LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 77. PERTEMUAN



...Bersamamu begitu indah namun banyak tantangan di dalamnya. Aku tidak sebaik yang kamu mau, tetapi aku akan mencoba melakukan yang terbaik untukmu....


...⚜⚜⚜...


"Nah, sekarang kamu terlihat lebih cantik, sayang."


"Serius tante?"


Jas Jus yang sedari tadi tidak mau melihat ke arah cermin sekarang lebih suka melihat ke arah cermin. Senyuman seindah mentari pagi itu kembali terbit membuat Jas Jus terlihat lebih cantik.


"Lagi pula penyesalannya udah cukup, kini saatnya ia kembali menjadi Jas Jus yang selalu menebar kebaikan dan cantik paripurna sepanjang masa," ucapnya sambil melihat pantulan dirinya didepan cermin.


Jas Jus mengusap poni barunya, lesung pipitnya kembali muncul saat ia tersenyum.


"Ini baru gue!"


Tiba-tiba Mama Kara muncul dari belakang dan memegang kedua bahu Jas Jus sambil tersenyum.


"Nah beneran cantik, kan. Apa Mama bilang, kalau sudah tersentuh tangan cantik tante Marrie kecantikan alami kamu akan bertambah berkali-kali lipat."


"Makasih Mama sayang, pokoknya Mama aku paling the best-lah."


Saat asyik mengobrol tidak sengaja ponselnya berdering, Jas Jus langsung merogoh ponselnya dan mengangkat tanpa melihat siapa yang menelponnya barusan.


"Siapa sih telepon jam segini?"


"Hallo ...."


"Hai Jas Jus yang nyegerin jika diminum di tengah hari yang panas, awokawok."


"Bestie bengek, kirain dah lupa sama gue, sialan!"


"Ya ampun baru aja telponan eh udah dimaki-maki gue. Kayaknya perlu di ruqyah deh kamu Jas Jus?"


"Nggak perlu! Yang gue mau tuh sekarang kawin, eh, sorry lupa nikah!"


"Bua ha ha ha ... buru-buru amat Buk, emang udah siap menimang bayi?"


"Ya kagak lah, kalau gue mah lebih suka lama pacarannya baru program anak, eh ...."


Jas Jus baru teringat kalau di belakangnya ada Mama tercinta. Ia pun sempat menoleh ke arah belakang dan dilihatnya Mama Kara sudah melotot tajam ke arahnya sambil berkacak pinggang.


"Mampus gue!"


"Diem, bisik-bisik aja, ada Mama gue dibelakang."


"Oke, gue ngomong langsung aja ya, lagi pula waktu gue juga nggak banyak soalnya."


"Hm ... mulai deh songongnya."


"Ya kan emang iya, jadwal fashion show gue lagi padat merayap nih, gue aja telpon Lu sambil dimake up kok."


"Sue, gila bener deh, asli calon supermodel deh Lu."


"Aamiin."


"Nah Lu mau cerita ap"


"Makanya dengerin mulu Jas Jus, gue lum cerita udah dipotong aja kek struk belanja."


"Ya sudah, maaf. Silakan bercerita Bu!"


"Nah gitu dong, sekali-kali kasih waktu gue buat ngomong sebentar kan makin cantik!"


"Silakan Ibu Negara, ups ...."


"Puji trus sampai gue nggak jadi cerita."


"Skip, sekarang gue cerita dan kamu dengerin baik-baik karena nggak ada siaran ulang. Kakak laki-laki gue lagi dekat dengan teman masa kuliahnya dulu. Dia supermodel juga, baru balik dari Los Angeles, aku harap kamu bisa jagain kakak gue."


"Ha-ah, supermodel?" ucapnya tidak percaya.


Reflek, tangan Jas Jus mengepal.


"Duh, gue bisa apa? lawan gue supermodel?" ucap Jas Jus dengan gemas.


"Tenang, gue yakin jika Abang gue nggak serius, tetapi sayang tuh supermodel sangat serius dengan kakak gue, please bantuin gue ya."


"Katanya Lu suka sama Abang gue, emang rela kalau dia dekat dengan orang lain?"


"Ya kagak lah."


"Makanya deketin kakak gue gih!"


"Maksa amat Buk?"


