LOVE IN PARIS

LOVE IN PARIS
Bab 64. KEINGINAN YANG TERTUNDA



Karena kaki Baby yang kebas, mau tidak mau dokter Maxime harus membuka perban di kaki Baby yang pernah diamputasi agar memudahkan ia mengecek kondisi kakinya dan memberikan pertolongan yang tepat untuk Baby.


Rasa grogi seketika menyerang tubuh kedua insan itu. Terjebak dalam pemikiran masing-masing hingga profesionalisme kerja harus tetap dijunjung tinggi. Dibukanya perban kaki milik Baby secara perlahan, hingga terlihat jelas kaki putih bersih itu terpampang nyata di depan mata dokter Maxime.


"Sabar, sabar dia masih gadis, Maxime ...."


Entah dari mana pemikiran kotor itu muncul, beruntung Maxime masih dalam keadaan yang sepenuhnya sadar. Hingga ia berhasil menekan nafsunya.


Masalahnya saat ini adalah ikatan batin diantara dua insan ini sedang terjalin. Jika tidak, mana mungkin ia akan merasakan tubuhnya mendadak panas. Padahal jika itu pasiennya ia akan bersikap biasa saja.


"Sial, kenapa lagi dengan tubuhku?"


"Haduh, kenapa pakai dibuka sih, kan gue malu."


Tiba-tiba, dokter Maxime berdehem, hingga membuat Baby bertanya-tanya, "Ehem."


"Kenapa dok?"


"Nggak apa-apa."


Tangan dokter Maxime mulai menyentuh kulit kali Baby dengan lembut. Mengompresnya dengan air hangat lalu tak lupa memberikan lotion pada kakinya. Sungguh perhatian dari Duce mengalihkan dunia Baby untuk sejenak.


"Gimana udah enakan?"


Baby mengangguk. Beberapa kali dokter Maxime menelan ludah ketika mengobati kaki Baby. Hal itu tidak luput dari perhatian Baby.


"Awas aja macem-macem!" batin Baby siaga.


Lelaki mana yang tidak tergoda dengan tubuh Baby. Mungkin dulu, jelas terlihat jika kaki Baby benar-bebar jenjang. Hal itu terlihat dari postur tubuhnya yang terlihat tinggi.


Pasti saat itu Baby gadis yang sangat cantik dan smart. Terlihat dari attitude Baby yang masih bertahan sampai detik ini, membawa Baby bertransformasi menjadi gadis yang kuat.


"Duce ...."


"Apa sayang ...."


"Satu bulan lagi aku akan ikut Paris Fashion Week, menurut kamu, apa aku sanggup bertahan sampai stage terakhir dengan kondisi seperti ini?"


Kali ini sorot mata tajam Maxime menatap wajah Baby. Ia tidak boleh salah dalam memberikan masukan untuknya. Ia paham dunia modeling sudah menjadi salah satu tujuan hidup Baby, begitu pula dengan kehidupan Baby yang akan menjadi tanggung jawabnya nanti.


"Kita lihat perkembangan kamu dalam satu minggu ini. Baru setelahnya aku akan mengatakan hal yang sebenarnya."


"Nggak seru!"


"Iya, iya bawel."


"Kalau berani bilang bawel awas aja," ucap Maxime tiba-tiba marah.


Setelah menaruh baskom, Maxime mendekati Baby. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa tersebut. Sambil memandangi langit, mereka saling bercerita satu sama lain.


"Jadi ini laporan terakhir dari proyek kerja sama dengan cabang Riau."


Michael tampak membolak-balikan berkas dihadapannya dengan sangat teliti.


"Seperti dugaan, semuanya tidak berjalan dengan baik, apakah aku harus segera terbang ke Riau sekali lagi?" gumam CEO Mich dari kursi kebesarannya.


Ia menutup laporan di depannya itu dan memandang asisten pribadinya secara serius.


"Apa kamu bisa menyelesaian masalah ini?"


"Bisa CEO Mich."


"Kalau begitu bereskan masalah ini dengan caramu! Jika ada kendala segera hubungi aku."


"Baik CEO, kalau begitu saya permisi."


Michael memijat pelipisnya, "Huh, begitu beratnya memikirkan nasib perusahaan milik sendiri."


Ia berdiri memandangi langit Jakarta sejauh penglihatannya.


"Baby, I miss you."


"Hanya canda tawamu yang bisa mengalihkan kepenatan ini."


Ia pun tak bisa berpikir jernih beberapa hari ini hanya karena ucapan Jas Jus yang mengatakan jika ia tak akan rela melihat Michael dekat dengan salah satu anak pengusaha yang berada di Riau. Bagaimanapun Michael harus menjadi miliknya.


"Dasar gadis bau kencur, bisa-bisanya mengatur duniaku, hm."


.


.


...🌹Bersambung🌹...