LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 105. KEJUTAN



Setelah menunggu selama hampir dua jam delay, pesawat yang membawa dokter Maxime akhirnya bisa take off. Kini ia akan merasakan penerbangan dalam waktu yang lama untuk pertama kalinya. Karena sejak kecil ia tidak pernah melakukan perjalanan sejauh ini, tetapi demi pujaan hatinya kini ia rela melakukannya tanpa ragu-ragu.


"Semoga Baby menyukai kejutan manis dariku."


Maxime tersenyum sambil membayangkan jika Baby akan memaafkan dirinya karena telah mengabaikannya selama beberapa hari ini.


"Tidak ada keinginan lain selain membuatmu bahagia Baby, love you so much n more."


Kakek Delicious menyunggingkan senyumannya sesaat setelah Jack memberikan laporan. Hatinya berbunga saat menyadari bahwa cucunya sampai melakukan hal yang nekad seperti ini hanya karena seorang gadis.


"Hm, aku ingin tau sejauh mana kau berusaha, ha ha ha ... ternyata pacaran dengan gadis belia bisa membuatnya sampai di titik ini. Tapi tak mengapa, karena hal ini sangat menyenangkan."


Itulah ekspresi yang ditunjukkan ketika Jack baru saja memberikan laporan rutin kepada Kakek Delicious.


Kakek Delicious berbalik lalu melanjutkan langkahnya menuju ke sudut favoritnya di pekarangan rumahnya. Sebuah gazebo kecil yang tidak jauh dari makam istrinya yang tercinta.


Kakek Delicious belajar banyak dari mantan istrinya. Cinta sejati yang tidak pernah ia dapatkan dari wanita lain. Semasa hidupnya istrinya tidak pernah mengeluh tentang apa pun. Perlakuan kasar, penghianatan cinta jatuh miskin pernah ia rasakan semuanya.


Bahkan di saat ia terkena sebuah penyakit yang mematikan, tidak pernah sekalipun ia menyalahkan takdir. Hanya satu pesannya, "Jangan pernah kau sia-siakan orang yang mencintaimu dan menyayangimu, sekali ia terluka maka jangan pernah berharap ia bisa kembali."


Perkataan dari istrinya itu sampai saat ini tidak pernah ia lupakan, meskipun kini hanya kenangan yang tertinggal di dalam hati. Maka dari itu ia tidak ingin melihat cucunya sampai menyakiti hati wanita. Kini ia hanya bisa berharap jika Baby adalah orang yang tepat untuk berada di sisi Maxime.


Sambil memandangi makam istrinya ia pun menceritakan semuanya. Seolah sedang berbagi cerita padanya sama seperti sebelum ia meninggalkan dunia ini.


"Sayang kau lihat betapa aku sudah merasakan kebahagian sedikit saat ini, semua karena cucu kita hampir menemukan cinta sejatinya."


"Akh, kenapa tidak dari dulu saja aku melakukan hal ini, setidaknya bisa membuat hiburan tersendiri untukku, bukankah begitu sayang," ucapnya sambil menyematkan beberapa bunga mawar merah yang baru saja ia petik dari taman bunga peninggalan istrinya.


Kakek merasa jika Maxime akan lebih bahagia jika bersama Baby, oleh karena itu ia pun sengaja menguji hubungan mereka dengan mengirim Maxime kuliah di Inggris. Beruntung Baby tidak menghalangi niat baiknya dan selalu mendukung semua kerja kerasnya.


Namun, hal lain sedang dirasakan oleh Jack saat ini. Padahal saat ini ia sedang berada di dalam pesawat yang satu maskapai dengan Maxime, Tuan Muda sekaligus Bosnya, tetapi bukan kebahagiaan karena bisa ikut liburan melainkan ia khawatir jika Maxime akan memberikan tugas yang lebih tidak masuk akal setelah ini.


Jack tidak pernah merasakan ketakutan apa pun, tetapi berada di sisi Maxime jauh menakutkan dibandingkan semua hal yang pernah ia lalui.


Bahkan disaat berada di dalam pesawat Jack masih merasakan ketegangan seperti ini.


Terlebih tempat duduknya sangat berdekatan dengan dokter Maxime. Hal itu membuat Jack tidak leluasa bersikap. Kalau disuruh memilih Jack akan memilih tinggal bersama Kakek Delicious ketimbang bersamanya. Entah kenapa aura orang jatuh cinta jauh lebih menakutkan ketimbang yang lainnya.


"Ya Tuhan, semoga Tuan Muda tidak membuat masalah baru untuk hamba, aku hanya ingin istirahat sebentar saja," ucapnya sambil menengadahkan wajahnya menatap langit-langit pesawat.


Entah kenapa insting Jack sudah memberikan alarm kepadanya saat ini. Hanya saja sepertinya Maxime sedang baik-baik saja, sehingga tidak ada perintah ataupun percakapan hari ini.


Maxime yang merasa di awasi oleh Jack kemudian menoleh ke arahnya.


"Ngapain lihat-lihat!"


"Eng-enggak Bos, saya nggak lihat kok."


"Trus kenapa dari tadi sorot matanya ke arahku terus?"


"Saya hanya mau minta ijin buat istirahat sebentar, boleh kan Pak Bos, saya mengantuk sekali."


Maxime menoleh sekali lagi ke arah Jack yang masih tegang.


"Iya, silakan, lagi pula disaat seperti ini memang lebih enak buat istirahat aja."


"Tumben Bos punya rasa iba pada saya," batin Jack.


Kedua mata Jack berbinar lalu tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih banyak Pak Bos."


"Hm."


"Akhirnya saya bisa istirahat, terima kasih Tuhan."


.


.


"Baby ... boleh minta tolong nggak?"


"Loh kok rapi banget, kan acaranya nanti sore, sekarang kok udah rapi?"


Tiba-tiba Michael sudah berdiri di depan adiknya dengan berpakaian rapi lengkap dengan stelan jas kantor yang rapi.


"Ya kan masih pagi Baby, Abang mau ke kantor dulu lah, lagi pula ada meeting pagi."


"Owh, kirain. Ya dah sono pergi, ati-ati ya."


Michael mengangguk lalu mencium kening adiknya setelah Baby selesai merapikan dasi milik abangnya.


"Nanti kalau mau ke mana-mana, bisa hubungi Abang atau minta antar Pak Joko."


"Siap, siap."


Setelah berpamitan, Michael langsung pergi. Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Michael sudah melaju di jalanan ini Ibu Kota yang masih sepi.


"Yah, sepi lagi deh, tetapi gue harus sabar. Karena ini weekend bagaimana kalau nge mall aja," ucap Baby sambil mendudukan pantatnya ke sofa.


Tiba-tiba mata Baby melihat ke arah jam tangan yang dipakainya. Hal ini mengingatkan Baby akan kehadiran Maxime. Hanya saja sampai saat ini entah kenapa keinginan untuk menelponnya menguap begitu saja.


"Sepertinya membiarkan Duce hidup sendiri rasanya begitu aneh," gumam Baby.


Baby tidak tau jika Maxime sedang dalam perjalanan ke Indonesia.


Bagaimana kisah serunya, tunggu up selanjutnya ya. Makasih.


Oh ya, selamat buat yang menangkan GIVE AWAY dari Fany. Ditunggu hadiah cantiknya meluncur ke rumah ya.