LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 88. WANITA YANG SAKIT



Penerbangan selama lebih dari sepuluh jam membuat badan Michael terasa capek dan pegal-pegal. Setibanya di Paris, tujuan utamanya adalah Rumah Sakit tempat Baby di rawat.


"Semoga kamu nggak kaget saat melihatku nanti."


Michael membenarkan kaca mata yang ia pakai dan terus melangkah ke depan. Mobil rumah yang ia pesan sudah menunggunya di pintu kedatangan.


"Selamat datang Tuan, silakan masuk."


Michael bergegas masuk ke dalam mobil dan memberikan perintah pada sopirnya menuju Rumah Sakit. Selama perjalanan masih ia gunakan untuk mengecek laporan keuangan perusahaan miliknya, tetapi matanya teralihkan pada ponselnya.


"Lima puluh message, sepuluh kali panggilan tak terjawab? Siapa ini?"


Alis Michael saling bertautan satu sama lain, menandakan jika ia tau siapa pelakunya. Karena rasa penasaran yang terlalu tinggi, ia membukanya, "Astaga, sudah aku duga."


Pelakunya adalah Jas Jus. Tetapi ini bukan waktunya untuk memikirkan gadis ababil ini, melainkan hanya Baby yang menjadi prioritasnya saat ini.


🍂Di Rumah Sakit.


Pemilik iris mata biru itu akhirnya membuka mata. Matanya mengerjab untuk beberapa kali. Sungguh rasanya tubuhnya lelah sekali. Saat ia hendak memindahkan tangannya karena kebas, Baby terkejut ketika sebuah tangan menggenggam erat sebelah tangannya.


"Maxime, benarkah itu kamu?"


Maxime yang tidak menyadari jika dirinya tertidur begitu lama tersentak. Pening, itulah yang ia rasakan saat ini.


"Astaga aku ketiduran di sini? Jam berapa ini?"


"Sejak kapan kamu datang?"


"Baby, kamu sudah siuman?"


Ia mengangguk, tetapi wajah cantiknya masih terlihat sayu.


"Kamu kenapa sayang? kok sampai sakit lagi?"


"He he, aku lupa bawa mantel saat keluar rumah, jadi aku pun lupa kalau hal itu sangat beresiko terhadap kesehatanku."


Tanpa mau berkata lebih banyak lagi, dokter Maxime hanya menumpahkan kerinduannya dengan cara menenggelamkan tubuh Baby ke dalam pelukan hangatnya. Kedua insan itu sejenak melepaskan kerinduan yang mereka miliki dengan cara tersebut.


Hingga mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka dari ujung pintu yang sedikit terbuka.


"Jadi itu alasan dibalik kamu menolak perasaanku padamu. Dasar wanita murahan!"


Bukannya pergi, dengan nekadnya Steffany masuk ke ruang perawatan Baby. Dengan lantangnya ia meneriaki Baby dan Maxime di sana.


Sontak saja Baby melepas pelukan dari Maxime, begitu pula dengan Maxime yang terkejut akan kedatangan Steffany.


"Kamu, ngapain kamu ke sini! Jaga ucapanmu Steffany hubungan kita hanya sebatas kakak dan adik, tidak lebih dari itu!" gertak Maxime.


Steffany yang mendengar perkataan menyakitkan dari Maxime hanya bisa menahan amarahnya. Dadanya bergemuruh hebat, mungkin saat ini kesabarannya sudah habis, hingga ia tidak bisa membendung emosinya kembali.


Steffany melangkah maju dan mendorong tubuh Baby dengan kasar. Beruntung Maxime bisa menangkap tubuhnya dan menepis kasar tangan Steffany.


"Berani kamu menyentuh calon istriku, akan aku habisi kamu!"


Maxime yang biasanya bisa menahan amarahnya kini terlihat berbeda. Baby sampai menutup mulutnya karena ketakutan dengan sikap Maxime yang berubah seperti ini.


Serangan Steffany tidak berhenti sampai di situ, ia menarik paksa selimut Baby dan hendak mencakar tubuhnya. Saat kain penutup kaki terbuang betapa terkejutnya Steffany saat menyadari kekasih Maxime itu cacat. Sontak ia tertawa terbahak-bahak karena hal tersebut.


"Ha ha ha ... dasar murahan! Cacat pula, masih berani mendekati Maxime. Kamu tuh nggak pantas buat mendampingi dokter segagah dan setampan Maxime, paham!"


Plak


Sebuah tamparan berhasil mendarat mulus di pipi Steffany. Maxime benar-benar geram dengan tingkahnya kali ini. Niat hati ingin menolongnya tetapi malah yang didapatkan seperti ini.


"Cepat keluar dari sini! Atau aku suruh security untuk menarik paksa dirimu!"


"Cih, ingat kau wanita murahan, masalah ini belum selesai!" ucap Steffany sebelum ia benar-benar melenggang pergi.


Baby yang masih syok dengan kejadian ini. Maxime pun mencoba menenangkan Baby. Tidak lupa ia kembali menutupi kaki Baby dengan kain penutup yang baru.


"Si-siapa wanita itu, kenapa mulutnya pedas sekali?"


"Bolehkah aku bercerita sedikit kepadamu?"


Baby mengangguk perlahan, setidaknya ia tau dari awal daripada salah menduga. Saat Baby terlihat cukup tenang, dr. Maxime mulai bercerita.


"Maaf Baby, aku belum sempat bercerita tentang Steffany kepadamu. Dia adalah saudara jauh anak dari rekan bisnis kakek yang sempat di jodohkan denganku, tetapi perjodohan itu telah dibatalkan sejak lama jauh sebelum aku menikah dengan Cherry."


"Lalu, kenapa ia masih mengejarmu?"


"Entahlah, yang pasti ia tidak mau melepasku karena jiwanya yang terlanjur sakit. Lagi pula ia mengidap penyakit tertentu."


"Apa itu?"


"Penyakit yang ia derita adalah ...."