LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 76. CEMBURU TAK BERALASAN



Hari ini Jas Jus sudah mulai keluar dari kamarnya. Meski wajahnya masih sembab, ia tidak ingin berlarut-larut meratapi kesedihannya. Melihat putrinya sudah keluar, Mama Kara membiarkan Jas Jus melakukan apa pun yang ia inginkan.


Inilah salah satu hal yang Jas Jus sukai dari kedua orang tuanya. Tidak terlalu mencampuri urusan putrinya tetapi memberikan kesempatan agar bisa bersikap dewasa dan berdamai dengan dirinya. Mereka selalu bersikap seperti teman atau sahabat untuk Jas Jus, jadi kedekatan mereka semakin terjalin. Meskipun terkadang ketegasan juga dilakukan, tetapi hal itu-lah yang memperjelas status antara anak dan orang tua.


Melihat mamanya berada di dapur, Jas Jus pun mendudukkan dirinya di sana. Terlebih perutnya sudah meronta-ronta untuk diisi. Rasa malu dan sikapnya yang biasanya jaga image ia singkirkan demi cacing-cacing di perutnya.


"Ma, Jessie pengen pergi ke salon langganan Mama."


"Hm, nggak ada angin nggak ada hujan, tuh anak udah baikan rupanya."


Mama Kara menoleh ke arah Jas Jus, "Oke sayang, mau ke sana jam berapa?"


Jas Jus melirik ke arah jam dinding, "Bagaimana kalau jam sepuluh."


"Oke, Mama buat janji dulu sama Tante Marrie."


Jas Jus langsung protes ketika Mamanya menyebut Tante Marrie di sana, karena setahu Jas Jus, itu nama Mamanya Baby Cornelia.


"Sejak kapan Tante Marrie punya salon di Jakarta? Bukankah ia selalu tinggal di Paris?"


"Kok sama Tante Marrie? Bukannya beliau di Perancis?"


"Hahaha ... bukan Tante Marrie yang ini beda. Beliau ini pemilik salon langganan Mama di Jakarta, jadi kamu nggak usah khawatir."


"Oh kirain, oke deh! Aku mau perawatan lengkap ya Ma, ada spa juga."


"Siap sayang, percayakan semuanya pada Mama."


Mama Kara mengerling cantik ke arah putrinya lalu mengambil roti dari dalam oven. Mengetahui jika putrinya lapar dan butuh asupan gizi, Mama Kara menyiapkan makanan dan minuman ke hadapan Jas Jus.


Lalu setelah siap, ia baru menelpon Marrie, pemilik salon langganannya. Sambil menunggu Mamanya telfon, Jas Jus segera melahap satu potong roti bakar dan segelas jus yang berada di depannya.


"Tau aja kalau aku lapar," ucap Baby sambil melahap irisan roti dan memasukkannya ke dalam mulut.


Sejak Baby pergi, Jas Jus sudah jarang makan nasi. Ia lebih sering menghabiskan makanan berbahan gandum/oatmeal dan kadang diselingi dengan makan salad. Ucapan Baby yang menyebutkan kriteria cewek idaman Michael adalah wanita yang suka merawat diri membuat Jas Jus menghentikan keinginannya buat ngemil atau jajan sembarangan.


Padahal sebelum ini, Jas Jus paling hobi makan camilan kripik dan aneka kue pastry. Karena saat ini ia sudah mempunyai pujaan hati, sejak saat itu pula ia berjanji untuk diet dan lebih hidup sehat.


Lagi pula ia tidak ingin kecolongan seperti beberapa hari yang lalu.


Kejadian beberapa hari yang lalu menambah keinginannya untuk berubah. Wanita yang bersama Michael saat itu benar-benar mempunyai body yang bagus.


"Pantas saja Abang Mich menyukainya, sementara aku hobinya nangis dan makan, kapan dapat pangeran Mich sih?" gerutu Jas Jus.


Michael adalah lelaki idaman Jas Jus sejak masa putih abu-abu, tetapi ia tidak pernah melirik keberadaannya. Pertemuan pertama saat Jas Jus diajak belajar kelompok di rumahnya membuat Jas Jus remaja bisa melihat roti sobek milik Abang Mich. Saat itu ia baru saja selesai berenang, jadi pantas aja Jas Jus bebas melihat tubuhnya. Sejak saat itu Michael resmi bertahta di hati Jas Jus.


