LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 73. GOMBALAN RECEH



"Baby, ada telepon dari dokter Maxime."


"Iya Bik, sebentar ya."


Saat ini Baby sedang bersiap untuk melakukan persiapan wawancara dengan majalah Vogue. Sekitar pukul satu siang waktu Paris jadwal mereka untuk pergi ke kantor cabangnya.


Baby begitu bingung kenapa pula ia harus pergi ke ruang keluarga untuk mengangkat telepon dari dokter Maxime jika mereka punya nomor kontak mereka di ponsel masing-masing. Tetapi ia tetap berjalan tenang dan mengangkat telepon.


"Hallo ..." sapa Baby.


"Hai ... maaf aku nggak telepon di ponsel," ucap dokter Maxime basa-basi.


"Pinter, padahal aku baru aja mau bertanya?"


"Em ... emang sengaja sih," ucap dokter Maxime di dalam hati.


"Aku mau minta maaf, karena sambungan telepon dari kamu kemarin tidak sempat aku angkat. Seharian aku banyak mendapatkan tugas dari dosen."


"Iya, nggak apa-apa, kemarin juga aku lagi sibuk kok."


"Terima kasih karena sudah memaafkan aku, hari ini kamu ada acara kemana?"


"Wawancara dengan majalah Vogue."


"Jam berapa?"


"Sekitar pukul satu siang."


"Jadi, kamu serius akan bekerja sama dengan mereka?"


"Seperti yang kamu lihat? Tapi nggak tau juga sih, soalnya ini pertemuan keduaku dengan mereka."


"Pengen ditemenin, nggak?"


"Ha-ah, ada-ada aja sih, jangan ngaco deh!"


"Coba kamu berjalan ke arah balkon dan lihat ke bawah!"


Karena penasaran, Baby segera pergi ke balkon, mulutnya menganga tak percaya. Ternyata di sana ada lelaki yang ia rindukan selama ini. Daya pikatnya bertambah karena tingkah romantisnya kali ini berbeda. Saat ini dokter Maxime berada di tengah barisan bunga mawar yang berbentuk hati.


"Sweet banget sih," gumam Baby.


"Baby Cornelia, will you marry me?"


"Dia melamarku?" pekik Baby terkejut dengan tingkah dokter Maxime.


Dalam sekejap mata, rona merah kembali muncul di wajah cantik milik Baby. Tetapi ketukan dari arah pintu membuat Baby hampir terjatuh dari tempat tidur.


"Astaga Baby ... kamu ngapain tidur di bawah."


Mama Marrie langsung mendekati putrinya itu, membelainya dengan lembut.


"Kenapa bisa seperti ini, Sayang?"


"Nggak tau Mam, pas aku bangun udah di bawah nih."


"Minum dulu."


Glek ... glek ... glek ....


"Ini udah jam sepuluh pagi, mau sarapan di sini atau makan di bawah?"


"Oh, ya Mama lupa. Tadi pagi dokter Maxime menelpon kamu berkali-kali tetapi kamu belum bangun dan tampak masih lelap saat tidur, jadi Mam nggak bangunin deh."


"Masa sih, Ma?"


"Iya, coba chek ponsel kamu, sekarang!"


Baby yang masih model acak-acakan segera melihat isi ponselnya. Betapa terkejutnya ia mendapati puluhan telepon yang tidak terangkat tadi. Baby memandangi Mama Marrie. Seolah tau maksud Baby, beliau pun berinisiatif untuk pergi.


"Mama mau keluar dulu ya, jangan lupa buat panggil Mama, hari ini free buat kamu."


"Makasih Mam."


Mama Marrie tidak pernah mau mengganggu privasi putrinya. Sehingga untuk hal sepele seperi tadi, ia lebih memilih untuk pergi. Dengan hati-hati dan tidak lupa mengucap doa, Baby menekan nomor dokter Maxime.


.


.


Saat ini, Maxime sedang memeriksa laporan keuangan Rumah Sakit miliknya, karena setelah ini ia harus pergi ke kampus. Kebetulan jadwal kuliahnya siang hari. Mendapati ponselnya berkedip-kedip, Maxime langsung mengangkat sambungan telepon dari Baby tersebut.


"Hai Baby, baru bangun, ya? Kamu nggak kenapa-napa, bukan? Kok diem?"


"Sayang, aku kangen, kapan kamu pulang?" ucap Baby dengan suara manja.


Maxime tersenyum, seolah paham karena kenyataannya, saat ini sedang berpacaran dengan anak ABG. Beruntung ia sudah membaca novel-novel remaja yang penuh kebucinan. Sehingga masalah seperti ini langsung menemukan solusinya.


"Miss you too Baby, aku selalu kangen akan kehadiranmu. Andai kamu mau aku ajak menikah saat ini, kita pasti sudah bersama."


Blush ... seketika hati Baby berbunga-bunga. Mendapati apa yang ia inginkan seperti di dalam mimpinya tadi terwujud, seolah seluruh alam pun mengamini keinginan sepasang kekasih ini.


"Kok diem, masih mengantuk atau mau bubuk bareng?"


"Duce stop gombalin aku, nggak tau apa aku sedang terkena serangan jantung mendadak. Ah ... begitu lucu dan menyenangkan ketika menjadi kekasihmu."


"Eh enggak kok, malu aja kamu bilang begitu tadi."


"Tapi suka, kan?"


"Atau mau aku lamar secara resmi? Tapi kamu harus tau konsekuennya nanti!"


"Ha-ah, memangnya apaan?"


"Masa supermodel perutnya gede saat mau tampil?"


"Huh, dasar Duce nyebelin!"