
Kedatangan Cherry ternyata memang ingin membuat hubungan Baby dan Maxime renggang, tetapi hal itu juga dimanfaatkan oleh Maxime untuk menguji kesetiaan Baby dan seberapa besar cinta yang diberikan padanya. Hari itu, sebelum ia membuka pintu untuk Cherry ia telah mempersiapkan satu buah kamera CCTV yang sudah berada dalam mode ON.
"Akhirnya kamu membuka pintu untukku?" ucap Cherry dengan gaya manjanya.
"Masuklah!" ajak dr. Maxime dengan senyum pemikatnya.
Cherry yang mendapatkan respon positif dari mantan suaminya itu sangat bahagia. Ia pun segera masuk ke dalam apartemen Maxime yang baru.
"Silakan duduk! Oh, ya mau minum apa?"
"Orange Jus."
Setelahnya ia pun mengambil sebuah minuman dingin untuk tamu tak diundangnya itu. Masih dengan gaya coolnya, Maxime mencoba bermain peran di sini.
"Silakan diminum!"
"Beb, aku ke sini untuk meminta maaf karena semua perlakuan burukku selama ini, aku menyesal," ucapnya sambil menunduk.
"No problem, lagi pula urusan kita sudah selesai bukan, seharusnya kamu tidak ada hak untuk mencampuri urusanku."
"Maaf, aku nggak sengaja untuk hal itu."
"Lalu apa tujuanmu ke sini?"
"Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita, aku tidak bisa hidup tanpa kamu di sisiku."
Maxime hanya memainkan bola matanya malas, lalu menengok Cherry dengan ekor matanya.
"Tidak bisa hidup katamu! Lalu setelah kita berpisah apa kamu tidak bernafas? Atau yang berada di depanku ini adalah hantu?"
"Jangan bicara omong kosong, dulu aku akui aku memang tergila-gila padamu, sampai aku meninggalkan pendidikanku demi dirimu!"
"Menikah muda dan saat aku mencintaimu, dengan seenak jidat kau campakkan aku seperti sampah!"
"Bukan begitu, Beb."
"Stop bicara omong kosong di depanku!"
"Dan kini di saat aku ingin melanjutkan studyku lagi kamu datang kepadaku, lagi? Wow, kau sangat memuakkan!"
"Maxime!" teriak Cherry yang mulai merasakan amarah di hatinya.
"Kenapa, apa ada yang salah dengan ucapanku?"
"Bukankah impianmu sudah di depan mata, kau model profesional, cantik, kaya, sangat lihai memikat laki-laki hidung belang di luar sana ...."
"Aku harap kamu pergi menjauh dariku, mengerti!"
Cherry mengepalkan erat tangannya, emosinya sudah pasti sampai di ubun-ubun.
"Kalau bukan karena hartamu, aku juga tidak akan sudi menikah denganmu!" ucap Cherry penuh amarah lalu pergi dengan membanting pintu.
.
.
Baby sedang mondar mandir di depan kaca rias miliknya. Ia berjanji untuk menelpon kekasihnya sebentar lagi, tetapi ia bingung karena ucapan Jas Jus semalam.
"Kalau pacaran LDR itu kuncinya harus saling percaya satu sama lain. Trus kalau kangen telepon aja nggak usah gengsi tapi ingat berikan penampilan terbaik saat video call, jangan pernah telepon saat wajah kita penuh belek. Minimal cuci muka sama pakai liptint. Rambut biarin aja biar kecantikan kita makin terpancar."
"Dasar bestie bengek, gue kan nggak belekan!"
"Ya kali aja kebiasaan buruk kamu masih dipelihara. Suka telepon orang pas tengah malam kayak gini, Lu sehat kan?"
"Wkwkwk ... sorry sayang, abis emergency."
"Dah ah, gue ngantuk, bye."
Tut ... tut ....
"Dasar kebiasaan, siapa yang telepon duluan yang matiin siapa."
Akhirnya dengan kebimbangan luar biasa, Baby segera menelpon kekasih hatinya itu. Berharap jika sambungan telepon yang terputus tadi bisa kembali tersambung, agar rasa kangen dihatinya segera terobati.
Merasakan ponsel di sakunya bergetar, Maxime melihatnya.
"Baby Corn ...." gumamnya.
Dengan senyuman memikat miliknya ia mengangkat sambungan telepon dari pemilik hatinya itu.
Dengan mengangkat gagang telepon berwarna hijau itu, maka Maxime dengan puas bisa melihat wajah cantik dari kekasihnya itu, begitu pula dengan Baby.
"Oh My Good, kenapa posenya begitu?" gumam Baby mengagumi ketampanan Duce-nya kali ini.
Sungguh penampilan dokter Maxime kali ini jauh dari usianya, dia terlihat jauh lebih muda beberapa tahun, dan hal itu sukses membuat detak jantung Baby menjadi tidak karuan.
Gimana menurut readers nih, cocok nggak sih Baby sama Duce Maxime? Komen dan like ya😘