
Sesuai dengan ucapan dari Maxime, Jack benar-benar datang ke tempat di mana Chery diasingkan. Cherry yang melihat kedatangan Jack langsung mengikutinya. Beberapa saat kemudian mereka telah masuk ke dalam pesawat.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, lagi pula mana mungkin ia mau berbicara dengan lelaki yang tanpa muka itu. Berada dalam satu pesawat dengan Jack membuat Cherry benar-benar sesak nafas. Di dalam hati Cherry ia terus memaki perubahan sikap Maxime yang berbeda dari waktu ke waktu.
"Sial banget harus satu pesawat dengan Jack," maki Cherry dalam hatinya.
"Kenapa bukan dia yang membereskan Steffany, sih!"
.
.
🍂Inggris
Maxime tidak menyangka jika Steffany masih berani muncul di hadapannya. Beruntung ia sudah mempersiapkan Cherry. Inilah saatnya untuk mengulur waktu agar Steffany tidak curiga.
Entah kenapa ia malah terjebak dalam situasi sulit seperti saat ini. Ia meraba-raba tubuh Maxime yang berkonsentrasi bekerja. Tentu saja hal itu mengganggu konsetrasi Maxime dan membuat amarahnya muncul.
"Steffany lepaskan tanganmu dari tubuhku! Atau kau benar-benar mau aku usir!"
"Bagaimana aku bisa melepasmu, Sayang. Aku sungguh mencintaimu."
Bukannya pergi, Steffany malah mengecup pipi Maxime dalam waktu yang lama.
"Steffany jaga batasanmu!"
Maxime mendorong tubuh wanita itu, tetapi ia malah semakin buas dalam mencium Maxime.
Hingga secara tidak sengaja Cherry melihatnya.
Meski hubungan mereka hanya sebatas mantan suami istri, tetapi ia tidak rela jika Maxime bersama wanita sejenis Steffany.
"Beraninya ia melakukan hal tersebut pada mantan suamiku!"
Cherry melempar tas miliknya ke sembarang arah lalu berjalan cepat ke arah Maxime. Berhubung kali ini ia datang untuk menjalankan misi, ia berusaha memainkan perannya dengan sangat luwes.
Tanpa mengucapkan apa pun, Cherry datang dan menjambak rambut Steffany dengan kasar. Sontak saja Steffany terkejut dan sedikit melepaskan ciumannya pada Maxime.
"Argh, kamu siapa?" ucap Steffany yang merasa diganggu.
"Cherry ngapain kamu ke sini, mengganggu saja!" ucapnya kesal setelah berhasil mengembalikan ingatannya.
"Kamu yang seharusnya ngaca, kamu nggak pantas buat Maxime!"
"Hei, kalau aku nggak pantas lalu kamu apa?" Cherry merasa tidak terima dengan ucapan Steffany barusan, semakin membalas perlakuan bengal darinya.
Akhirnya perkelahian kedua wanita tadi tidak dapat dihindarkan lagi. Sementara Maxime dan Jack sama sekali tidak melerai mereka. Maxime masih merasa jijik pada tubuhnya yang baru saja disentuh Steffany, tetapi ia harus bersikap biasa. Maxime menoleh ke arah Jack.
"Kerjamu cukup bagus Jack," puji Maxime pada asistennya.
"Terima kasih, Tuan."
"Kau boleh kembali, dan ini untukmu!"
"Sekali lagi terima kasih banyak Tuan."
Jack hanya membungkuk hormat lalu pergi. Sementara itu Maxime sudah menelpon beberapa petugas dari kantor polisi untuk menahan Steffany. Alasan yang dipakai cukup simple, yaitu membalaskan dendamnya saat masih berama Maxime.
"Kalian berdua stop!"
Polisi yang dipanggil kini telah berhasil mengamankan Steffany, tetapi luka-luka bekas cakaran dari perkelahian tadi membuat sekujur tubuh mereka terbakar karena perih.
"Ini salep dan obat antibiotik untukmu, siapa tau kamu membutuhkannya kelak."
Meski cemberut, Cherry tetap menerimanya.
"Kenapa wanita itu bisa sampai di sini, apa kau yang memintanya ke sini?"
"Amit-amit, dah lah aku sibuk, kamu silakan pergi."
"Astaga kamu begitu menyebalkan."
Setelah mengambil amplop dari atas meja, Cherry segera pergi. Lagi pula ia sudah mendapatkan apa yang ia mau.
"Kasihan kamu Steffany, masih muda tetapi sudah salah jalan. Nasibmu begitu mengenaskan!"