
"Meski begitu aku sama sekali tidak percaya padamu ...."
Sepasang kekasih itu menoleh bersamaan ke arah pintu. Ternyata Michael ada di sana, berdiri di ambang pintu dan menatap tajam ke arah Maxime. Tanpa diminta ia mendekati brankar Baby.
"Jauhkan tanganmu dari tubuh Baby!"
Dalam sekejab ketegangan pun terjadi di ruangan itu. Insting Maxime mengatakan jika Michael akan melakukan sesuatu padanya. Sorot matanya saja sudah tidak bersahabat.
"Abang ... Baby kangen."
Michael pun mendekati adiknya lalu mendekapnya dengan erat. Kenyamanan yang ia rindukan akhirnya terbayar. Jangankan mengajak bicara bahkan Michael menganggap jika Maxime tidak ada saat ini. Daripada membuat adiknya menangis ia lebih baik meredam amarahnya saat ini.
"Abang, jangan menyalahkan Duce, dia nggak bersalah dalam hal ini kok, Baby yang tidak menjaga kesehatanku sendiri."
"Oh ya, Duce sengaja bolos kuliah karena ingin menemaniku, loh. Jadi jangan menyalahkan dia ya, please."
Michael membuang muka, ia tidak sanggup memandang wajah Baby yang sudah memasang puppy eyes-nya.
"Ya Tuhan kenapa adikku imut sekali. Aku bahkan tidak sanggup untuk mengatakan tidak padanya."
Baby yang membaca situasi saat ini memberikan kode ke arah Maxime tetapi sayang ia tidak paham akan kode yang diberikan oleh Baby. Hingga suara Michael membuat Baby hampir terjingkat karena hal itu.
"Hei kau, jika ingin hidup lebih lama, segeralah pergi sebelum aku mengunyahmu!"
"Oh, oke, tapi permintaanku hanya satu, jaga dirimu selama aku pergi, aku sangat mencintaimu Baby."
Baby tersenyum lalu mengangguk, tak lupa sebuah kiss bye ia berikan pada Duce-nya itu. Setelah melihat Maxime pergi, Michael mulai memandangi adik satu-satunya itu.
"Baby, abang sudah pernah bilang supaya kamu lebih berhati-hati pada dirimu. Kamu tau pekerjaan abang menumpuk, belum lagi harus mengawasi cecunguk itu bersamamu."
"Abang, Duce-ku bukan cecunguk, tetapi dia dokter hatiku."
"Cie ... suiuitt ...."
"Lucky?"
Baby buru-buru menyikut dada kakak laki-lakinya itu sampai dia mengaduh.
"Awh ...."
"Kamu kenapa Abang?"
Michael menoleh dan melihat ke arah adiknya.
"Ada Lucky di sini?" tanya Michael keheranan.
Baby langsung menggeleng lalu melihat ke arah Tango dan Mariska.
"Abang dia rekan satu profesiku di dunia model namanya Tango, sementara wanita di sampingnya adalah pelatihku sekaligus pemilik agency model tempat aku bernaung, namanya Kak Mariska.
Kedua tamu Baby pagi itu tersenyum ke arah Michael, tetapi respon yang sama tetap ia tunjukkan pada mereka.
"Abang senyum dikit kenapa sih?"
Mariska mendekati Baby seraya berbisik, "Cogan kayak itu nggak suka diatur, dan sangat mementingkan skin care ketimbang salah satu mencari pendamping hidup.
"Wkwkwk, bengek! Dia itu kakak gue somplak. Jadi jangan asal bicara deh."
Kini ia hanya merasakan jika pertemuan hari ini sedikit membuka matanya tentang kehidupan kedua. Meski berwajah sama tetapi sepertinya Tango memang bukanlah Lucky. Apalagi keluarga Lucky sejak dulu sudah sangat misterius, kini ditambah lagi dengan kemunculan seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Lucky. Misteri apa lagi ini? Jangan sampai hal tersebut membahayakan kondisi Baby.
Melihat Michael mengamatinya sejak tadi membuat Tango tahu jika kakak laki-laki Baby tidak menyukai keberadaannya kali ini.
"Menarik sekali kakak laki-lakimu ini Baby, bolehkah aku juga mendekatinya?"
Di saat kedua lelaki itu membaca kepribadian masing-masing, masih sangat terasa jika keduanya belum tentu bisa bersahabat.