
Saat Steffany berada di apartemen miliknya ia sama sekali tidak bisa melihat kondisi Baby. Padahal sore ini atau selambatnya malam ini ia harus kembali ke Inggris sebelum Kakek Delicious marah terhadapnya.
"Astaga belum juga selesai satu masalah udah muncul lagi."
"Kali ini aku harus memikirkan sebuah taktik agar bisa terlepas darinya."
"Maxime ...." rengek Steffany.
Steffany yang merasa diabaikan sudah jengah akan kondisi ini.
Ia pun berjalan mendekati Maxime yang masih sibuk memeriksa berkas di laptop miliknya. Sentuhan lembut dari tangan Steffany ia kibaskan. Sungguh situasi seperti sangat ia benci dan sangat dihindari.
"Maxime sayang ...."
"Diam, aku tidak ingin dengar rengekanmu lagi!"
Sorot mata tajam dari dokter Maxime mampu membuat siapapun ketakutan kecuali Steffany.
"Aku lapar ...." ucapnya sambil memilin dasi yang dikenakan oleh Maxime.
"Lapar sih lapar, tapi jauhkan tanganmu dariku!"
"Oke sayang."
Steffany bukannya menjauh, bahkan ia menampilkan sisi imutnya agar menarik perahatian dari dokter Maxime, tetapi hal itu justru membuat dokter Maxime semakin muak.
Apalagi laporan yang baru saja didapat barusan membuat pikirannya teralihkan. Bukan laporan kantor melainkan riwayat kesehatan Steffany selama beberapa tahun terakhir ini. Ternyata Steffany menderita penyakit gangguan identitas disosiatif.
"Pantas tingkahnya semakin tidak wajar, apa karena hal ini kakek menjauhkan kami. Dulu kamu memang gadis polos, tetapi aku tidak tau jika nasibmu akan seperti ini."
Maxime menatap miris gadis di depannya ini. Sementara semakin lama ia memandangnya tingkah Steffany semakin gila.
Ia juga tidak akan mudah percaya dengan laporan ini, karena ia harus meneliti kembali apakah penyakit yang diderita Steffany ini parah atau bisa disembuhkan kembali. Saat ini tatapan matanya berbeda dengan yang ia lihat saat Steffany menggertaknya. Beberapa saat tadi tingkahnya sangat berbeda dengan kali ini, pantas jika ia menaruh curiga.
"Demi persahabatan kita maka aku akan berusaha membantumu Steff."
Melihat tatapan aneh dari Maxime membuat Steffany menyimpulkan sesuatu.
"Jangan sampai dia tau kalau aku sedang sakit, bisa-bisa ia kembali mematahkan impianku."
"Baiklah kalau kau yang memaksa, maka akan aku kabulkan saat ini. Kita mulai permainan kali ini."
Maxime menutup layar laptopnya lalu bertanya sesuatu pada Steffany. Tidak lupa ia sudah menormalkan kembali amarahnya dan bersikap lembut mungkin dengan begitu ia bisa dengan mudah mengambil sample darah darinya.
"Mau makan apa?"
"Apa saja yang kau berikan, pasti akan aku makan."
"Kau sama sekali tidak suka salad, cobalah seperti apa nafsu makanmu kali ini."
Maxime tampak sibuk di dapur selama beberapa menit hingga makanan sehat itu siap disajikan. Sementara itu di Rumah Sakit, Tango melihat salah satu suster keluar dari ruang rawat Baby segera menghampirinya untuk menanyakan sesuatu hal.
“Maaf suster, bagaimana keadaan pasien di dalam? apakah dalam keadaan yang baik atau?”
Tampak sekali raut kekhawatiran di wajah Tango.
"Nona Baby baik-baik saja, sekarang suhu tubuhnya sudah normal beberapa jam lagi saat ia siuman pasti kondisinya sudah jauh lebih baik.:
"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih untuk itu suster, bolehkah saya masuk ke dalam?”
“Boleh.”
Meski ragu tetapi ia tetap masuk ke dalam ruangan itu, tangannya mengusap pipi Baby secara perlahan.
“Benarkah itu kamu, atau kamu lupa akan keberadaanku?”
Mariska yang baru saja datang tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika menyadari jika Tango sedang berbicara pada Baby. Karena posturnya tidak terlalu jenjang ia tidak bisa mengintip dari celah jendela, melainkan hanya bisa mendengar sedikit dari percakapan mereka.
“Sebenarnya ada hubungan apa sih mereka berdua ini, bukankah perlakuan manis mereka kali ini hanya setingan, kok sampai melibatkan hati?”
Mariska yang jengah akan tingkah laku dari Tango ingin segera masuk ke dalam tetapi sentuhan lembut pada bahunya seakan mengagetkan dirinya.
“Astaga! Dokter mengagetkanku saja!”
Ternyata di belakang Mariska sudah ada dokter Haris yang berdiri menatap tajam ke arahnya.
“Kamu siapa?”
“Mariska, manager sekaligus coach Baby di agency model miliknya, kenapa?"
.
.
Hayo ada yang kangen sama dokter Haris nggak, kalau enggak aku skip nanti😆