LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 96. KETEMU LAGI



Karena Mariska merasa tidak enak dengan perutnya, ia meminta ijin pada Baby untuk pergi ke toilet sebentar.


"Baby aku ke toilet sebentar ya, nanti kamu ke lantai berapa, biar aku menyusul kemudian."


"Lantai delapan belas Kak, ruang praktek dr. Haris."


"Oke, aku permisi dulu kalau begitu," pamit Mariska.


"Oke, hati-hati."


Sambil mengarahkan jempolnya ke arah Baby, Mariska buru-buru berlari ke kamar mandi. Secara tidak sengaja ia kembali menabrak tubuh dokter Haris di sana. Kedua orang dewasa itu kini terlihat saling menatap satu sama lain dengan sorot mata ingin menguliti dan menusuk. Membuat aura di sekitarnya berubah menjadi menyeramkan.


Sebab, sebelum ini mereka juga pernah bertabrakan, tetapi karena dokter Haris tidak pernah meminta maaf, ia pun tidak menyukai sosok dokter Haris yang mempunyai kesan sombong. Tidak ingin membuang banyak waktu, Mariska segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa menyapanya terlebih dahulu. Anggap saja ia tidak pernah bertemu.


"Kenapa sepertinya aku pernah bertemu dengannya? Akh, kenapa jadi memikirkannya sih? Lagi pula dia juga bukan dari bagian orang yang aku kenal, sebaiknya aku segera naik," ucap dokter Haris kemudian berlalu.


Setelah mendapatkan pintu lift yang terbuka, dokter Haris segera masuk, agar dapat cepat kembali ke ruang prakteknya. Sesampainya di sana, tepatnya di depan pintu sudah ada seorang wanita cantik.


"Selamat datang dokter Haris," sapanya ramah.


"Terima kasih."


"Oh ya, di dalam sini semua daftar pasien yang ingin berobat untuk hari ini sudah tertulis lengkap."


"Oke, terima kasih Suster."


"Sama-sama."


Tidak butuh waktu lama kini Baby sudah siap berkonsultasi dengannya di dalam ruang praktek.


"Hai Baby, apa kabar?"


"Baik, kalau dr. Haris bagaimana kabarnya?"


"Seperti yang kamu lihat saat ini, semuanya baik."


"Oh ya, kenapa kamu berada di sini? Apakah ada sesuatu yang tidak nyaman pada kakimu?"


"Betul sekali, langsung pada intinya saja ya dokter. Beberapa hari ini, bagian bekas amputasi masih sering tidak terasa nyaman dan terkadang terasa nyeri. Adakah solusi yang tepat agar membuatku semakin nyaman jika memakai kaki prostetik?"


"Hm, sebaiknya kamu berbaring di sana, biar aku periksa!"


Baby menurut, lalu setelahnya dokter Haris mulai menyuruh Baby untuk membayangkan bagaimana rasa sakit yang sering ia rasakan sebelumnya sambil ia menekan bekas kaki Baby yang diamputasi.


"Bagaimana rasanya?"


"Kadang seperti tertusuk jarum, terkadang seperti tersengat aliran listrik," keluh Baby.


"Oke, kemungkinan yang kamu alami saat ini adalah nyeri tungkai hantu."


"Ha-ah, apalagi itu dokter?"


"Singkatnya, saraf di beberapa bagian sumsum tulang belakang dan otak "pulih" ketika kamu kehilangan sinyal dari kaki yang hilang. Akibatnya, sistem tersebut mengirimkan sinyal rasa sakit, respons khas ketika tubuh merasakan ada sesuatu yang salah. Bisa jadi karena kamu terlalu capek dan lupa melakukan prosedur perawatan kaki setelah amputasi."


Dokter Haris mulai mengatakan segala kemungkinan yang sedang dirasakan oleh Baby. Ia sama sekali tidak menutupi semua hal yang ia ketaui dan langsung memberitahukan hal tersebut pada Baby.


"Bisa seperti itu ya, dok?"


"Bisa banget, hal itu wajar kok. Apalagi aku lihat akhir-akhir ini jam terbangmu begitu meningkat. Kemungkinan hal itu membuat kakimu yang belum sepenuhnya pulih menjadi lelah karena menanggung beban yang cukup tinggi. Hingga membuatnya semakin cepat sakit."


"Jadi solusinya?"


