
Mendapati Bryan berada di rumahnya membuat tekanan darah Jas Jus menjadi tinggi. Belum lagi sikapnya yang sok manis di dapan mamanya seolah-olah Jas Jus ingin mencekik leher Bryan detik ini juga.
"Jessie kenapa makanannya diaduk-aduk memangnya masakan Mama kurang enak?"
"Enak banget sih Ma, cuma yang nggak enak cuma satu, yaitu pemandangannya."
Bukannya tau diri, Bryan malah terkekeh karena ulah Jas Jus.
"Jessie nggak suka kedatangan saya ya Tan, kok mukanya di tekuk gitu kata samosa."
"Bengek, dasar ya, wajah cantik ayu paripurna kaya gini disamain sama samosa!"
Mama Kara yang belum pernah makan samosa memotong pembicaraan mereka.
"Emang samosa apaan sih, Mama nggak tau deh, Jessi ... Bryan ada yang mau ngasih penjelasan ke Mama?"
"Samosa itu sejenis kue pastri goreng berbentuk segitiga. Isiannya ada kentang rebus campur rempah-rempah campur kacang kapri, bawang bombay, daun ketumbar dan kacang paner. Rasanya ... ah mantap!"
"Hm, kayaknya enak tuh, kapan-kapan ajak Tante beli ya."
Jas Jus yang melihat keakraban kedua orang di depannya saat itu menjadi geli sekaligus enek.
"Gimana caranya ya biar bisa ngusir Bryan dari sini?"
"Jessie kenapa nggak pernah beliin Mama makanan seenak itu sih, kan Mama jadi pengen," ucap Mama Kara dengan nada manja.
"Mama pengen cobain sekarang?" tanya Jas Jus.
Mama Kara yang terlanjur penasaran akhirnya mengangguk, "Boleh juga, lagian Mama lagi pengen makanan camilan."
"Nah pas banget kan Mom, ada Bryan di sini, bisa minta tolong di antarin dia buat beli samosa."
"Tumben anak Mama pinter," puji Mama Kara.
Bryan yang melihat interaksi Jas Jus dan mamanya membuatnya semakin nyaman tinggal di sana. Sementara itu di Paris, Baby sedang dalam masa kesulitan. Ia lupa kalau hari ini ia sedang ada janji chek up dengan dr. Haris.
"Kamu kenapa Baby? Kok keliatan bingung gitu?"
Tiba-tiba Mariska datang menghampiri Baby di kursi depan sambil menunggu jemputan yang tidak kunjung datang.
"Kayaknya Abang aku nggak jadi datang, makanya aku jadi lumutan nungguin dia."
"Ya sudah, bareng aku aja. Kebetulan aku bawa mobil kok, siapa tau kita sejalan."
"Atau mau aku anter?"
Satu lagi makhluk planet pluto datang menghampiri Baby, siapa lagi kalau bukan Tango.
"Daripada satu mobil sama dia, mending ikut kak Mariska aja," gumam Baby dalam hatinya.
Baby bangkit dari tempat duduknya dan memilih mendekat dengan Mariska.
"Nggak usah, terima kasih. Mending aku bareng Kak Mariska aja yang sejalan."
Tango tidak terkejut dengan penolakan Baby, lagi pula ia memang tidak pernah dianggap olehnya. Meski begitu posisi Baby di dalam hati Tango tidak tergantikan sampai saat ini.
"Sudah-sudah, kalian ini ... udah gede nggak usah begitu juga kali. Yuk kita berangkat, Beb."
Baby mengikuti langkah Mariska ke tempat parkir. Sementara itu Tango hanya terus menatapnya dari kejauhan.
"Kamu memang berbeda Baby. Lebih menantang dan istimewa."
Di dalam mobil.
"Baby aku boleh tanya nggak sama kamu tentang sesuatu."
"Apa itu Kak, tanya aja lagi."
"Kamu sebelum ke sini memangnya tidak kenal sama Tango?"
"Kenal dari mana, di tempat kakak aku baru pertama kali liat dia. Tetapi kalau yang mirip dengan dia emang pernah liat sih?"
"Oh ya, di mana?"
"Di Jakarta, lebih tepatnya satu sekolah sama aku dulu."
"Oh ya, tetapi Tango sejak kecil tinggal di sini, bagaimana bisa kamu liat dia di Indonesia."
"Maka dari itu pas Kakak tanya lagi aku bilang tidak pernah mengenalnya sebelum ke sini. Sebab dia dan Lucky berbeda."
"Oh oke, maaf jadi banyak bertanya hari ini. Maaf ya, sebentar lagi dah sampai Rumah Sakit, mau aku temani ke dalam atau mau aku tinggal? Kebetulan aku nggak ada jadwal setelah ini."
"Wah kebetulan sekali, boleh dong minta ditemani kakak."
"Boleh, boleh dengan senang hati," ucap Mariska sambil tersenyum."