LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 109. SETUJU



Ke-empat orang dewasa itu kini saling berhadapan di salah satu meja tamu. Menikmati hidangan makan malam setelah acara puncak ulang tahun Jas Jus selesai. Awalnya suasana begitu hangat dan penuh senyuman, sampai tiba di mana Ayah Jas Jus mulai berbicara, suasana mulai menegang kembali.


"Hm, kalau boleh tau kamu namanya siapa?"


"Bukannya tadi sudah berkenalan?"ucap Michael dalam hati.


Meski begitu ia tetap bersikap sabar.


"Michael Om."


"Michael kakaknya Baby Corn."


"Iya, tepat sekali Om."


"Michael Adiguna Sanjaya?" tanya Ayah Jas Jus sambil membetulkan kaca matanya.


"Betul, saya kakak laki-laki Baby."


"Udah dewasa banget ya, mana gagah pula."


"Ha-ah?"


"Bukankah kau pemilik salah satu perusahaan properti yang sedang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini?"


"Maksudnya?"


"Jangan berbohong, berita tentang kehebatan tangan dingin pimpinan tersebut, telah berhasil membuat perusahaan berkembang dengan pesat dalam satu tahun terakhir, itu pasti campur tanganmu?"


"Bagaimana Papa bisa tau?"


Mama Kara tidak kalah terkejutnya dengan pengetahuan suaminya terhadap Michael. Ayah Jas Jus membetulkan letak kaca matanya.


"Tentu saja Papa tahu, karena teman Papa semuanya hampir membahas tentang perusahaan yang dipimpin oleh Michael."


"Wah, berarti calon mantu kita terkenal dong, Pa?" tanya Mama Kara pada suaminya.


Jas Jus yang sedang menyendok salah satu makanan ke mulutnya menjadi tersedak karena ucapan sang Mama.


"Uhuk!"


"Pujaan hati sampai terkenal begitu, kamu malah tidak tahu, kamu sungguh keterlaluan deh!"


Buru-buru Mama Kara menyerahkan satu gelas air putih pada putrinya itu.


"Kamu ini, malu-maluin Mama aja, Jes."


"Mama sih bicaranya ngawur, Papa juga ikut-ikutan," ucap Jas Jus tidak terima.


"La, yang Papa omongin kan bener, Michael calon menantu Papa? Ya, kan?"


Michael yang tahu kemana pembahasan kali ini masih berusaha menetralkan emosinya. Ia tidak mengangguk ataupun membantah ucapan Ayah Jas Jus barusan. Tiba-tiba Mama Kara turut berkomentar.


"Kalau Mama sih setuju aja, kalau Papa gimana?"


"Syukurlah kalau Mama setuju, aku pun sangat setuju akan perjodohan kalian," ucap Ayahnya Jas Jus.


Mama Kara menatap aneh suaminya, diikuti ketiga orang di depannya saat ini.


"Lah maksud Mama bukan begitu sih, Pa. Apa itu tidak kecepetan?"


Semua mata tertuju pada Ayah Jas Jus, mempertanyakan tentang apa yang dimaksud dengan pernyataannya barusan. Namun, Ayah Jas Jus tetap bersikap biasa, seolah ia mengatakan hal yang sebenarnya. Sampai akhirnya Jas Jus yang membuka suara.


"Maksud Papa apa sih?" tanya Jas Jus curiga.


"Uhuk, bukannya lelaki ini yang melamar kamu?" tanya Ayah Jas Jus tanpa rasa berdoa.


"Astaga Ayah salah orang," ucap Jas Jus dalam hati.


Padahal di dalam hati Michael, ia merasa tidak tenang karena harus berpisah dari Baby, tetapi demi menghormati permintaan adiknya, ia rela berkorban kali ini. Sayang, pengorbanannya malah di salah artikan seperti ini.


"Ya Tuhan, apakah aku sanggup berada di lingkungan keluarga seperti ini, terjebak pada sesuatu yang sangat aku hindari?" gumam Michael dalam hati.


Jas Jus yang sebelumnya bahagia kini merasakan aura menusuk dari sorot mata Michael. Menghunus tajam merobek pertahanan hati Jas Jus yang semula bahagia menjadi menderita. Suasana kini menjadi kelam pada akhirnya.


"Kenapa pula Papa membuat masalah sih?" gumam Jas Jus.


