
"Apa ini mimpi atau sebuah kenyataan? Kenapa pelukannya begitu hangat?" ucap Baby dalam tidurnya.
Pergerakan Baby mulai terbaca oleh dokter Maxime. Ia mencoba menjauh dengan perlahan agar tidak mengusik tidur Baby.
"Kenapa aku selalu merasa nyaman jika berdekatan denganmu?" tanya Maxime dalam hati.
Maxime memandangi wajah Baby dengan seksama. Meski dengan posisi berdiri tetapi Maxime tidak lelah saat melihat Baby tertidur. Terkadang ia juga mendekatkan wajahnya sesekali.
"Jauh sebelum ini aku sama sekali tidak pernah merasakan kecewa dan bahagia secara bergantian, tetapi sejak kehadiranmu semuanya tampak menjadi indah."
Sebelum ini, dokter Maxime menyelinap masuk ke apartemennya sendiri karena ia sangat merindukan Baby. Kenapa ia bisa tahu jika Baby menginap di apartemen, tentu saja karena sebelum ini Baby telah meminta ijin darinya untuk tinggal di apartemennya.
Meski pun ia lelaki tetapi kondisi tempat tinggal dokter Maxime cukup rapi, bersih dan terawat. Membuat siapa pun tamu atau kerabat yang datang ke tempat itu merasa betah.
Tiba-tiba saja Baby bergerak dan menggeliat. Mungkin efek karena merasakan tubuhnya lelah ia pun sedikit banyak bergerak kesana kemari, tetapi hal itu di salah artikan oleh dokter Maxime.
"Sepertinya ia menyadari kehadiranku, sebaiknya aku segera sembunyi."
Merasa jika Baby telah menyadari keberadaannya, dokter Maxime turun dari tempat tidur Baby dan bersembunyi di kolong tempat tidurnya agar Baby tidak bisa menemukan keberadaannya.
Malam itu Baby memang meminta ijin pada dokter Maxime agar diperbolehkan tinggal di apartemennya. Beruntung Maxime memberikan ijin pada Baby.
Baby melakukan hal ini karena teman satu agency model bilang pada Baby jika lokasi apartemennya dekat dengan tempat kantor cabang majalah Vogue. Sehingga selama Baby ada pekerjaan di sana, ia pun akan menginap di apartemen Maxime.
Melihat calon istrinya kesulitan dan meminta ijin padanya, membuat dokter Maxime merasa dihargai. Dengan senang hati dokter Maxime memberikan ijin padanya.
Padahal jauh sebelum Baby meminta, kamar itu sengaja dipersiapkan oleh Maxime jika suatu saat Baby ingin menginap disana. Ternyata dugaannya benar. Satu bulan yang lalu, apartemen milik dokter Maxime sengaja di renovasi agar lebih nyaman. Ada dua kamar baru di sana, satu untuk Baby satunya lagi untuk keponakannya Jas Jus, letak kamar Jas Jus berada tepat di sebelah kamar Baby.
Saat ini Baby sempat bangun dari tidur sebentar, lalu karena merasa ada orang lain di kamarnya, ia pun mengedarkan pandangannya ke luar kamar.
"Sepertinya memang ada orang yang masuk kamar barusan?" ucap Baby sambil mengucek kedua bola matanya.
Sedangkan Maxime mengelus dadanya dengab perlahan, "Untung gue cepat responnya kalau enggak, sudah pasti ketauan."
Merasa tidak menemukan apa yang ia cari, karena lelah dan masih mengantuk akhirnya Baby kembali tertidur.
"Astaga, ternyata cuma halusinasi gue!"
Baby segera membetulkan selimutnya lalu kembali bergelung dengan mimpinya.
Setelah merasa cukup aman, Maxime keluar dari tempat persembunyian, ia berdiri di samping tempat tidur Baby.
"Sayang sepertinya kamu lelah, biarlah aku menemanimu di sini untuk sesaat."
Kali ini ia tidak kembali memeluk Baby melainkan hanya berdiri di samping tempat tidur. Ingin rasanya ia berbaring sambil memeluk tubuh Baby dari arah belakang, tetapi ia takut Baby akan meneriaki karena tingkah lakunya yang telah lancang. Seulas senyum kini masih terbit didalam wajah tampan tersebut.
"Aku sangat tidak sabar menunggu hari itu, hari di mana aku bisa memilikimu seutuhnya, biarkan seperti ini dulu ya, sayang."
Cup ... dokter Maxime kembali mengecup kening Baby dan setelah melihat Baby nyaman dengan tidurnya, ia lebih memilih untuk keluar kamar dan pergi dari sana. Baginya sudah cukup melihat Baby tertidur dengan nyaman.
.
.
Sementara itu di Jakarta, lebih tepatnya di kediaman Jas Jus. Bryan sedang berbincang-bincang dengan Jas Jus.
