
Ketika hati telah tersakiti, maka semakin lama rasa cinta itu akan berubah menjadi benci. Bedanya tipis sekali antara cinta dan benci. Tetapi ingat, jika seorang wanita telah tersakiti maka tunggulah pembalasan dendam darinya yang akan membuatmu menangis darah wahai para PELAKOR.
Jas Jus mengusap gusar wajahnya, rasanya ia tidak rela jika ia sampai kalah saat ini. Kalau melawan Cherry si ulet bulu saja ia bisa, kenapa masih ragu untuk mengalahkan si wanita itu?
"Jangan sebut namaku Jas Jus jika aku tidak bisa menyingkirkanmu!"
Jas Jus segera bangkit dan memperbaiki riasannya. Sepatu yang tadi dilempar kini sudah ia ambil kembali.
"Repot banget deh, ngapain coba tadi pake lempar sepatu!" keluh Jas Jus.
Tidak lupa ia mengibaskan rambutnya dan memakai sebuah kaca mata hitam untuk menutupi mata bengkaknya.
"Kalau kayak gini kan cakepnya kebangetan."
Jas Jus mencoba menyemangati dirinya. Berpura-pura tegar agar ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja putus cinta. Dengan langkah tegap ia mencoba berjalan tegar ke depan, sayang baru saja beberapa langkah ia menabrak seorang lelaki.
Mungkin karena ia memakai kaca mata hitam, lelaki bertubuh tegap yang sudah berdiri di depannya kali ini tidak terlihat, sehingga secara tidak sengaja Jas Jus menabraknya. Tentu saja yang terpental kali ini adalah Jas Jus karena tubuhnya yang mungil.
"Awh .... " pekik Jas Jus sambil memegangi keningnya.
Bukannya meminta maaf, lelaki tadi malah menggertak Jas Jus.
"Punya mata nggak?"
"Sorry," cicit Jas Jus.
"Bentar, kok gue familiar ya sama suara dia?" ucap Jas Jus di dalam hatinya.
Sementara itu lelaki yang menabraknya sudah jengah karena wanita di depannya malah diam di tempat. Karena Jas Jus tak kunjung minggir atau pun membuka kaca matanya, lelaki itu justru membuka paksa kaca mata milik Jas Jus. Karena dilakukan secara kasar hingga membuat Jas Jus mengaduh karena merasa terganggu.
"Argh ...."
Bukannya melotot pada lelaki yang membuka paksa kaca mata miliknya, Jas Jus malah menutup kedua matanya karena terlalu silau akan cahaya matahari siang itu. Maklum karena saat ini ia otaknya lagi loading dan baru saja terluka karena cinta, membuat Jas Jus tidak bisa fokus pada sekitarnya.
"Apa wanita ini malu menatap wajahku?" ucap Bryan dalam hati.
Merasa mengenali wanita di depannya, hal lain justru dilakukan oleh Bryan. Karena gemas, Bryan menyingkirkan tangan yang digunakan untuk menutupi wajah cantik Jas Jus. Ia sudah menyadari jika wanita di depannya saat ini adalah tantenya yang muda.
"Jessie ... serius ini kamu, cantik banget sih!"
"Perasaan gua pernah dengar suara ini?"
Karena merasa namanya dipanggil ia menengadahkan wajahnya ke atas.
"Bryan ... ini kamu, serius?"
Bryan mengangguk.
"Gue kangen weh, hua ...."
Tanpa menunggu lama, Jas Jus langsung berhambur memeluk tubuh adik keponakannya itu. Rasanya hal paling nyaman yang ia butuhkan saat ini adalah pelukan. Jas Jus tidak peduli dengan hal apa pun lagi selain pelukan.
"Jessie, kamu nggak pernah makan ya? Kok makin kecil aja sih?"
"Bengek, Lu tuh ya, yang makan apaan? Badan udah kaya tiang bendera aja."
"Wkwkwk, bukannya cowok itu lebih macho jika tubuhnya tinggi ya?"
"Iya juga sih," ucap Jas Jus sambil mengetuk-ngetukan jari telunjukknya ke pipi.
"Tunggu dulu, coba sini aku lihat ke dalam bola matamu."
"Memangnya ada apa?"
"Kamu habis nangis, kah?"
