LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 80. SATU TAHUN



Besok adalah peringatan satu tahun kematian Lucky, sekaligus hari di mana kekasihnya itu merayakan kemenangan atas usaha memenangkan balap mobil untuk terakhir kalinya. Hari itu adalah kenangan yang tersisa di hati Baby


Sebuah hari dimana Baby harus melihat Lucky untuk terakhir kali. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah terhapus oleh waktu dan terekam di dalam memory untuk selamanya. Betapa bahagianya hati Baby saat itu karena Lucky berjanji setelah itu ia akan meninggalkan dunia balap mobil. Sayang, Tuhan benar-benar membuatnya pergi menjauh untuk selamanya.


Semua rencana yang ia susun bersama Lucky harus terputus karena takdir. Tawa dan tingkah absurd yang berasal dari sosok Lucky tidak pernah bisa ia lihat dan rasakan kembali saat ini.


Hanya gundukan tanah dengan sebuah papan kayu yang terukir indah menancap di sana. Papan ukiran itu bertuliskan sebuah nama seorang pemuda yaitu Keandra Lucky. Tempat itu pun telah menjadi saksi dan tempat peristirahatan yang terakhir untuk Lucky.


Baby mengusap wajahnya dengan lembut. Ada gurat kesedihan yang mendalam terpancar dari wajah Baby. Jujur saja, sampai detik ini pula Baby belum pernah mendatangi makam Lucky. Bagaimana ia bisa datang ke tempat itu, bahkan kedua orang tuanya seolah menutupi hal sepenting ini darinya. Bahkan Baby belum pernah kembali ke Indonesia sejak itu.


Sejak Baby tinggal di Paris, ia sama sekali belum pernah kembali ke Indonesia. Entah kenapa kakinya berat untuk melangkah ke sana. Ia sama sekali belum kuat jika ia harus berdiri di depan makam Lucky. Membayangkannya saja sudah membuat perasaannya menjadi kacau. Apalagi ia sampai datang ke sana. Rasanya sungguh tidak mungkin akan terjadi pada hidupnya.


Setelah cukup lama mengenang masa lalu, Baby mengambil kaki prostetiknya lalu memakainya dan berjalan menuju meja rias. Diusapnya helaian rambut poni yang menutupi keningnya. Ia merabanya dengan perlahan.


"Bekas luka ini selamanya akan aku simpan. Luka ini juga mengingatkanmu pada cinta kita berdua. Sebuah cinta yang kekal karena ada doa disetiap langkah kita menuju keabadian cinta. Maafkan aku yang egois karena sampai saat ini aku belum bisa mendatangi makammu."


Seketika luruh sudah air mata Baby, ia membiarkannya mengalir deras di sana. Mencoba menyelami perasaannya untuk Lucky. Jujur saja kehadiran Lucky sempat mewarnai kehidupan remaja Baby. Tidak ada hari yang terlewat sejak ia bertemu dengan Lucky gara-gara mobilnya terjebak macet di jalanan. Sialnya hal itu terjadi karena di area jalan saat itu sedang terjadi balap mobil yang salah satunya di ikuti oleh Lucky.


"Astaga, sudah gila apa ya? Jam segini jalanan di tutup."


Baby sempat membunyikan klakson agar kerumunan remaja itu menyingkir tetapi rasanya sama saja seperti berada di tengah turnamen yang keberadaannya tidak dianggap.


Merasa waktu lesnya terganggu, tentu saja memaksa Baby keluar dari mobil, dan secara tidak sengaja ia berdiri tepat di garis Finish ketika mobil Lucky menjadi juara saat itu. Melihat sosok lain yang hadir di sana membuat jiwa Lucky terpancing untuk mendekati Baby.


"Cantik, siapa dia?"


Sementara Baby langsung meninggalkan tempat balap mobil dan melanjutkan perjalanannya. Tetapi Lucky sudah terlanjur menaruh hati pada Baby. Sehingga ia terus mengejar Baby tanpa kata lelah.


