
"Apa katamu? Steffany sudah kembali?" ucap Kakek Delicious menanggapi laporan kaki tangannya.
Bayangan masa lalu tentang Steffany dan Maxime kembali datang di dalam ingatan Kakek Delicious. Ia juga tidak bisa meremehkan tentang keberadaan wanita gila itu.
"Dia pasti kembali dengan persiapan yang lebih matang, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja."
"Benarkah dia kembali?"
"Iya Tuan, makanya tadi malam Tuan Maxime kembali ke Paris secara sembunyi. Tuan Muda bahkan memakai pesawat pribadi untuk pulang, demi menghindari Nona Besar Seffany."
"Kalau begitu perketat penjagaan untuk calon menantuku, aku tidak ingin Baby kenapa-napa, kamu tau sendiri bukan kalau Steffany itu sangat gila."
"Iya Tuan."
"Lalu bagaimana dengan kuliah Maxime? Beraninya bocah tengik itu mengelabuhiku!"
"Untuk kuliah Tuan Maxime semuanya masih berjalan lancar Tuan. Sepertinya Tuan Maxime pergi hanya karena merindukan Nona Baby."
Kakek Delicious berdecih karena hal itu, tetapi di satu sisi, ia amat senang akan dengan kejadian tersebut. Karena itu artinya Maxime sudah mulai membuka hatinya. Penantian panjang Kakek Delicious untuk bisa menimang cucu akan segera terwujud jika dokter Maxime menikah dengan Baby Corn.
Lain di mulut lain di hati, rasa gengsinya yang terlalu tinggi membuatnya seolah tidak suka akan tindakan Maxime. Ia pun berakting di depan asistennya itu.
"Cih dasar anak muda jaman sekarang, baru berpisah satu bulan saja sudah merindu!"
Sang asisten hanya bisa menghela nafas menikmati sikap kalem Kakek Delicious tersebut.
Kakek Delicious menghentakkan tongkatnya ke lantai karena kesal. Lalu ia kembali menatap layar monitor di depannya itu.
"Biarkan bocah tengik itu bersenang-senang sebentar, aku yakin setelah ini ia pasti akan kembali ke Inggris untuk kuliah."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
Tanpa berkata apapun, Kakek Delicious hanya berdehem untuk menjawab ucapan kaki tangannya tersebut. Sesaat kemudian, asistennya beranjak pergi.
.
.
Di sudut kota Inggris. Seorang wanita muda sedang marah-marah terhadap semua pelayan dan kaki tangannya.
"Arghh ... kemana perginya Maxime, beraninya dia meninggalkan ku sendirian di sini, aku sudah bersusah payah menyusulnya ke sini tapi apa ini!"
Karena kesal, Steffany membuang semua makanan dan minuman yang berada di hadapannya hingga semuanya tampak berserakan. Bahkan gelas kaca yang ia pegang sempat merobek tangannya, tetapi malah ia biarkan. Steffany menganggap seolah lukanya hanya luka kecil padahal yang melihatnya saja sampai menahan ngilu karena robekan kulitnya terlihat lebar dan terus berdarah. Kini, hampir semua pelayannya tampak menunduk ketika menyadari kemarahan nona mudanya itu.
Kebiasaan sejak dimanja sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi gadis arogan. Terlebih lagi Steffany merupakan anak tunggal. Sayangnya ia tidak bisa membedakan mana cinta dan obsesi.
Sampai saat ini, hanya satu lelaki yang bisa menundukkan sikapnya yaitu Maxime. Sejak ia dipisahkan paksa dengan Maxime, rasa obsesi di dalam dirinya semakin tumbuh besar. Apalagi ia tau jika Maxime sudah menjadi duda dan seorang dokter, semakin bertambah saja rasa obsesi di dalam hatinya.
"Cepat temukan keberadaan dokter Maxime, aku tidak mau kehilangan ia untuk yang kedua kalinya!"
"Baik Nona, kami permisi!"
Assisten Steffany mendekati nona mudanya. Ia melihat ada luka menganga di tangan kanannya.
"Maaf untuk tindakan lancang saya, tetapi tangan Nona terluka, bagaimana Nona bisa tampil sempurna saat bertemu dengan Tuan Maxime nanti, bolehkah saya mengobatinya?"
Steffany menoleh dan menatap tajam asistennya itu lalu membiarkan ia membasuh dan merawat luka di tangan kanannya itu.