"Apa karena gue terlalu semok ya, sampai dia nggak mau melirikku?"


Banyak sekali hal yang ia ingin tunjukkan pada Michael jika ia benar-benar bisa berdekatan dengannya, tetapi kesempatan itu sangat jarang ia dapatkan. Ketemu sebentar saja, Michael seperti alergi terhadapnya, bagaimana bisa berdekatan coba? Jawabannya hanya satu yaitu sogok author pake VOTE, wkwkwk ... canda.


Oleh karena itu, keinginannya untuk diet semakin besar. Setidaknya ada setitik harapan untuk meraih cinta Michael dengan memperbaiki penampilan hidupnya.


...⚜⚜⚜...


...Paris, Perancis...


"Baby, maaf Mama hari ini tidak bisa mengantarmu ke agency model."


"Nggak apa-apa, Ma. Lagi pula hari ini jadwal pertamaku untuk pemotretan di majalah Vogue."


"Oh, ya. Lalu kamu ke sana pergi dengan siapa? Bukankah kemarin sempat terjadi human error di sana?"


"Eh, enggak Ma, udah beres kok!"


"Ya udah, kalau gitu Mama pergi ya, bye."


"Bye, Mom."


Setelah kepergian Mama Marrie, Baby menatap layar ponselnya. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan di sana. Ingin rasanya ia menghubungi dokter Maxime tetapi ia takut menganggu jadwal kuliahnya. Lagi pula waktu mereka terpaut satu jam.


"Dosa nggak sih, gangguin pacar belajar?"


Bibirnya mengerucut, bola matanya berputar malas, sementara pikirannya melayang jauh membayangkan jika ia sedang liburan di Inggris bersama Maxime.


"Asem, gue kangen dipeluk dia, astaga ... otakku yang suci ini jadi ternodai, hu hu hu ...."


Baby mengacak-ngacak gemas rambutnya. Beruntung tidak ada ayah dan ibunya yang melihat hal itu. Bisa-bisa ia menjadi bahan bully-an dari mereka kalau hal itu beneran terjadi.


Hal yang sama juga sedang dilakukan Maxime. Sambil mengerjakan tugas dari dosennya, sesekali ia juga melirik layar ponsel miliknya. Tangannya memainkan keyboard di hadapannya, tetapi pikirannya sedang bercabang saat ini.


"Kenapa Baby belum menghubungiku?"


"Apa hatinya benar-benar sudah berpaling dariku?"


Karena moodnya tidak baik membuat konsentrasinya menghilang sempurna. Dengan tidak sabar ia mendial nomor Baby, kekasihnya.


Baby yang kebetulan sedang membenamkan wajahnya di atas meja, terkejut karena ponselnya berdering.


"Hallo ...." ucapnya malas.


"Hallo sayang, kok nggak pernah telepon, lagi sibukkah?"


"Iya sibuk ngangenin kamu."


"Ha-ah, jadi dokter lagi belajar ngegombal ke saya, ya?"


"Aku serius Baby. Oh, ya kata Mama kemarin kamu hampir kecelakaan? Di mana, bagaimana keadaan kamu?" ucapnya panik.


"Aku nggak apa-apa, kok. Untungnya ada Tango yang menyelamatkan aku."


"Tango, sejak kapan kalian berhubungan? Apa kalian bermain di belakangku?"


"Maksud kamu apa sih, Yang?"


"Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Tango, kamu tau sendiri dia seperi apa?"


"Enggak percaya, buktinya kamu diem aja dipeluk-peluk oleh Tango."


"Apaan sih, aku serius nggak ada apa-apa sama dia."


"Kalau gitu kamu harus secepatnya menjauh darinya."


"Sayang, kamu kenapa sih? Kirain kita udah berpikiran dewasa, tapi ini apa ...."


Baby merasa bingung karena Maxime terlihat sangat cemburu dan bercampur amarah.


"Kamu cemburu ya sayang?" tanya Baby hati-hati.


"Iya aku cemburu, makanya aku sangat protektif sama kamu."


"So sweet, udah jangan ngambek ya, soalnya yang ada di hatiku cuma kamu, dokter Maxime Perkasa yang terhormat."


.


.


...🌹Bersambung🌹...