."


"Kapan-kapan kalau kamu ada waktu kita bisa pergi ke Paris bersama."


"Oh ya, terima kasih Mich."


"Sama-sama."


Kebahagiaan Joy bertambah saat melihat semua perlakuan lembut Michael padanya.


"Ternyata Michael tidak sekaku dulu, ia lebih hangat dan lembut saat ini.


Michael memandang jauh pemandangan jalan di depannya.


"Lebih baik seperti ini, setidaknya aku merasa nyaman ketika berdekatan dengan Joy. Tidak buruk juga ternyata bisa dekat dengan seorang wanita."


Senyum merekah terlihat menghiasi wajah cantik Joy saat ini.


.


.


Sesampainya di taman kota, Jas Jus menumpahkan kekesalannya dengan melempar sepatunya ke tengah taman. Rasanya dunia percintaan tidak pernah memihaknya. Selalu saja penuh lika liku yang membuat Jas Jus tidak pernah memiliki pacar.


"Dasar laki-lali brengsek! Kenapa coba gue bisa jatuh cinta sama elu! Hu hu hu ...."


Keadaannya benar-benar terlihat kacau saat ini. Ia telah menumpahkan keluh kesahnya tetapi hatinya masih belum merasa baikan. Apakah ia akan menjadi jones lebih lama lagi. Rasanya Jas Jus tidak akan sanggup melihat kemesraan yang terjadi di antara Michael dengan wanita tadi.


Jas Jus kembali bersedih, dan sepertinya ia membutuhkan dokter cinta saat ini. Akankah Jas Jus bisa memulihkan perasaannya setelah ini?


...🌹Bersambung🌹...