Ia memandang Michael untuk sesaat, sampai ia susah menelan salivanya saat tatapan itu beradu dengannya.


"Kalau bukan karena Baby, aku pasti sudah pergi dari sini."


Mama Kara yang peka akan kondisi tersebut melirik ke arah suaminya tetapi malah diabaikan. Tentu saja Mama Kara kesal dan langsung menginjak kaki suaminya.


"Awh, Mama ngapain sih?"


Sorotan tajam Mama Kara menggiring arah pandang suaminya ke arah Jas Jus dan Michael. Dengan setengah berbisik, ia mendekati istrinya.


"Mereka nggak kenapa-napa kan, Ma?"


"Lihat aja sendiri, Papa kan bisa lihat!"


"Astaga salah lagi," gumam Ayah Jas Jus sambil mengembuskan nafas kasarnya.


.


.


Di sisi lain, Baby merasa sangat bahagia karena pujaan hati telah menyatakan perasaan kepadanya. Ia tidak menyangka jika Maxime merelakan dirinya terbang jauh dari Inggris langsung ke Indonesia hanya untuk mencari keberadaan dirinya yang pergi tanpa pamit.


"Sayang, maafkan aku ya, udah nggak ijin saat mau datang ke sini?"


Maxime menggeleng, "Lain kali apa pun, kemana pun kamu pergi, jika tidak bisa memberi kabar secara lisan, setidaknya kirimlah sebuah pesan untukku."


Maxime kembali menatap wajah calon istrinya itu, "Jadi, apa jawaban untuk permintaan dariku barusan?"


"Eh, ehm ... itu .... "


Maxime berdiri dari tempat duduknya, memunggungi tubuh Baby dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Baby yang merasa tidak enak hati karena belum menjawab permintaan dari Maxime akhirnya ikut berdiri dan mensejajarkan dirinya di samping dokter Maxime.


"Aku bersedia dokterku yang tampan."


Seketika mata dokter Maxime berbinar, ia menoleh ke arah Baby dan memegang bahunya sekali lagi.


"Bisakah kau mengulangi ucapanmu barusan?"


Dengan malu-malu dan wajah merona, Baby mengulang kembali ucapannya barusan. Ekspresi Maxime tidak terduga. Ia berjingkrak-jingkrak tidak karuan karena hal itu. Mulutnya mengucap syukur hingga berkali-kali hingga pada akhirnya ia mengecup mesra kening Baby malam itu.


"Terima kasih cinta, akhirnya aku bisa menemukan cinta sejatiku, terima kasih Tuhan."


Baby telah mencoba membuka hatinya saat ini, baginya kenangan masa lalu sudah saatnya ia tutup, lagi pula di hadapannya saat ini sudah ada seorang lelaki yang mapan. Baby berjanji untuk selalu menjaga cinta mereka ke depannya. Apa pun cobaan yang menerpa mereka berdua, dengan kepercayaan yang kuat sudah pasti semua bisa di atasi.


Akhirnya malam itu bisa mereka lewati dengan sangat indah. Menatap bintang yang bertaburan di angkasa sebagai pemanis jika kedua insan tersebut sudah menetapkan pilihan hatinya.


"Kesungguhan hati seorang lelaki itu terletak pada ucapannya. Jika sekali ia berkata jujur maka selamanya ia akan berusaha menjaga kepercayaan dari orang yang ia cintai. Tetapi ketika ucapan hanya sebatas pemanis, maka seterusnya ia akan menciptakan kebohongan-kebohongan yang baru dan sudah bisa dipastikan jika lelaki model seperti itu tidak akan pernah menetap pada satu hati atau pun menjaga ucapannya."


Beruntung, kini Baby menemukan seorang lelaki yang mendekati sifat sempurna. Seorang duda yang berprofesi sebagai dokter muda, tidak banyak tingkah dan insyaAllah setia. Meskipun Maxime duda, tetapi ia masih terlihat bugar dan seperti pemuda berusia dua puluh lima tahun, sehingga ketika nanti bersanding dengan Baby sangat pantas dan cocok.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Lalu bagaimana dengan kelanjutan kisah Jas Jus dan Michael? Bentar ya, nanti aku buat lika-liku untuk mereka. Namun, sekarang fokus dengan Baby dan duda kece Maxime dulu ya. Jangan lupa like n komennya ya, terima kasih banyak.