LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 113. MENYELESAIKAN MASA LALU



"Maaf jika aku harus mengajakmu untuk pergi mengunjungi makam mantan pacarku," ucap Baby lirih.


Tangan Maxime menggenggam jemari Baby dengan lebih lembut. Menyalurkan ketenangan agar Baby tidak merasa sedih ataupun merasa tidak enak karena mengajaknya.


"Baby, dengerin ucapan dariku ini."


Perlahan Baby mulai memberanikan diri kembali menatap Maxime sang pujaan hati. Melihat ke dalam matanya.


"Masa lalu adalah bagian dari masa depan kita. Kalau tidak ada masa lalu itu artinya tidak akan ada masa depan."


"Percayalah setiap masa lalu itu akan menjadi sebuah kekuatan saat nanti kita membutuhkan support dan dukungan dari lingkungan luar yang kejam."


Baby tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Maxime yang tak pernah berhenti absen meski Baby tidak pernah mau mengakui segala hal yang ingin ia lakukan.


"Aku banyak cara untuk berburu, maukah kamu ikut dengan ku untuk meneliti sebuah hutan tropis di salah satu distrik ketika kita kembali nanti."


"Aku sih ikut aja."


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di pemakaman umum. Mobil berwarna putih itu kini telah terparkir rapi di depan makam. Dengan dibantu Maxime Baby mulai turun dari mobil. Tidak lupa ia membeli bunga tabur di samping pintu gerbang.


Mereka berjalan beriringan dengan memakai baju dan aksesoris berwarna hitam mulai memasuki area makam. Langkah Baby mulai terasa berat. Semakin lama ia berjalan, semakin memorinya berputar cepat kembali ke masa lalu di mana Baby masih bersama dengan Lucky sebagai sepasang kekasih.


Baby mencengkeram erat lengan Maxime, hampir saja ia roboh jika ia tidak berpegangan erat dengannya. Maxime yang menyadari hal tersebut sudah memprediksi hal ini sejak awal segera membawa Baby menepi. Diusapnya keringat yang mengalir di keningnya.


"Kamu nggak kenapa-napa? Muka kamu pucat banget sayang."


Baby menggeleng, berusaha menghapus dan berdamai dengan masa lalunya. Ia mengatur nafasnya secara perlahan.


"Jangan memaksakan otakmu untuk berkerja lebih keras lagi, biarkan semuanya berjalan sesuai takdirnya."


Setelah beberapa saat beristirahat, Baby mulai meminta pada Maxime agar bisa ikut dengannya.


"Serius mau jalan lagi?" tanya Maxime yang terlihat hawatir padanya.


"Iya aku serius, ayo."


Melihat cuaca yang tidak kondusif membuat Baby harus meluruskan niatnya. Beberapa langkah kemudian mereka telah sampai di makam Lucky.


Kaki Baby gemetar, tetapi Maxime menguatkan Baby dari arah belakang. Baby mendudukkan dirinya di samping makam lalu mulai mendoakannya. Setelahnya ia menaburkan bunga-bunga di atas makam, sesekali ia melihat ke arah Nisan yang di sana jelas tertulis nama Keandra Lucky, delapan belas tahun yang lalu.


...Andaikan aku bisa,...


...Karena aku tidak ingin terbang lagi...


...Andaikan aku bisa,...


...Aku ingin mengiris-iris hatiku...


...Karena aku tidak ingin larut dalam perasaanku...


...Andaikan aku bisa,...


...Aku ingin menghancurkan memori di otakku...


...Karena aku ingin melupakan semua kenangan masa laluku...


...Aku bahagia...


...Aku senang...


...Tapi aku hancur...


...Kamu datang dengan memberikan seribu kebahagiaan...


...Lalu, kamu pergi dengan meninggalkan seribu kesedihan...


...Mungkin ini cukup adil,...


...tapi seribu kebahagiaan yang kau berikan di masa lalu,...


...tidak akan bisa mengobati luka yang kau tinggalkan...


...Kini kematian telah memisahkan kita...


...Meski kita pernah bersama tetapi jujur aku tidak pernah membecimu...


...**Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu dan melapangkan kuburmu. ...


...Aamiin**....