Jas Jus terdiam karena tebakan keponakannya kali ini benar. Meskipun mereka keponakan dan tante, tetapi rentang usia mereka tidak kalah jauh. Bedanya sejak kecil Bryan tinggal di Australia sehingga mereka sudah lama tidak bertemu.
"Jalan-jalan, yuk!"
"Kemana?"
"Udah ikut aja, naik mobil gue!"
Jas Jus terlihat pasrah ketika Bryan menarik tangannya ke arah mobilnya. Sementara mobilnya ia tinggalkan di taman. Sebelum menutup pintu mobil, Bryan menoleh ke arah Jas Jus.
"Lu bawa mobil?"
"Ya sudah, biar nanti diambil sama sopir aja ya."
"Hm," ucapnya malas.
Akhirnya mobil berwarna hitam itu melaju membelah jalanan. Mereka masih terdiam ketika di dalam mobil. Untuk mengusir kejenuhan, Bryan memutar musik.
"Jes, temani gue makan ya?"
"Oke."
"Singkat banget jawaban kamu, kayaknya lagi broken heart deh!"
"Dah tau tanya."
"Gue suka kejujuran kamu, tapi aku lebih suka sikap ceria dari kamu."
"Lain kali aja."
"Seharusnya kalau kamu disakiti di balas dong, masa Jessie bisa sakit hati. Cinta sama benci itu beda tipis Jes. Jadi misal Lu disakitin sama cowok, seketika itu juga Lu harus bangkit dan tunjukkan kalau kamu bisa berdiri meski nggak ada dia di samping kamu."
"Begitu ya?"
"Iya lah."
Mata Jas Jus sedikit memicing, instingnya mengatakan jika akan ada sesuatu di dalam, maka dari itu ia agak ragu ketika diajak masuk ke dalam.
"Tunggu, ngapain kamu ngajak aku ke sini?"
"Ya makanlah, gue laper."
"Bengek ya tau Lu lapar, tapi kenapa sampai ke sini."
"Resto yang aku tau baru tempat ini, daripada gue pingsan duluan mending ajak kamu ke sini aja yang lebih dekat."
"Serah Lu deh!"
Jas Jus yang malas berdebat lebih memilih diam dan menuruti semua permintaan Bryan.
"Cecan, liat sini dong."
"Ogah, males!"
"Ya dah kalau males, yok ikut gue sekarang!"
"Astaga, perasaan dari tadi sikap Lu nggak ada manis-manisnya ke cewek, gue itu tante Lu ya! Sopan dikit napa!"
Bryan mengacak rambut Jas Jus dengan gemas.
"Tapi gue takut, kalau gue lembut sama Lu, ntar kamu jatuh cinta sama gue!"
"Kampr*t!"
Bryan memegang dagu Jas Jus, "Cewek cantik nggak boleh ngomong kasar."
Seketika Jas Jus menjauhkan tangan Bryan dari wajahnya.
"Ponakan gila! Najis gue dipegang sama Lu!"
Setelahnya Jas Jus segera turun sebelum Bryan membuka pintu mobil untuknya, tetapi Bryan tidak sakit hati. Ia tetap mengerjai Jas Jus dengan suka rela, karena hal itu bisa membuat hatinya bahagia. Setidaknya ada mainan baru ketika ia berada di Indonesia.
Sayang, ketika masuk ke restaurant tersebut arah mata Jas Jus tertuju pada sebuah meja. Ternyata di sana ada Michael dan wanita ular itu.
Untungnya, Bryan menyadari hal tersebut. Demi membantu tantenya, Bryan pun menggandeng mesra tangan Jas Jus saat melewati meja Michael.
Saat sampai di meja, Bryan tetap berpura-pura memanjakan Jas Jus. Tujuan utamanya agar lelaki yang menyakiti Jas Jus itu sedikit membuka mata, meskipun tanpa dia, Jas Jus tetap bahagia.
"Jes jangan terlihat lemah dan nikmati saja perlakuan manis dariku ini," ucapnya lirih sambil mencium punggung tangan Jas Jus.
Meskipun tidak saling menyapa, tetapi ketika melihat Jas Jus bersama pria lain, ternyata membuat hati Michael memanas.
.
.
...🌹Bersambung🌹...