
Ucapan Michael bukanlah isapan jempol belaka, ia justru menegaskan sesuatu pada dokter Maxime jika apapun ucapan darinya itu sebuah teguran untuk sikapnya.
"Ya, aku memang bukanlah pujangga cinta bukan pula seorang yang ahli dalam dunia cinta tetapi aku memahami jika hati setiap wanita begitu rapuh dan mudah untuk terluka. Oleh karena itu, jika benar kamu mencintai adikku maka aku mohon, tolong menjauhlah untuk saat ini."
"Tetapi aku tidak bisa jauh darinya terlebih jika melihat Baby bisa dekat dengan lelaki lain, sungguh hatiku memanas jika mengingat hal tersebut."
Michael memegang bahu dokter Maxime. Ia ingin memastikan sesuatu jika lelaki di depannya ini adalah orang yang tepat untuk adiknya, tetapi hal ini ia lakukan untuk kebaikan hubungan keduanya. Terlebih Maxime sudah mempunyai banyak pengalaman tentang dunia percintaan sementara adiknya baru dua kali ini jatuh cinta.
"Aku percaya kamu mampu, maka tunjukkan jika kamu yang terbaik untuk Baby."
Perpisahannya dengan pacar pertama bukanlah keinginan Baby, melainkan kehendak Tuhan. Maka dari itu sejak lama ia sudah merestui Maxime menjadi adik iparnya. Maxime datang ketika hati Baby sedang terluka. Bak obat penyembuh menjadikan seseorang yang spesial di awal perjumpaan adalah kunci bahwa manusia bisa berencana tetapi Tuhan yang mengijinkan.
"Terima kasih Bang, darimu aku belajar bahwa terkadang keinginan sesaat itu bisa membunuh impian seseorang yang sangat ingin kuliah tetapi ia tidak punya uang."
Sejenak Michael ingin beberapa hari saja menikmati liburan kali ini tanpa terbebani sebuah pekerjaan. Sayang, urusan cinta sepertinya membuat Michael memutuskan jika sekarang ia harus melakukan semua ini secepatnya.
.
.
"Maaf Kakek, sebelumnya aku harus bolos kuliah demi datang ke sini."
"Hm, terserahlah, itu kan urusanmu sendiri bukan lagi urusanku. Sebelumnya restuku sudah turun maka seharusnya setelah ini, kamu silakan berjuang sendiri."
"Iya Kek, aku mengerti."
Seolah paham dengan apa yang dirasakan oleh Maxime, Kakek Delicious sengaja mengatakan hal demikian agar ke depannya ia lebih hati-hati dalam memutuskan sesuatu.
"Hilih, dunia percintaan memang penuh teka teki. Semoga saja bocah ini bisa mengatasinya kali ini."
Demi mempertegas hubungannya dengan Baby, awal musim semi ini Maxime berencana untuk mendatangi keluarga Baby untuk melakukan sebuah ikatan pertunangan, tetapi sebelum itu ia harus membereskan urusannya terhadap Steffany.
"Sepertinya hanya dengan melakukan cara itu aku bisa menghentikan aksi-aksi gilanya."
.
.
Michael memutar kursinya malas dan menatap adik semata wayangnya ini.
"Astaga, punya adik kok begini amat, ya? Nggak bisa kah mengerti jika Abangnya ke sini bukan hanya untuk sekedar liburan tetapi memang menunggu kedatangan mereka untuk membicarakan sesuatu yang penting."
"Huo ... hal apakah itu, kenapa jiwa detektifku terasa bergejolak seperti ini ya?" ucap Baby menirukan gaya Maxime.
"Hilih, bukan apa-apa sih, hanya saja aku merasa jika kalau bukan urusan penting kamu nggak bakal mencari Abang. Sebegitukah arti tidak pentingnya diriku di dalam hatimu? Uh, sedihnya hu ... u ... u ...."
"Huft, nggak juga kali Bang. Gue kan cuma berbicara apa adanya. Kalau bukan hal mendesak mana mungkin lagi genting eh malah ditinggal liburan ke Paris."
Pluk
Michael melempar sebuah bantal sofa dan mengenai tubuh Baby.
"Abang kenapa nggak sopan sekali sih, sebel!"
"Nggak sopan gini tetap aja Abang kamu, kan? Jadi nggak usah bawel."
"Tapi aku punya satu permintaan, boleh?"
"Jangan bilang kangen pecel lele, bisa gue timpuk pala kamu nanti."
"Wkwkwk, nggak akan kok, aku cuma ingin Abangku yang ganteng ini jadi pacar palsu buat Jas Jus satu hari saja."
"What's, gilak, gua nggak mau!"
"Mau lah Bang, cuma sehari doang, itu pun pas hari ultah dia doang."
"Baby, Abang nggak suka becanda, jadi nggak usah minta sesuatu yang mustahil."
"Ya kali gue minta si Tango buat jadi pacar palsu Jas Jus, bisa di gorok Loli dong, masalahnya cuma Abang doang yang nggak ada pasangan, ya kan?"
"Dih kata siapa? gue punya ...."