"Gimana lelaki itu sudah menghubungi kamu belum?"
"Belum."
"Kalau belum, bagaimana jika kita melakukan hal yang lebih dari itu hingga membuatnya semakin kebakaran jenggot?"
"Nggak usah, muka tembok kek dia mah nggak bakalan ngaruh."
"Ah, Tante Jessi ...." rengek Bryan.
Jas Jus menoleh ke arah keponakannya sambil memandang aneh ke arahnya.
"Jangan merengek, cowok nggak pantes merengek kek gitu!"
"Iya tante bawel, tapi gue masih penasaran kenapa cowok secakep itu menolak kecantikan paripurna dari seorang Jessika?"
Lalu sesaat kemudian Bryan memandangi wajah Jas Jus dengan seksama. Ia bahkan menoel ujung hidung milik Jas Jus.
"Cantik, godain kita dong .... " kelakar Bryan.
"Wkwkwk ... makanya tante jangan makan mulu, aku tambah gemes pengen noel mulu nih tangannya. Satu lagi, tuh bibirnya udah penuh dengan makanan. Gagal diet nih ceritanya."
"Bryan diem!"
"Jessi ... jessi, cantik kok kurang pinter sih, kapan kamu bisa mendapatkan pacar seperti Michael kalau kamu tetap bersikap seperti ini. Kamu lihat sendiri kan, tempo hari ia amat mesra pada pasangannya karena ia lebih cantik dan bisa merawat diri ketimbang kamu yang hoby makan tapi males oleh raga."
Jas Jus menoleh, "Apa kamu bilang?"
"Sesuai fakta, seharusnya kamu tau jika laki-laki dewasa itu sangat mementingkan penampilan kekasihnya. Apalagi untuk ukuran lelaki pebisnis seperti Michael."
"Seberapa besar keinginanmu untuk bersamanya jika kamu tidak bisa menjaga diri, ya jangan salahkan dia memilih yang lain."
Jas Jus menghentikan acara makan kue bolunya. Bahkan potongan terakhir kue bolu tersebut ia kembalikan ke piring. Matanya terpejam untuk sesaat.
"Sepertinya apa yang kamu katakan barusan adalah kebenaran."
Jas Jus menoleh ke arah keponakannya Bryan.
"Makasih ya, sudah membuatku tersadar jika semuanya butuh proses sehingga mau tak mau, diriku yang harus berjuang lebih."
"Nah gitu dong, semangat!"
Bryan hendak berjalan ke arah pintu tetapi panggilan dari Jas Jus mampu menghentikan langkahnya.
"Bantu gue sekali lagi untuk bisa mendapatkan hatinya, jika berhasil, gue bakal penuhi satu permintaan dari kamu, apa pun itu."
Bryan berdecih, "Emangnya sanggup?"
"Sanggup, ayo kamu minta apa?"
"Kalau aku minta ciuman darimu apakah akan dikabulkan?"
"Ngaco, kalau soal hal itu adalah privasi. Kamu dilarang menyinggung ranah kehidupanku."
"Iya tante bawel, dah kan ... jika kamu ingin balas dendam pada lelaki itu kamu tinggal mendial nomorku, oke?"
"Oke."
"Sepertinya kedatangan Bryan kali ini sedikit banyak bisa membantuku untuk mendekati Michael. Hm, susun rencana aja dulu, eksekusi belakangan."
Sejak meninggalkan kediaman Jas Jus, selama itu pula perjalanan pikiran Bryan terus berputar-putar tanpa menemukan sebuah ujung jalan.
Karena gabut, akhirnya Bryan menepikan laju mobilnya di sebuah cafe di sudut kota. Kakinya yang jenjang, tubuhnya yang tinggi menjulang membuatnya dengan mudah menjadi pusat perhatian dari semua kaum hawa.
"Cowok ganteng banget, bet."
"Lihat deh dia datang sendirian loh, deketin yuk!"
Itulah beberapa obrolan absurd yang dilakukan oleh gadis-gadis remaja yang sedang nongkrong asyik siang itu. Tetapi bagaimanapun juga Bryan sama dengan laki-laki lainnya. Sikap playboy miliknya bisa saja muncul kapan saja.
"Hm, sepertinya bermain dengan mereka sangat mengasyikkan," ucap Bryan dalam hati.
Mungkin hal seperti ini sudah biasa ia lakukan di luar negeri. Sampai saat ini tidak terasa kebiasaan tersebut sampai ia bawa ke Indonesia.
Bryan mendekati salah satu meja yang berisi para gadis remaja dan mengajak mereka berkenalan.
"Siang cantik, lagi apa nih?"
"Nongkrong kak."
"Boleh gabung?" tanya Bryan basa basi.
"Silakan!"
Sejak saat itu Bryan mulai bersenang-senang dengan kenalan barunya di cafe.
.
.
...🌹Bersambung🌹...