
Sejak kedatangan Michael ke acara ulang tahunnya, Jas Jus belum keluar dari kamar. Hadiah yang ia dapatkan dari Michael berupa cincin permata satu persis seperti cincin pertunangan membuat Jas Jus dilema.
"Serius ini dari dia yang ngasih hadiah ini buat gue? Kok nggak dapat feel-nya ya?"
Dipandanginya cincin yang terpasang di jari manisnya membuat lengkungan senyum terukir indah di wajah cantik Jas Jus. Tetapi semua bayangan indah miliknya hilang ketika pintu kamarnya tiba-tiba di ketuk dari luar.
Jas Jus menoleh ke arah pintu, "Siapa?"
"Jessie, ini aku ...."
Jas Jus menajamkan pendengarannya. Ia masih menahan diri, untuk tidak bergegas pergi ke pintu, tetapi sepertinya itu memang suara Bryan.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu, apakah itu suara Bryan?"
Jas Jus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seperti mendapatkan lotre ia beranjak dari tempat tidurnya.
"Astaga, aku melupakan anak itu?"
Setelah mendapatkan kesadarannya penuh, Jas Jus segera membuka pintu kamarnya dan melihat ke luar. Ternyata di depan pintu sudah ada Bryan dengan kondisi yang sangat menyedihkan.
"Kamu dari mana?"
Perasaan kecewa dan amarah yang sempat mendominasi di hati Jas Jus kini menguap entah kemana. Apalagi melihat kondisi Bryan, sungguh membuat hati Jas Jus terenyuh. Tetapi ia menyadari jika semua manusia pernah berbuat salah, oleh karena itu ia mulai memaafkan semua perlakuan Bryan terhadapnya.
Bukannya menjawab Bryan malah tersenyum menyeringai ke arah Jas Jus dan bersiap untuk limbung.
Bryan memang terlihat sangat lusuh, kedua bola mata panda dan pakaian yang sudah tidak rapi melengkapi penampilan Bryan. Bau alkohol menyeruak di dalam indera penciuman Jas Jus membuat Jas Jus ingin muntah.
Melihat keadaan keponakannya yang menyedihkan, Jas Jus meminta tolong pada asisten rumah tangga agar membantu memindahkan tubuh Bryan.
"Lah ini kenapa Den Bryan menjadi seperti ini?"
"Nggak tau Mbok, bawa aja ke kamarnya, aku nggak kuat sama bau alkohol, hueeekkk ...."
Jas Jus meninggalkan Bryan bersama asisten rumah tangganya lalu mendial nomor dokter pribadi keluarganya. Kalau sudah seperti ini, ia tidak bisa berdiam diri, tetapi ia harus mencarikan dokter yang tepat untuk memeriksa kondisi Bryan.
Mama Kara yang baru saja pulang dari supermarket mengeryitkan dahinya melihat keadaan Bryan.
"Loh Bryan mau dibawa ke mana Mbok?"
"Mau di bawa ke kamar tamu Nyonya."
"Memangnya dia dari mana kok kondisinya seperti ini, oh ya, Jessie sudah tau apa belum?"
"Sudah Nyonya, bahkan Nona Jessie yang menemukan Aden Bryan tadi. Saat ini Nona sedang menelpon dokter."
"Ya sudah kalau begitu, setelah ini aku akan menyusul ke kamar Bryan."
"Baik Nyonya."
.
.
🍂Paris, Prancis
"Apa, bocah tengik itu sampai pergi menyusul Baby ke Indonesia!"
"Benar Tuan Besar, bahkan Jack saja turut dibawa ke sana untuk menemani Tuan Muda."
Kakek Delicious menyunggingkan senyumnya pada asistennya itu.
"Akhirnya sebentar lagi aku akan mempunyai cucu, ha ha ha ...."
Asisten Kakek Delicious menggaruk tengkuknya serta membetulkan letak kacamatanya.
"Semoga saja pernikahan mereka segera terjadi sehingga kebahagiaan segera muncul, Aamiin."
.
.
🍂Leon Company.
"Pa, lihat deh postingan Jeng Kara."
"Yang mana sih Ma?"
Mama Marrie yang sedang memperlihatkan postingan teman sosialitanya terlihat bahagia ketika Jas Jus menggandeng mesra tangan putra pertamanya.
"Putra kita Pa, Mr. Cool kita, hiks."
Mama Marrie terharu putranya bisa menggandeng seorang gadis.
"Sudah saatnya putra kita mendapatkan pendamping hidup."
"Akhirnya kita bisa punya cucu, ya Ma."
"Hu um, nggak sia-sia kita nikah muda."
Sepasang suami istri itu begitu bahagia saat ini. Kebahagiaan mereka bertambah ketika Baby mengirimkan foto dirinya bersama dokter Maxime sambil menunjukkan cincin di jari manisnya ke arah kamera.
"Pa, putri kita, ternyata kita bakal punya menantu dokter, duda pula, wkwkwk."
"Bagaimana pun Maxime memang sudah menjadi jodoh Baby, apa pun statusnya restu Papa akan terus mengalir padanya."
"Begitu pula dengan restu dari Mama akan selalu mengalir untuk kedua putra putri kita."