LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 110. MENGINAP DI RUMAH KAKAK



Setelah menghabiskan malam di acara ulang tahun Jas Jus, kini Baby mengajak Jack dan Maxime pulang ke rumahnya. Tentu saja dengan persetujuan Bang Mich.


Saat Baby dan Maxime membuka pintu belakang mobil, Michael melarangnya.


"Dek, duduk di depan sama Abang, Maxime biar duduk di belakang bareng Jack."


"Oh, oke."


Sebelum berpisah Baby mengisyaratkan pada Maxime semua akan baik-baik saja. Meskipun kelihatannya ia tidak setuju tetapi sebenarnya ia sangat welcome pada Maxime. Hanya saja moodnya saat ini sedang buruk, maka dari itu semua terlihat tidak sedang baik-baik saja.


Saat mobil mulai dijalankan, suasana ruangan menjadi sedikit tegang, tidak ada pembicaraan sedikitpun saat ini. Sampai akhirnya Baby mulai membuka suara.


"Dokter, kamu nggak kenapa-napa kan, ikut aku pulang ke rumah? Atau mau di antar kembali ke hotel?" tanya Baby saat melihat ke arah Maxime.


"Aku ikut aja mana yang tidak terlalu merepotkan untukmu."


"Ya sudah, malam ini kamu menginap di rumah saja, lagi pula ini sudah hampir dini hari."


"Terima kasih Baby."


Kebetulan Maxime duduk di kursi belakang bersama Jack, sementara di kursi depan ada Michael dan Baby. Meskipun Baby dan Maxime pacaran, tetapi Michael sama sekali tidak mengijinkan dia berdekatan. Ia belum tau saja sejak tadi bahkan mereka sudah berdekatan dan menempel satu sama lain. Untung ada Jas Jus yang mengikat Michael tadi sehingga ia tidak bisa mengganggu moment keromantisannya tadi.


Hanya guratan kebahagian yang masih terpancar dari wajah sepasang kekasih itu. Baby membayangkan akan seperti apa setelah kedua orang tuanya mengetahui niat baik Maxime.


Sementara itu Maxime menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Kakek Delicious. Baginya hanya ini yang bisa ia lakukan demi menjaga Baby jangan sampai ia kehilangan wanita sebaik Baby.


Baby sesekali melirik ke arah Michael, yang sejak tadi tidak mengucap sepatah kata pun di dalam mobil. Ia hanya terdiam sejak keluar dari rumah Jas Jus. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Abangnya saat ini, tetapi Baby yakin hal ini berkaitan dengan Jas Jus.


Baby sebenarnya mengetahui alasan di balik bungkamnya Michael, tetapi ia diam saja. Toh kalau diajak ngomong pasti tetap menyebalkan dan meningkatkan emosi jiwa raga. Jadi Baby lebih memilih untuk mendiamkannya.


"Hm, tenang aja, Bang Mich bungkam bukan berarti dia nggak mengijinkan kamu maen di rumah, hanya saja Abang lagi sariawan. Makanya puasa diam," ucapnya sambil terkikik.


Michael masih bungkam saat ini, apalagi kesalah pahaman yang terjadi semakin meluas akibat hadiah yang telah dipersiapkan Joy kapan hari. Ia juga tidak bisa menyalahkan Baby atas hal ini, karena Baby hanya mengajaknya untuk ikut ke pesta ulang tahun Jas Jus dan ia bahkan tidak ikut mempersiapkan kado untuk Jas Jus.


"Oh, oke, aku ikut kamu aja deh."


"Siap sayang."


Michael hanya fokus mengemudikan mobil agar cepat sampai di rumah. Sementara Jack membungkam mulutnya karena sejak Baby menyapanya ramah, sorot mata Maxime mengisyaratkan agar ia diam saja tanpa boleh melakukan apa pun saat ini.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Michael telah sampai di kediamannya. Mereka turun secara berurutan.


"Bos, saya masih belum boleh ngomong kah?"


"Belum," jawab Maxime ketus.


"Astaga ... padahal cuma mau tanya dimana toilet doang lo, masa nggak boleh, ntar kalau ngompol pasti di marahin lagi. Nasib ... nasib ...."


Baby yang menyadari sikap aneh dari Jack menoleh ke arahnya. Dengan bahasa Perancis ia menjamu Jack dan menunjukkan di mana tempat tidurnya.


"Jack, di depan ini tempat tidur kamu, kalau mau ganti pakaian ada beberapa baju besar di dalam, kamu istirahat aja. Biar Pas Bos kamu aku yang ngurus."


"Terima kasih Nona. Semoga kebaikan selalu menyertai Nona."


"Aamiin."


Setelah memastikan keadaan Jack nyaman, Baby segera berbalik. Sayang belum beranjak dari depan kamar Jack, tubuh Baby sudah dihadang oleh Maxime.


"Sa-sayang, ka-kamu mau apa?" ucap Baby sambil memundurkan langkahnya.


Tidak disangka tubuhnya sudah mentok ke tembok. Tubuh Baby terkunci oleh kedua tangan Maxime. Nafas Maxime begitu memburu hingga hembusan nafasnya bisa dirasakan oleh Baby.


"Max ...."


Baby yang ketakutan hanya bisa menutup matanya saat ini, pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Maxime.


"Sayang, kamu ngapain pakai menutup mata? Aku cuma mau minta tolong antar ke kamarku aja kok."


Baby menonyor perut Maxime yang sudah berhasil membuatnya ketakutan, tetapi langkah Baby terhenti ketika tangan Maxime menyentuh tangan Baby.


"Ada apa lagi?"


"Digandeng dong," ucapnya sambil mengerling nakal.


"Dih genit, sejak kapan sih kamu jadi genit?"


"Sejak aku menggila karena kehilangan jejakmu sayang, sejak saat itu aku mulai gila."