
"Ngapain kamu ngikutin gue!" gertak Jas Jus pada Bryan.
Selama tiga hari bersama dengan Bryan membuatnya jengah. Serasa hidupnya tidak ada kebebasan sama sekali. Sejak kedatangan Bryan entah mengapa Jas Jus merasakan jika hidupnya merasa sial.
Di saat ia ingin merasakan kebebasan karena ia butuh refreshing ia justru mendapatkan masalah yang baru. Apalagi sandiwara saat ini membuatnya harus berpikiran cerdik. Tentu saja di saat seperti ini ia membutuhkan tempat berbagi cerita dan sharing sama seperti saat ia bersama Baby.
Tidak ada sedikitpun hal yang bisa ia lakukan membuatnya bosan. Bahkan untuk keluar rumah saja ia sama sekali tidak memiliki kesempatan.
"Berasa hidup di rumah tahanan kalau kayak gini, mana nanti sore acara akan dimulai."
Jas Jus sudah tampak cemas saat ini. Berkali-kali ia membuang nafasnya secara kasar dan meremas ujung baju yang ia gunakan. Melihat Bryan yang berada di depannya saat ini membuat Jas Jus menatapnya perlahan.
"Cukup Bryan, kamu pergilah!"
"Nggak mau, aku nggak mau kamu kenapa-napa saat ini. Masalahnya kalau ada apa-apa sama kamu Tante Kara bakal minta tanggung jawab sama aku."
Jas Jus masih menatap tajam Bryan dengan tajam.
"Bukankah awalnya kita cuma pura-pura, kenapa sampai seperti ini?"
"Bukankah kau sudah mendengar penjelasan dari Mama kamu, apa masih kurang jelas."
Karena merasa kesal, Jas Jus menggertak Bryan.
"Jadi karena itu kamu ngikutin aku, dasar cowok bermuka dua."
Bryan yang melihat Jas Jus tidak mau bekerja sama akhirnya ikut terpancing emosinya.
"Jessie diam!"
"Berani Lu nggertak gue!"
Dengan kasar Bryan memegang tubuh Jas Jus dan membaliknya hingga tubuh mereka tidak lagi berhadapan. Hingga membuat Bryan leluasa memeluk Jas Jus dari arah belakang. Bryan mendekatkan bibirnya ke tengkuk Jas Jus.
"Aku tau kamu tidak suka dengan hal ini, tapi ini hanya pura-pura dan please bantu aku buat lepas dari semua ini," ucapnya dengan setengah memohon.
Kedua mata Bryan berkaca-kaca, tetapi Jas Jus tidak bisa melihatnya, yang ia rasakan saat ini hanyalah jika Bryan sangat menyebalkan dan membuatnya jengah.
"Nggak, gue nggak mau melepasmu lagi. Karena sejak beberapa hari yang lalu gue baru menyadari kalau tidak salahnya jika aku kembali mencintaimu!"
Jas Jus mencoba melepas pegangan tangan Bryan darinya. Jas Jus tidak mau lagi mendengarkan ucapan dari keponakannya itu.
Sesaat kemudian ponsel Jas Jus berbunyi. Tidak butuh waktu lama, Jas Jus langsung mengangkat panggilan telepon dari Baby.
"Hallo ... apakabar sayang," sapa Baby lembut.
"Baby, astaga ini kamu! Dasar bestie bengek, kamu kemana aja, ngapain susah dihubungi?"
Belum sempat Baby mengucapkan sepatah kata pun, Jas Jus sudah menceritakan segala hal tentang apa yang baru saja ia alami. Sontak saja mata Baby membola ia tidak menyangka Bryan malah mengajak Jas Jus tunangan.
"Jadi aku harus gimana?"
"Tunggu aja sampai Bryan bosen, kalau sudah segera kembali ke sini."
"Bestie bengek, ngasih solusi kek, eh ini malah ngajak perang."
Tanpa menunggu lama, Jas Jus malah mematikan teleponnya. Lalu ia mulai membaca situasi dan berdamai dengan keadaan sekitar.
"Oke, kalau Bryan seperti ini itu artinya aku bisa melakukan hal lebih. Dia bisa berpura-pura sampai tahap ini, aku pun akan melakukan hal yang sama."
Jas Jus berbalik dan melihat Bryan dengan tersenyum. "Antar aku ke ruangan sebelah. Bukankah aku harus dirias saat ini?"
"Oke."
Ada guratan senyum indah terukir di wajah Bryan, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajah Jas Jus. Akankah semuanya akan baik-baik saja? Entahlah, capek menjalin sebuah hubungan yang tidak sehat seperti ini.
.
.
...🌹Bersambung🌹...