"Lakukan apa yang kamu mau, yang terpenting lukaku sembuh dan Maxime kembali padaku.
"Tenang saja Nona, saya yakin setelah ini Tuan Maxime pasti bisa melihat ketulusan cinta dari Nona."
Merasa tidak suka dengan ucapan asistennya, Steffany sengaja menanyakan hal lain padanya, tetapi tetap seputar dokter Maxime.
"Menurutmu, kenapa Maxime menghindariku?"
"Maaf Nona, kalau soal itu jangan tanyakan pada saya, saya benar-benar tidak mengetahui hal tersebut."
"Cih, dasar assisten tidak berguna, lebih baik aku pecat saja kau!"
"Ampun Nona, jangan pecat saya."
"Makanya kalau ditanya tuh dijawab yang benar jangan ah ih uh saja! Dasar semua menyebalkan hari ini!"
Steffany benar-benar kesal hari ini. Bagaimana bisa kekasih hatinya pergi disaat ia baru saja kembali. Rasa-rasanya penantiannya sudah tidak berujung kali ini.
"Beraninya kau menghindariku, hm ... lihat saja setelah ini aku akan benar-benar mendapatkanmu!" ucapnya sambil menyeringai.
Sesaat kemudian, muncul seorang laki-laki bertubuh tegap memasuki kamar Steffany.
"Permisi Nona, maaf saya terlambat datang untuk melapor," ucapnya sambil menunduk.
Steffany berdecih. "Mau apa kau kemari?"
Steffany masih berdiam diri di tempatnya, meskipun begitu, lelaki itu tetap melaporkan apa yang ia dapatkan selama ini dengan detail di hadapan majikannya itu.
"Maaf Nona saya ingin melaporkan keberadaan Tuan Maxime Perkasa."
Mata Steffany penuh binar kebahagiaan, sesaat kemudian ia pun menoleh ke arah asistennya.
"Katakan saja apa yang ingin kau laporkan padaku! Tetapi ingat, sedikit saja kamu memberikan laporan palsu, maka surat pemecatan dariku akan kamu terima!"
Mendengar ancaman dari Steffany membuat nyali pelayan itu sedikit menciut.
"Begini Nona, ternyata Tuan Maxime pergi ke Paris untuk menemui pacarnya!"
"A-apa!"
Brak
Karena sangat terkejut, buku tebal yang tadi berada di pangkuan Steffany terjatuh ke lantai. Belum lagi salah satu tangannya berhasil menggebrak meja dengan sangat kerasnya, membuat bekas luka yang diperban kembali merembes.
"Apa katamu! Maxime sudah mempunyai pacar!"
Gigi Steffany gemertak, tangannya mengepal erat, nafasnya memburu seolah siap menelan calon mangsa di depannya saat ini. Saat Steffany marah dirinya yang semula manis akan berubah sangat menyeramkan. Kejam dan bengis adalah penggambaran yang tepat untuk kondisinya saat itu.
"Benar, namanya Baby Cornelia, calon supermodel yang saat ini masih bernaung di bawah agency model milik Mariska."
"Hm, jadi dia seorang model, mirip Cherry rupanya. Jangan-jangan selera Maxime hanya sebatas model saja, bagaimana denganku? Tubuhku bahkan lebih bagus dari seorang model!"
Steffany bangkit dari kursi dan mematut dirinya di depan cermin.
"Masih cantik, sexy, wajah cantik, hm ... semuanya tampak sempurna, perfect."
"Tunggu dulu, kamu bilang dia berada di bawah naungan agency model milik Mariska? Berarti satu tempat bareng mantan istrinya dokter Maxime dong?"
Mereka tampak mengangguk, mengiyakan jika hal tersebut memanglah sudah menjadi sebuah kebiasaan sang putri yang manja.
"Hm, aku jadi pengen mengenal sosok Baby, baiklah permainan kali ini baru saja di mulai, jadi kalau aku yang menang maka Maxime akan menjadi milikku seutuhnya ... ha ha ha"
Steffany baru saja kembali duduk di tempat duduknya. Matanya memang terlihat kosong tetapi ia malah memberikan perintah yang tidak masuk akal pada para kaki tangannya. Meski begitu mereka amat patuh terhadap semua ucapan yang dikatakan oleh Steffany.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
...Vote/gift, like dan komen ya...