"Kurangi jam kerjamu, mungkin hal tersebut akan membuat kakimu lebih terasa nyaman."


Dokter Haris sudah kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Baby sudah kembali duduk dan turun dari brankar. Sama seperti tadi, Baby kembali duduk di hadapan dokter Haris.


"Nggak ada solusi lain?"


"Hm, baiklah, terima kasih dokter, tetapi aku ada satu permintaan lagi."


"Apa itu?" tanya dokter Haris penasaran.


Belum sempat Baby melanjutkan ucapannya, pintu ruang praktek dokter Haris terbuka dengan tiba-tiba. Muncullah sosok wanita cantik yang sebelumnya ia tabrak di lantai bawah.


"Ka-kamu!" ucap mereka berbarengan.


"Oh, jadi kalian pernah ketemu ya? Wah sepertinya sangat seru!" ucap Baby dalam hati melihat ekspresi keduanya.


"Maaf dokter, wanita di ambang pintu itu adalah temanku sekaligus coach di agency model, mohon maaf sebelumnya jika kedatangannya mengagetkan dokter."


Dokter Haris tersenyum ramah terhadapnya, lalu mempersilakan Mariska untuk duduk.


"Nggak apa-apa, silakan masuk Nona!"


"Maaf ya dok, jika aku menganggu jam praktekmu. Aku kira kamu tidak sedang memeriksa Baby. Karena takut jika ia hilang, maka dari itu aku mengawalnya sampai ke sini."


"No problem."


"Jika dilihat ternyata dia cukup cantik dan body-nya lumayan. Sepertinya bermain dengannya cukup menyenangkan!"


Baby yang hafal dengan gelagat dokter Haris berdehem keras.


"Maaf ya dok, matanya tolong dikondisikan di tempat yang sebenarnya, bisa?"


Ucapan dari Baby cukup mencolek dan menyentil jantung dokter Haris. Tepat sasaran dan sesuai dengan pemikirannya.


"Sorry," cicit dokter Haris.


"Terima kasih Nona Mariska, sudah mau repot-repot datang ke tempat ini. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu pada Anda, tentang sesuatu hal."


Mariska menatap dokter Haris dengan tajam, "Apa itu dokter?"


"Saya kira perubahan jadwal kerja yang digunakan Baby sejatinya harus di rubah sekali lagi. Semua yang saya lakukan sebagai upaya agar kondisi kaki Baby mulai membaik."


"Seperti yang aku duga."


Mariska sudah tau apa yang diinginkan dokter di hadapannya ini, hanya saja ia memang tidak bisa menegur Baby secara langsung karena Baby mempunyai sikap optimis dan profesionalisme kerja yang tinggi. Sehingga jika ingin mematahkan keinginannya harus perlahan dan kontinu. Tentunya tanpa sepengetahuan Baby.


Tetapi sorot mata dokter Haris ketika mengatakan hal tersebut membuat Mariska jengah. Ia pun langsung mengucapkannya saat itu juga.


"Terima kasih Baby aku kira ada hal lain yang akan disampaikan olehnya. Ternyata ucapanmu sangat benar, Beb!"


"Masak sih, maaf aku kurang paham, bagian yang mana itu, Kak?"


"Bagian tolong jaga pandangan matamu," ucap Mariska sambil menutup mulutnya dan melirik ke arah dokter Haris.


Sebetulnya ia sudah menyadari jika dokter Haris agak aneh sejak tadi, hanya saja dia tidak berani menegurnya secara langsung. Sedangkan yang disindir sudah mati kutu, siapa lagi kalau bukan dokter Haris yang sejatinya seorang player.


"No problem, yang terpenting semua yang ingin aku katakan tadi sudah aku katakan. Semoga saja semuanya bisa kita mulai dua hari lagi, nggak apa-apa kan Nona Mariska?"


"Eh, enggak. Nggak apa-apa maksudku, aku seharusnya berterima kasih padamu karena sudah berhasil membujuk Baby untuk lebih fokus ke kesehatannya."


"Ya sudah kalau tidak ada lagi yang berkomentar, saya anggap semuanya setuju."


"Terserah dokter yang terpenting kesehatan Baby jauh lebih utama," ucap Mariska.


Sesaat kemudian kedua wanita tadi segera berlalu. Dokter Haris menatap tajam punggung Mariska yang telah pergi. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik ketika menatap Mariska, apa itu ya?


.


.


...🌹Bersambung🌹...