Sejak saat itu Lucky selalu mengejar Baby tanpa kata lelah. Meski ribuan penolakan dilakukan Baby, tetapi entah kenapa pada akhirnya keduanya pacaran. Entah kenapa Baby menjadi luluh pada cinta seorang Lucky. Ia juga sama sekali tidak terlalu paham akan hal itu. Baby menjalankan kisah cintanya tanpa perhitungan. Mungkin itulah alasan kenapa Baby bisa masuk ke dalam keluarga Lucky yang nota bene jarang tersentuh.


Kenangan bersama Lucky terus menerus berputar, membuat jiwa rapuh Baby kembali. Diusapnya foto Lucky, lalu mengecupnya perlahan. Membayangkan jika saat ini ia masih bersamanya dan tidak akan kehilangan sebelah kaki, membuat fisik dan mentalnya sedikit ngedrop.


Setelah merasa tenang, Baby mengambil ponselnya untuk meminta Michael datang ke makam Lucky. Baby hanya ingin memberi tahu kepada dunia, jika ia masih ingat pada Lucky.


Michael yang mendapatkan sambungan telepon dari Baby segera mengangkatnya. Tidak ingin jika Michael mengetahui keadaan Baby yang sebenarnya, Baby sudah mengatur emosinya saat itu. Agar saat ia telepon suaranya sudah kembali normal.


"Hallo ...."


"Abang bengek, kangen weh aku ...."


"Abang juga kangen kamu, Dek. Tumben telepon, uang jajan kurang kah?"


"Astaga, enggak lah. Sorry ganggu, masih kerja ya?"


"Enggak, setelah berkas ini selesai, Abang akan pulang, kok!"


"Apa itu?"


"Besok adalah tepat dimana Lucky meninggal dunia. Bolehkan aku minta tolong sama Abang untuk pergi ke makam Lucky, lalu menaburkan bunga di atas pusaranya."


Michael tampak menghela nafasnya, lalu mengatur emosinya agar tetap terlihat tenang.


"Apa pun yang kamu inginkan akan Abang usahakan, kalau tidak banyak jadwal penting, mungkin kapan-kapan aku bisa pergi ke Paris kembali."


"Ok, aku tunggu di sini ya. Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih untuk hal ini."


"Sama-sama, sayang."


Setelah menelpon kakaknya, Baby menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu setelahnya ia berbaring di atas tempat tidur. Mungkin karena lelah sehingga sepersekian detik berikutnya ia sudah terlelap. Sayang, di dalam mimpi Baby bertemu dengan Lucky.


"Lucky itu kamu?"


Lelaki di dalam mimpi Baby tersenyum kepadanya. Dengan perlahan ia datang mendekati Baby yang ternyata terdiam di tempatnya lalu memeluknya dengan eratnya.


"I love you Baby Cornelia, cinta kita akan abadi selamanya, ikutlah denganku di alam keabadian."


Baby mendongakkan wajahnya lalu mendorong tubuh Lucky palsu.


"Kamu bukan Lucky? Seorang Lucky tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku! Cepat pergi!" teriak Baby.


Dalam sekejab mata, bayangan Lucky palsu sudah pergi. Kini tinggallah ia yang berdiri sendirian di tengah taman bunga yang indah. Di saat itulah ada sebuah tangan yang merangkul tubuhnya dari arah belakang. Hembusan nafasnya begitu kentara, membuat Baby dengan mudah mengenali sosok tersebut.


"Duce sayang, kamu kok berada di sini? Bukankah kamu lagi belajar di sana?"


"Iya, memang betul, tetapi ada satu hal yang membuatku cepat datang ke tempat ini."


"Apa itu?" tanya Baby masih dalam posisi yang sama dengan tadi.


Kini bahkan wajah dokter Maxime sedang ia sandarkan di salah satu bahu Baby. Reflek ia mengusap dengan lembut pucuk kepala dokter Maxime.


"Hm, bau shampoo barusan ... yang membuat kadang lelahku hilang karena telah mencium aromanya," ucap Baby dalam hatinya.


Sementara tubuh dokter Maxime yang sebelumnya lelah karena beban perusahaanya mulai ia handle sendiri, kini sedang menikmati sentuhan lembut dari calon istrinya kelak. Sungguh Maxime sangat beruntung ketika mendapatkan Baby.


.


.


...🌹Bersambung🌹...