
Sudah seminggu ini, Baby bolak balik dari tempat jadwal pemotretan ke agency model milik Mariska. Capek tentu saja, tetapi saat ini ia memang sangat fokus pada apa yang sedang ia perjuangkan. Bersama Tango ia terlihat lebih baik saat ini.
Obrolan mereka terpaksa terhenti karena di depan sana ada sesuatu hal yang menantang adrenalin.
Dilihatnya seorang wanita cantik yang berdiri sambil berkacak pinggang sambil memandangi dirinya yang baru saja keluar dari agency model.
"Kamu kenal Beb?"
"Sama sekali tidak kenal sih."
"Tetapi tatapannya seolah ingin mengulitimu, ha ha ha ...."
Steffany begitu geram ketika melihat rivalnya begitu cantik, bahkan jauh lebih cantik dari yang ia lihat di foto. Namun, ia tidak mau terlihat terpesona akan kehadiran Baby, oleh karena itu, ia segera menggertaknya.
"Hei, apakah kamu Baby Cornelia?"
Baby yang merasa dipanggil mengangguk.
"Bisakah kita berdua saling berbicara dari hati ke hati?" ucap wanita itu.
"Ha-ah?"
Tango bukannya membantu malah semakin menambah masalah. Reflek Tango dan Baby saling menatap tidak suka akan kehadiran wanita di depannya kini. Cantik sih cantik, tetapi hal itu bisa membuatnya naik pitam karena ternyata ucapannya bisa membuat karir model Baby menjadi hancur seketika.
"Bagaimana menurutmu atas penawaranku?"
Baby masih terdiam saat ini, ia bingung harus mengatakan apa terlebih Maxime baru saja kembali ke Inggris karena ada satu hal yang penting dan harus segera diatasi. Sementara itu ia terjebak dengan salah satu fans berat dokter Maxime.
Hal yang paling tidak disukai Steffany adalah menunggu, entah itu menunggu sebuah jawaban ataupun sebuah teka-teki dari apa yang barusan ia lihat.
"Baby kenapa diam?"
"Maaf kalau kamu menggertakku, tetapi sepertinya aku sama sekali tidak takut akan hal tersebut."
Baby bangun dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Sesaat sebelumnya ia merasa takut jika Steffany benar-benar melakukan ancamannya, tetapi Tango yang mengintip dari celah pintu mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Adakah seseorang yang bisa menyelamatkan nyawaku malam ini?" ucap Baby sambil menggaruk tangannya yang tiba-tiba gatal.
Kulit tangan Baby memerah seolah ia sedang alergi.
"Sial, alergi dinginku kambuh," cicit Baby.
"Kamu tidak apa-apa Baby?"
Semakin lama semakin membuat Baby kehilangan kesadarannya dan pingsan.
"Baby ..." teriak Tango dari arah parkir mobilnya.
Ditangkap tubuh milik Baby dan memindahkannya ke dalam mobil miliknya untuk berangkat ke Rumah Sakit.
"Aku harap kamu nggak kenapa-napa?"
"Meskipun awalnya aku membenci kehadiranmu tetapi entah kenapa aku merindukan hal-hal manis darimu, Baby Corn."
Kali ini Tango mengemudikan mobilnya secara cepat menuju Rumah Sakit terdekat. Beruntung saat sampai, para tenaga medis langsung melakukan pertolongan pertama. Saat Baby diperiksa, dengan santainya Tango menunggu di depan pintu takut jika dokter atau yang lainnya membutuhkan keterangan darinya.
"Aih, aku kenapa lagi ya Tuhan?"
Tidak menunggu waktu lebih lama lagi, Tango langsung mendial nomor salah satu anggota terdekat dari Baby. Satu orang yang diingat Tango hanyalah Kak Mariska.
"Hallo, Kak Mariska segera datang ke Rumah Sakit A, Baby pingsan tadi."
"Apa?"
"Nggak usah banyak tanya, kakak datang kemari sekarang, nggak pake lama, gue engap di sini!"
"Wkwkwk, sue Lu. Ok aku ke sana."