LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 86. CANTIK TAPI GALAK



"Cantik sih, tapi galak," gumam dr. Haris sambil menyenggol bahu Mariska.


"Baru aja jadi dokter, tetapi hal sperti ini kamu tidak layak untuk berlaku tidak sopan terhadapku."


Merasa di senggol bahunya, tentu saja Mariska merasa tidak terima. Dengan mode bersungut-sungut ia menyusul dr. Haris yang langsung menyelonong masuk dengan gaya santainya.


"Permisi."


Saat itu ia tidak tau jika dr. Haris sudah masuk ke ruangan tersebut, hingga membuat Tango sampai tersentak kaget. Hampir saja terjingkat karena saat datang dr. Haris malah membungkukkan badannya hingga condong ke arah Tango. Kalau tidak menghindar, mungkin saat ini mereka sudah saling baku hantam karena kesalah pahaman di antara mereka.


"Maaf dokter, saya tidak menyadari kehadiran Anda," ucap Tango berbasa basi.


Dokter Haris seketika memberikan peringatan pada Tango dan wanita yang ia tabrak tadi.


"Kalian berdua tinggal di luar untuk sementara waktu biar Baby aku yang merawat. Kedua orang tua saat tidak ada yang bisa membuatnya berubah.


"Siapa lelaki ini, kenapa ia bisa bersama dengan Baby, sampai tadi pegang-pegang tangannya pula?" dokter Haris melihat dengan seksama penampilan Tango dari atas sampai bawah.


"Kalau sampai ia tau, bisa digeprek nih pemuda, tunggu dulu kenapa wajahnya begitu familiar?" gumam dr. Haris.


"Akh, pikir saja nanti, sekarang waktunya memeriksa Baby."


Tanpa mau berkata lebih banyak lagi, dokter Haris memegang salah satu tangan Baby dan melihat kondisi di dalam tubuhnya. Meneliti dengan baik sambil mencocokkan data pasien yang tertera di dinding.


Mariska mendekati Tango, "Ikut kakak!"


"Kemana?"


"Entah kenapa rasanya begitu berat meninggalkan dia?"


Meski ia bukan siapa-siapa Baby tetapi rasa itu begitu nyata untuk dia. Awalnya Tango merasa tidak suka dengan Baby, tetapi lama kelamaan sikap dan sifat Baby yang mirip dengan gadis impiannya saat kecil. Sukses hal itu membuat Tango begitu nyaman ketika berada di sisi Baby saat ini.


Selama ia berkarier, tidak pernah ada catatan yang menyebutkan ia pernah jatuh cinta atau pacaran. Kisah hidup Tango begitu sepi. Hingga pertemuan tidak sengaja dengan Baby membuat Tango memiliki sikap lebih terhadapnya. Sebuah rasa perlindungan untuk Baby, tetapi bukan untuk memilikinya karena ia tau jika Baby sangat mencintai dokter Maxime.


Mariska merasa jengah dengan sikap Tango yang tiba-tiba menjadi melankolis, membuat banyak tanda tanya bermunculan di kepala. Memang sih dalam dua hari ini mereka sedang disibukkan dengan kegiatan masing-masing, sehingga pertemuan mereka sedikit berkurang, tetapi perubahan sikap Tango membuat Mariska semakin curiga.


.


.


"Siapa dia?"


"Teman?"


"Iya dia temanmu, tetapi baru aja nemu barusan, kan?"


"Apaan sih Tango, tetapi ia amat baik terhadapku, jadi aku tidak mau membuatnya kesulitan lagi.


"Nenek kenapa?" tanya Tango kecil.


"Nggak kenapa-napa, Nenek hanya ingat gadis itu terlalu manis, semoga kelak kalian bisa bertemu lagi. Aamiin."


...***...


"Woi Tango kamu barusan kesambet ya, kenapa begitu kasar!" gertak Mariska.


"Enggak gitu Kak, maaf aku banyak urusan."


"Hei jangan melangkah pergi, urusan Baby juga belum selesai lalu siapa yang akan menghadapinya nanti?"


"Menghadapi siapa sih, Kak?"


"Uler keket yang ada di dalam rumah tidak berbahaya jika dipegang, tetapi perjuangan mereka masih panjang."