"Nggak mau nih?"


"Mau lah, masa enggak, orang ganteng maksimal gitu. Idaman gue banget lah."


"Nah kan, soalnya aku nggak pernah suka sama itu cewek, dan satu-satunya orang yang bisa nolongin gue adalah kamu."


"Oke, gua nggak janji tapi akan berusaha untukmu."


"Itu baru bestie gue! Makasih ya."


"Sama-sama."


.


.


Seperti biasa Baby agendanya pergi latihan ke agency model milik Mariska. Setelah siap, Baby segera turun ke bawah dan segera menuju mobil. Kali ini ia diantar langsung dengan sopir karena jadwal kegiatannya hari ini cukup padat, beruntung ia bisa management waktu secara disiplin.


Dilihatnya jam tangan yang selalu melingkar di tangan sebelah kirinya itu. Sebuah jam tangan pemberian dari kekasih hati. Bentuknya yang simple dan elegan membuat tangan Baby terlihat tidak terlalu polos dan sangat indah jika dipandang.


"Hm, memandangimu seperti aku sedang bersamamu saat ini."


Jam tangan pemberian Maxime membuat Baby selalu ingat dengan kekasihnya tersebut. Lagi pula perhatian yang berbeda saat berpacaran dengan Maxime membuat Baby semakin nyaman. Tidak ada rasa was-was seperti dulu saat ia masih cinta monyet bareng Lucky.


"Ngomong-ngomong tentang Lucky kenapa aku bisa lupa? Kenapa aku tidak pernah mengirimkan doa kepadanya?"


"Semoga kamu nggak marah ya, karena saat ini posisi kamu kadang tergeser sama Duce. Meski begitu kenangan bersama dirimu tidak akan pernah bisa terhapus oleh waktu. Semoga kamu bahagia di Surga, aku yakin Tuhan sangat sayang padamu."


🍂UNIVERSITY OF OXFORD


"Maxime ... bisa bicara sebentar?" tanya salah seorang wanita teman satu kelasnya di kampus.


Maxime menoleh, "Sorry gue buru-buru!"


"Jangan jual mahal kau Maxime! Bahkan jika aku mau, harga dirimu akan aku beli."


Maxime menghentikan langkahnya melihat siapa yang berkata begitu lancang dibelakangnya itu. Senyum melingkar justru diberikan wanita yang sejak awal semester selalu mengejar Maxime. Bukan bermaksud untuk luluh dan mendekati wanita itu, melainkan mengingatkan statusnya bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan.


"Nah gitu dong, lihat gue sebentar kenapa?"


"Maaf Nona, tetapi sebelumnya kita tidak pernah saling mengenal lalu kenapa Anda berkata seperti tadi? Di mana attitude seorang wanita terhormat putri Ketua Senat di kampus ternama?"


Wanita itu terdiam, kata-kata Maxime sangat irit tetapi menusuk hingga relung jiwa.


"Sebaiknya Nona mencari lelaki lain yang seumuran dengan Anda dan lebih baik dari saya, karena saya pria beristri!"


"Apa!" pekik wanita itu kesal.


Tangannya mengepal erat, dengan wajah kesal dan penuh amarah, wanita itu segera pergi meninggalkan Maxime. Melihat kepergiannya, hati Maxime sedikit tenang.


"Syukurlah berkurang satu lagi masalah, semoga nggak ada batu kerikil lagi ke depannya."


Maxime kembali melajukan langkahnya menuju perpustakaan umum. Sedangkan Jack yang mengawasinya dari kejauhan segera melaporkan hal tersebut pada Kakek Delicious.


"Selamat siang Tuan Besar, baru saja Tuan Maxime berhasil menyingkirkan satu wanita yang selalu mengejarnya sejak awal semester."


Terdengar gelak tawa dari ujung telepon.


"Baguslah kalau begitu. Ia bisa menyelesaikan kerikil-kerikil kecil seperti ini. Ke depannya akan banyak batu sandungan yang tidak terduga. Karena menjalani biduk rumah tangga tidak semulus memanjat gunung kembar, ha ha ha ...."


"Astaga, tingkat kemesuman Tuan Besar mulai kambuh," ucap Jack dalam hati.


.


.


...🌹Bersambung🌹...