
Saat banyak pikiran, Maxime seolah berbeda dengan orang yang Baby kenal. Sikap lembut dan kasih sayangnya seolah menghilang, tetapi Maxime tidak menyadari perubahan sikapnya itu, sehingga semakin membuat Baby tidak nyaman ketika bersamanya.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Semuanya tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Dia kenapa sih? Kok jadi nyebelin, lagi PMS kah?" batin Baby.
"Sebaiknya aku mengantar Baby pulang terlebih dahulu baru aku kembali ke apartemen. Oh tidak, ke apartemen saja dulu."
"Ki-kita ke ...." ucap mereka hampir bersamaan.
"Kita ke apartemen dulu ya, aku obati lukanya."
Baby mengangguk, ia pun mencoba berpikir positif kali ini. Lagi pula ia tidak ingin merusak moment pertemuannya kali ini dengan dokter Maxime.
Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka di apartemen Maxime. Dengan lembut Maxime mencoba memperlakukan Baby selayaknya seorang kekasih. Meski begitu kecanggungan kembali terjadi saat itu.
"Pegang bahuku, biar aku gendong ke atas."
"Tapi kan kakiku ...."
"Eh iya lupa, sekalian aja pegang kaki kamu, bisa kan?"
"Coba aja dulu."
Lalu Maxime mulai berjongkok, agar Baby dengan mudah naik ke punggungnya. Satu tangannya berpegangan pada bahu dokter Maxime satunya menahan kaki palsunya.
"Udah siap?" tanya Maxime.
"Udah."
Setelahnya Maxime mencoba mengangkat tubuh Baby. Ini adalah moment pertama kalinya mereka bersama setelah dua minggu tidak bertemu. Sebuah moment langka yang mungkin akan jarang terjadi jika ia sudah menetap di Inggris.
Karena nyaman, Baby bersandar pada salah satu bahu dokter Maxime. Harum tubuh lelaki matang emang berbeda, rasanya amat menenangkan. Entah kenapa lama-lama perasaan untuknya semakin dalam, menggantikan asa yang telah pergi dari hatinya.
"Jika nanti kita terpisah apakah kau akan selalu mencintaiku?" tanya dokter Maxime dalam langkahnya.
"Em, enggak tau dok," jawab Baby dengan jujur.
"Kok gitu?"
"Karena setiap waktu, pemikiran manusia itu bisa berubah. Bahkan hanya karena sesuatu hal, rasa yang pernah ada itu bisa tergantikan loh. Apalagi banyak wanita lain yang lebih sempurna dariku, dokter bebas memilih wanita mana yang disuka."
"Kok jadi aku, kan aku tanya ke kamu?"
"Jadi beneran aku nih tampan, hm?"
"Eh, kenapa aku jadi merasa terjebak dengan kata-kataku sendiri ya, ah dokter bikin gagal fokus nih?" batin Baby.
"Kok diem, atau kamu mulai menyukai lelaki lain?"
"Eh, nggak gitu juga kali dok?"
"Hem, kita tinggal berdua aja loh, masa masih manggil dokter, kenapa nggak panggil dengan nama kesayangan?"
"Astoge nih dokter kesambet apaan sih pas datang ke sini, kan gue jadi malu, untung aja kita dia nggak bisa liat wajah aku."
Beruntung lift terbuka saat Maxime hendak bertanya sesuatu hal kembali. Sehingga mau tak mau mereka kembali terdiam sampai lift kembali mengantarkan mereka ke lantai tempat Maxime tinggal.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di lantai tempat tinggal Maxime. Sesaat kemudian ia langsung menekan akses untuk masuk. Sampai saat ini Baby masih berada dalam gendongan Maxime.
Maxime menurunkan Baby dengan lembut di sofa tidak lama kemudian ia mengambil kotak P3K miliknya. Tidak lupa ia mengambil air hangat untuk mengompres kaki Baby.
"Mau pesan camilan apa Nona?"
"Eh ...." Baby jadi salting karena ucapan dokter barusan.
"Kamu pasti lapar, tapi kamu tau sendiri aku baru saja sampai."
"Nggak usah, karena Duce yang lapar bagaimana kalau kita pesan makanan mentah aja, nanti biar aku yang masak, lagian makan makanan fast food nggak baik buat kesehatan."
"Pinternya calon istriku ini," ucap dr. Maxime sambil mengacak gemas rambut Baby.
"Uhuk ...." Baby jadi tersedak karena tingkah manis kekasihnya itu.
"Hm, tambah pinter deh gombalnya diajari siapa sih?"
"Ha ha ha, nggak ada, aku cuma belajar dari sosmed aja, katanya ngebucin tuh kaya gitu."
"Wkwkwk dokter bengek!"
"Apa tuh bengek?" tanya dr. Maxime kebingungan.
Bukannya menjawab, Baby malah menghadiahi sebuah kecupan manis di pipi sebelah kanan dokter Maxime.
"Wkwkwk .... rahasia, Sayangku."