
Dua minggu telah berlalu, kini Baby sudah kembali ke Paris. Sesuai jadwal dari dokter Haris, Baby rutin melakukan terapi dengannya begitu pula jadwal terapinya dengan dokter Fany. Selama dokter Maxime pergi, semua kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan Baby akan diawasi langsung oleh kedua dokter itu.
Dokter Maxime masih sibuk pulang pergi dari Paris ke Inggris karena mengurus semua keperluan kepindahan ke Inggris dan juga praktek kerja sebagai dokter spesialisnya. Selama kurang lebih tiga tahun, ia akan menuntut ilmu di sana. Jadi semua harus dipersiapkan secara matang.
Jika ada hal yang mendesak ia tetap bisa datang ke Paris, tetapi hal itu tidak ia beritahukan pada Baby. Sehingga Baby bisa lebih mandiri.
Saat ini Baby juga menyibukkan dirinya dengan kegiatan di agency model. Meski sikap Tango tidak jauh berbeda dari sebelumnya ia tidak mengambil pusing. Lagi pula Cherry sepertinya juga menginginkan dia, jadi Baby tidak perlu repot-repot mengurus hal itu.
"Baby, ini minuman untuk kamu."
"Makasih Kak."
"Sama-sama, oh ya, maaf untuk sikapku kapan hari ya, aku nggak tau kalau dia terlalu membencimu."
"Nggak apa-apa, kok, sans aja."
"Ya sudah aku pergi dulu ya, Kak Mariska sudah menungguku."
"Oke, Kak."
Setelah Alexa pergi, Baby meminum minumannya. Lalu entah dari mana, Tango sudah duduk di sampingnya.
"Astaga, kamu ngapain di sini?" ucap Baby dengan terkejut.
"Masa duduk aja nggak boleh, memangnya ini semua fasilitas milikmu?"
"Hm ..." Baby mulai jengah dan mencoba menghela nafas kembali.
Berada satu ruangan dengan Tango membuatnya sesak nafas. Ia lebih memilih pergi menjauh dari pada harus membuat rasa amarah di hatinya makin memuncak. Sayangnya, Tango sengaja memasang kakinya ke depan, hingga membuat Baby hampir saja terjatuh karena ulahnya.
Anehnya tiba-tiba sosok dokter Maxime hadir dan menopang tubuh Baby agar tidak terjatuh.
"Duce?" ucap Baby terheran-heran akan kedatangannya yang tidak terduga.
"Sejak kapan ...." tangan dokter Maxime mencoba menutup mulut Baby dengan jari telunjuknya.
Sementara itu matanya mengisyaratkan agar Baby diam. Setelah memastikan Baby baik-baik saja, dokter Maxime mendekati Tango.
"Apa Anda tidak pernah belajar attitude? Tidak bisakah menghargai keberadaan seorang wanita?"
"Memangnya kenapa? Siapa suruh dia pergi ketika saya hendak berbicara dengannya?"
"Kapan? Sejak tadi kamu sama sekali tidak mengajakku bicara, yang ada hanyalah kau mencoba menggangguku."
"Apa kau bilang?" ucap dokter Maxime sedikit terpancing.
Ia mencengkeram erat kerah leher Tango. Baginya menghina Baby sama saja menghina dirinya.
"Ada masalah apa antara kau dan Baby? Katakan!"
"Dari tadi aku diam di tangga memperhatikanmu yang seolah suka sekali menggangu Baby, apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Cih, aku hanya tidak suka akan kehadirannya di sini, lagi pula kenapa ada yang mempekerjakan model yang cacat seperti dia."
"Jaga ucapanmu,Tango!" gertak Mariska.
Mariska mulai mendekati Tango, ia pun memberikan tamparannya pada Tango. Ia sudah menyadari perubahan sikap Tango selama beberapa hari ini, ternyata ia tidak menyukai kehadiran Baby kembali.
"Kalau kamu memang nggak suka dengan kehadiran Baby, kenapa nggak bilang dari awal, padahal sudah banyak proyek kerja sama dari kalian berdua yang berhasil, masih ada masalah, kah?"
Mariska merasa geram karena Tango tiba-tiba berubah sikap dalam seminggu terakhir, hal itu pun sangat terlihat saat beberapa hari ini performa Tango menurun.
"Baby, Maxime, aku secara pribadi dan mewakili Tango meminta maaf untuk kesalahan pahaman yang terjadi barusan."
"Nggak apa-apa, Kak."
"Tango urusanmu denganku belum selesai," ucap Maxime sambil mengajak Baby pergi.
Tango masih terdiam di tempatnya. Sementara Cherry melihat satu kesempatan emas kali ini. Baginya Tango dan Maxime mempunyai daya tarik tersendiri, jika ia tidak bisa mendapatkan Maxime ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Tango.
.
.
"Duce ... tunggu kakiku kebas kalau kau mengajakku berjalan cepat seperti ini."
Maxime sepertinya tidak menyadari jika kaki Baby sakit, sementara ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Dokter Maxime berhenti!" seru Baby yang kesal karena diabaikan.
Tidak lupa Baby mengibaskan tautan tangan mereka hingga sukses membuat Maxime menoleh.
"Ada apa Baby, aku buru-buru."
"Ka-kakiku ...."