
Melihat kedekatan Michael dengan seorang wanita dewasa membuat pikiran Jas Jus nggak tenang. Meski tubuhnya berada di dalam kamar, tetapi pikirannya sedang jauh berkelana.
"Pokoknya Abang Michael harus jadi milik gue."
Dilemparnya bantal yang ia peluk ke sembarang arah dan ia bergegas mendekati cermin kaca rias miliknya. Ia melenggak-lenggok di sana dan melihat bentuk tubuhnya sendiri.
"Body oke, cantik ... relatif lah ya?"
Lalu ia mengambil beberapa pakaian seksi dari dalam almari. Beberapa baju minim dan kurang bahan itu ia keluarkan dari dalam sana.
"Nah, kalau pakaian ini ... nggak bagus."
"Yang ini ... kayak emak-emak."
"Nah ini baru pas."
Dengan style sekretaris ia akan memadukan gaya remajanya dengan gaya kantoran. Tinggal memoles wajahnya dengan sedikit bedak tabur dan lipstik berwarna merah menyala sudah berhasil merubah tampilannya menjadi lebih dewasa.
"Gue nggak bakal suka sama Lu! Lu tuh masih bocil, jadi nggak termasuk selera gue. Gue bukan predator anak-anak!"
Ucapan Michael seolah menjadi sebuah tantangan untuk Jas Jus. Baginya hal seperti ini jauh lebih menantang ketimbang mengerjakan mata pelajaran matematika.
Setelah memilih baju yang cocok, Jas Jus turun ke lantai satu, kebetulan Mama Kara baru aja bikin kue bolu kesukaan Papanya.
"Wih, harum banget Mom, buat siapa?"
"Buat Papa kamu dong, Sayang."
"Bagi biat Jessie dong, biar aku bawa ke calon mantu Mama," ucapnya dengan enteng.
"Mantu-mantu ... sekolah aja dulu yang bener baru mikir mantu."
"Dih Mama nggak asik!"
"Mama sayang, tau nggak sih, kalau kue bolanya mau aku kasih buat siapa?"
Mama Kara menggelengkan kepalanya.
"Mama nggak tahu dan nggak mau tahu," ucapnya sambil menyelamatkan kue bolu spesial pakai cinta untuk suaminya."
"Mama ... bagi napa sih."
Jessie sudah merajuk seperti anak kecil saat ini, sayang Mamanya nggak terpengaruh.
Langkah kaki Mama Kara tiba-tiba berbalik dan tersenyum pada putrinya itu.
"Kalau buat abang ganteng mah, silakan aja."
"Nih kuenya bungkus sendiri tapi, sehabis itu kamu bayar kuenya ke Mama."
"Wajah yang semula bahagia kini berubah masam."
"Mama ...."
"Nggak usah protes, lagian uangnya juga buat heli bahan biar Mama bisa bikin lagi buat Papa, atau ... kamu mau dipotong uang sakunya sama Papa."
"Yah jangan dong, oke Jessie ganti, berapa ....?"
"Lima ratus ribu buat bahannya, untuk kasih sayangnya satu juta, jadi totalnya satu setengah juta."
"Mama ... mau merampok Jessi ya!" ucapnya kesal.
"Nggak mau ya udah."
"Iya, nih uangnya."
Jas Jus langsung mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkan pada Mama Kara.
Dua masalah sudah selesai, kini ia tinggal membawa kue tersebut naik ke kamarnya. Tidak lupa ia mengunci kamarnya agar tidak ada yang mengetahui jika ia mau kencan.
Setelah mandi dan berdandan, Jas Jus segera membawa paper bag yang berisi kue bolu itu. Mama Kara yang kebetulan bertemu Jas Jus agak terkejut karena penampilannya.
"Jessie mau kemana?"
"Mau kencan Mam, nggak usah protes deh."
"Kencan kok pakaiannya kayak tante-tante gitu, ganti Mama nggak suka."
Jas Jus mengibaskan tangan Mamanya, dan segera melenggang pergi.
"Mending gue sekarang lari daripada gagal kencan," batin Jas Jus.
"Jessie ...." teriak Mama Kara.
Beruntung banget Jas Jus bisa kabur keluar dari rumah. Saat ini ia sedang berada di dalam taksi online. Ia sengaja tidak naik mobil sendiri karena keinginannya saat pulang nanti bisa diantar oleh Abang Michael.