
"Baby, kamu sedang apa sekarang?"
"Aku sangat merindukanmu."
Maxime memijit pelipisnya yang berdenyut sambil membuka laptop miliknya. Ia ingin melakukan video call pada Baby. Sudah lama rasanya ia tidak menghubungi pemilik hatinya tersebut.
Sayangnya dilema kembali menyerang duda kece tersebut. Rasanya sangat nano-nano ketika panggilan telepon tidak segera diangkat. Bukan pula kebiasaan Baby yang suka membiarkan ponsel miliknya berdering lama.
"Kenapa tidak diangkat?"
Maxime mulai gusar terhadap keadaan ini. Tidak biasanya Baby bersikap seperti ini. Ia pun segera mencari keberadaan Baby dengan mengandalkan bawahannya. Tidak lupa ia memakai ponselnya untuk menghubungi Michael. Lagi dan lagi ia harus menelan pil kekecewaan saat ini.
"Aneh, kenapa tidak diangkat? Bukankah saat ini mereka ada di rumah?"
Karena tidak mendapatkan respon dari kedua ponsel kakak beradik itu, ia terpaksa menelpon Mama Marrie. Saat ini Mama Marrie sedang melakukan meeting bersama suaminya, tetapi saat melihat layar ponselnya berkedip ia meminta ijin untuk ke toilet sebentar.
"Jangan lama-lama Mom, rapat kali ini penting."
"Oke."
Setelah agak mejauh dari ruang meeting, beliau mengangkat ponsel tersebut.
"Hallo Mam."
"Ada apa Max, apa ada masalah?" tanya Mama Marrie hati-hati.
Tanpa menyembunyikan kenyataan, Maxime langsung menanyakan kenapa ia menelpon ke nomor Mama Marrie.
"Maaf Ma, kenapa ponsel Baby dan Michael tidak aktif?"
Mama Marrie terkikik kecil.
"Ya jelas nggak diangkat, karena saat ini mereka sedang di dalam pesawat menuju Indonesia?"
"What's?"
"Kenapa terkejut? Bukankah Baby sudah memberi tahu padamu jika weekend ini ia dan Michael melakukan perjalanan ke Indonesia."
"Enggak Ma, Baby tidak bicara apa pun padaku. Bahkan selama beberapa hari ini kami loss contact."
"Sibuk atau sudah ada yang lain?" tanya Mama Marrie dengan nada serius.
"Banyak tugas kuliah dan harus merekap data perusahaan kakek. Sungguh study kali ini sangat melelahkan."
"Jangan terlalu banyak mikir berat, aku nggak mau jika kalian menikah nanti dengan mudahnya putriku menjadi janda."
"Ha-ah, kenapa bisa begitu Mam?"
"Astaga Mam, doanya jelek banget!"
"Bukannya ngedoain jelek, tetapi kenyataannya begitu. Makanya jangan banyak berpikir, jalani dengan enjoy dan happy. Jangan lupa olah raga dijaga biar Maxime juniornya kuat nanti."
"Ha-ah!"
"Sudah Mama mau lanjutin meeting bareng papa. Kalau kamu nyusul Baby nanti Mama kirim alamat rumah di sana."
"Terima kasih Mam, semoga meetingnya berjalan lancar. Aamiin."
"Hm."
Sambungan telepon akhirnya terputus. Teringat ucapan calon ibu mertuanya Maxime menghampiri cermin di depannya dan menatap dalam wajahnya lekat-lekat.
"Kayaknya butuh skin care nih, mana kerutan udah mulai keliatan."
.
.
"Baby bangun, ditanyain mbak pramugari mau makan apa?"
Baby bergerak sedikit, lalu mengintip dari celah penutup matanya, "Roti gandum sama susu hangat aja."
"Baik Nona, silakan ditunggu."
Melihat pramugari tersebut pergi, Baby membetulkan posisi duduknya. Tidak lupa ia terus memandangi Michael yang masih anteng di sampingnya.
"Tumben Abang nggak bubuk?"
Michael menoleh, "Kan jagain kamu, nanti kalau kenapa-napa gimana?"
"Ya nggak kenapa-napa sih."
"Emang ini sampai di mana?"
"Masih berada di udara kok dek, aman."
"Dih dasar Abang bengek. Awas aja sampai Indonesia aku geprek."
"Boleh, pake sambel bawang yang banyak bawangnya ya!"
"Ngarep!"