
Enam jam kemudian, pesawat yang ditumpangi dokter Maxime telah sampai di Indonesia. Kini mereka sudah berdiri di pintu kedatangan. Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan di mana timur dan barat. Maklum penyakit seperti ini sering terjadi untuk seseorang yang jarang berpergian jauh.
"Maaf Pak Bos kita kemana setelah ini?"
Dokter Maxime masih memperhatikan ke sekelilingnya, ia berharap tidak salah langkah kali ini. Menelpon Baby justru sebuah kesalahan, apalagi sampai menghubungi Jas Jus. Semua rencananya bisa berantakan.
"Bos ... hallo Bos, kita mau ke mana sekarang?"
"Kita ikuti arah orang-orang tadi."
"Ha-ah, kenapa tidak bertanya pada security saja Bos, biar jelas arah keluarnya ke mana."
Muka masam diberikan pada Jack yang langsung membuat Jack menelan salivanya dengan susah.
"Kalau begitu kamu saja yang tanya, saya di sini saja."
"I-iya Bos."
Meski mulutnya berucap manis tetapi hatinya menggerutu.
"Astaga, tega banget sih Bos?" batin Jack.
"Sepertinya mengikuti orang yang lagi jatuh cinta sangatlah membuat lelah hati dan jiwa raga. Ibu ... Jack ingin pulang, hu hu hu ...."
Meski hatinya menggerutu, Jack tetap melakukan perintah Bosnya, apalagi hidupnya saat ini amat tergantung pada Maxime saat ini. Setelah informasi sudah dirasa cukup, ia pun kembali pada Michael.
"Bos informasinya sudah lengkap, mari kita pergi."
"Baiklah kalau begitu."
Dokter Maxime membetulkan kaca mata serta maskernya. Kini Jack yang memimpin langkah mereka, sementara dokter Maxime mengikutinya dari belakang. Maxime terlihat begitu tampan apalagi ia hanya memakai celana pendek dan jaket hitam hoodie miliknya, ditambah kaca mata hitam sungguh membuat kaum hawa terpesona dalam sekali pandang.
Lain halnya dengan Jack yang memang berperawakan plontos badan tegap mirip angkatan sehingga ia memang pantas disebut my bodyguard.
Karena cuaca cukup terik meski sudah sore, membuat Maxime seperti dehidrasi. Sehingga mereka segera memesan taksi online dan menuju salah satu restauran.
"Maaf Pak, antar kami ke resto western!"
Karena sopirnya asli Indonesia ia agak kesulitan berbicara dengan Jack dan Maxime. Beruntung Maxime sedikit belajar bahasa Indonesia.
"Mohon maaf, bisa mengantar kami ke salah satu restauran?"
"Oh bisa, mau makanan Jawa, Asia atau Eropa Mister?"
"Eropa."
"Woke, kita berangkat."
Maxime kini bisa bernafas lega. Karena terburu-buru, ia bahkan belum sempat belajar bahasa Indonesia. Akibatnya seperti sekarang ini, ia menjadi kesulitan sendiri.
Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud, sebelum turun ia pun bertanya pada sopir tersebut tentang alamat Baby. Karena merasa kasihan, sopir tersebut bersedia menunggu Maxime dan Jack makan lalu mengantar mereka ke hotel dekat rumah Baby.
"Untung ketemu orang baik ya Bos."
"Iya, sudah cepat makan. Agenda malam ini begitu padat."
"Tapi Bos mau kemana?"
"Pesta ulangtahun keponakan, astaga .... "
"Kenapa lagi Bos?"
"Hadiahnya buat Jas Jus kelupaan, gimana ini?"
"Hilih, nggak apa-apa kali Bos, kasih aja tiket liburan kan beres."
Jack hanya meringis, "Soalnya saya belajar Bos, setidaknya tidak membuat Bos susah itulah motto hidup saya."
"Good job lah. Dah lah makan dulu, pikir kemudian."
Akhirnya kedua orang itu segera makan bersama dan segera menuntaskan hajat mereka. Tidak lupa mereka membungkus beberapa makanan untuk di hotel.
"Tumben pakek di bungkus Bos?" tanya Jack penasaran.
"Biar nggak kelaparan kalau di hotel, ya kali aja makanannya nggak cocok!"
"Betul juga Bos, saya juga mau!" ucapnya bersemangat.
"Serius mau? kalau iya nanti aku potong gaji kamu oke."
"Ha-ah, kok gitu Bos?"
"Iya, habisnya kamu cerewet banget dari tadi, bikin selera makan saya ilang."
"Astaga salah ngomong lagi!" batin Jack sambil menelan makanannya dengan susah.
"Nasib-nasib gini amat ya!"
.
.
Sementara itu Baby tidak jadi jalan-jalan ke mall. Lagi pula semua kebutuhan untuk pesta Jas Jus sudah dipersiapkan. Sehingga ia tidak butuh apa pun lagi saat ini.
Saat ini Baby hanya bersiap untuk menentukan riasan yang akan dipakai nanti saat pesta berlangsung. Sesekali ia ingin menghubungi Maxime tetapi takut menganggu sehingga niatnya ia urungkan.
"Biarlah aku menunggu waktunya tiba, asalkan tidak mengganggunya."
Baby mengambil salah satu gaun, "Hm, sepertinya aku ingin pakai yang ini saja lah, lebih keliatan fresh."
Baby memperhatikan detail corak di dalam gaunnya tersebut, tidak ribet saat dipakai dan nyaman sehingga nanti tidak perlu ketakutan ada tragedi saat pesta.
.
.
🍂Lima jam kemudian.
"Hai adikku yang manis, apakah sudah siap?"
Baby menoleh, riasannya tidak terlalu mencolok tetapi sangat cantik dan sesuai usia Baby. Michael saja sampai terpesona akan kecantikan Baby.
"Cantik banget sih, takut aku jalan sama kamu!"
"Yang penting nggak jomplang sama yang punya acara, takutnya salah fokus nanti."
"Iya deh. Ayok lah berangkat!"
Sementara itu Jas Jus terlihat cantik tetapi wajahnya murung sehingga mengurangi kecantikannya.
"Kenapa wajahnya ditekuk kayak gitu sih sayang?"
Entah sejak kapan Mama Kara sudah berdiri di belakang Jas Jus. Sama seperti putrinya Mama terlihat lebih cantik sehingga tersamarkan usianya.
"Ayo turun sayang, kita sambut para tamu."
Dengan langkah malas Jas Jus mulai menuruni tangga. Kehadiran sang pemilik acara mampu menghipnotis mata para kaum adam di sana, termasuk Bryan. Tetapi kedua mata Jas Jus terkunci pada salah satu tamu yang muncul secara tiba-tiba di pintu masuk.
"Cinta tak akan pernah salah," ucap Jas Jus sambil tersenyum.