LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 69. GETARAN CINTA



"Kenapa bengong, aku jelek ya?"


Karena Baby terlihat melongo membuat Maxime kembali memperhatikan penampilannya kali ini.


"Nggak ada yang salah, kenapa dia menatapku seperti ini?"


"Baby, please jawab pernyataan dariku?"


"Eh, enggak kok, nggak jelek ... justru bagus kok, hm, cuma agak beda aja gitu."


"Pantes nggak?"


"Pantes dong, masa enggak. Cuma, biasanya kan dokter pakai pakaian dinas tuh, jarang pake baju santai apalagi pakai jaket hodie kek gitu."


"Iya, nih, biar samaan dengan mahasiswa lain, kalau berpakaian formal aku keliatan tua dong."


"Wkwkwk ... jujur amat sih."


"Lebih baik jujur, atau kamu juga mau mengatakan kalau aku emang tua."


"Em, tua nggak ya?"


"Hm, entahlah! Aku nggak mau bahas lagi, kalau kamu mau bahas umur juga gpp sih, tapi aku tutup aja sambungan telepon kita."


"Jangan dong. Coba berdiri deh, pengen liat betapa gagahnya sayang bebebku ini."


"Wkwkwk, Baby jangan gombalin aku dong, harusnya aku yang gombalin kamu."


"Nggak usah deh, aku yakin kok kamu ahlinya. Tapi kalau aku beda."


"Bedanya apa tuh?"


"Kalau dukun bisa membunuh tanpa menyentuh. Maka, aku bisa membuatmu merindu tanpa bertemu, wkwkwk."


"Serem ih punya pacar dukun," ucap Maxime.


"Kan cuma perumpamaan sih, Sayang."


"Lama-lama aku makin cinta sama kamu deh."


"Buktiin! Jangan cuma manis di mulut, pahit di perut, wkwkwk, canda ...."


Obrolan sepasang kekasih itu trus berlanjut hingga beberapa jam. Lalu karena takut Baby kecapekan ia pun menyuruh Baby agar istirahat.


.


.


"Nggak mungkin itu kamu, Sayang."


"Kenapa Baby mempunyai tanda lahir yang sama dengan dia, nggak mungkin juga dia berasal dari Indonesia, 'kan?"


Tidak lama kemudian terdengar kamar Tango diketuk oleh nenek.


"Tango, kamu di dalam?"


"Iya, Nek."


"Di bawah ada Loli dan Mamanya maen ke sini, katanya mau meminta maaf karena tadi nggak bisa datang ke pertunjukan fashion perdana kamu tadi."


"Iya, sebentar lagi Tango turun."


Tango kemudian menyimpan pisau lipatnya di dalam laci, lalu menggeser almarinya agar foto-foto gadis itu tertutup dengan sempurna.


Sesuai perkataannya Tango turun untuk menemui Loli dan Mamanya. Melihat Tango turun, sepasang mata Loli berbinar menatap kedatangan Tango. Nenek yang melihat respon Loli tau jika ia sangat mencintai Tango. Maka dari itu ia lebih memilih gadis ini untuk menemani cucu laki-lakinya itu daripada membiarkannya menunggu kepastian dari seorang gadis yang bahkan namanya saja ia lupa.


"Selamat malam Tante, Loli."


Seperti di siram hujan di tengah gurun, sikap sopan dari Tango seolah mengartikan jika ia sudah menerima kehadiran Loli.


"Ya sudah, ayo jeng kita ke belakang, biar anak-anak saling bicara, kebetulan Nani baru saja bikin kue bolu resep terbaru."


"Loli, Tango ... tante ke belakang dulu ya."


Setelah tinggal keduanya, mereka saling menatap dan terdiam untuk sesaat. Lalu Tango pindah tempat duduk, ia sekarang duduk tepat di samping Loli. Sontak saja jantungnya seolah ingin melompat keluar karena rasa gugup yang mendera.


"Hai Loli ...."


"Hai ...."


"Oh ya kapan hari bukankah teman kamu Jas Jus itu sahabat lama kamu, kan? Begitu pula dengan Baby Cornelia."


"Iya kita bertiga sahabat sejak SMP, cuma saag SMA kita udah lost contact."


"Nah, pas aku dengar saat Baby kecelakan dan dibawa ke sini, aku diajak Mama untuk tinggal di sini untuk sementara waktu."


"Jadi Baby asli orang Indonesia kayak kamu?"


Loli mengangguk, tetapi ia bingung kenapa Baby yang dipertanyakan di sini? Batin Loli menjadi tidak suka akan hal ini. Hanya saja entah kenapa berdekatan dengan Tango membuat hidupnya menjadi berbunga-bunga.