
Prang
Terdengar suara kegaduhan dari luar, yang membuat Bella sontak terbangun dari tidur nya. Bella penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi di rumah nya, akhir nya Bella keluar dari kamar nya menuju ke ruang tamu.
Ketika keluar dari kamar, Bella melihat mama nya duduk tersungkur di lantai, dan banyak sekali pecahan kaca berserakan di sana. Ia melihat papa nya hendak memukul mama nya, sontak ia langsung berteriak.
“Papa ... jangan!” Teriakan Bella menghentikan papa nya, sontak papa nya langsung menoleh ke arah Bella. Melihat papa nya tidak jadi memukul mama nya, Bella langsung berlari menuruni tangga dan menghampiri wanita yang tengah terduduk di lantai itu.
“Papa ... jangan sakiti mama!” ucap Bella lirih sambil menatap papa nya; Bella ikut menangis melihat mama nya seperti itu.
“Bella ... kembali ke kamar, Sayang. Kamu tidak perlu tau urusan papa dengan mama!“ Perintah papa Bella.
“Nggak, Pa! Bella nggak mau lihat papa sama mama bertengkar. Bella mau papa sama mama baikan.” Bella membantah ucapan papa nya.
“Tidak, Sayang. Sekarang, Papa sama mama sudah bercerai. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kami perbaiki." Jelas papa Bella.
Deg
Sontak Bella terkejut mendengar apa yang di katakan papa nya. Bella adalah anak yang pintar, jadi ia tau apa arti nya perceraian bagi pasangan suami istri, walaupun ia masih muda.
FLASHBACK OFF
Bella menangis mengingat kejadian yang terjadi 13 tahun silam. Kejadian yang sudah sangat lama akan tetapi masih terekam jelas di ingatan nya.
***
Sudah satu minggu lama nya Kia tinggal bersama di rumah Rey dan Bella. Perlakuan Rey terhadap Bella semakin kasar saja dan semena-mena.
Saat sedang membersihkan pekarangan rumah, tiba-tiba Bella mendengar suara teriakan seseorang dari dalam rumah, dan ia sangat mengenali suara itu. Bella langsung berlari ke dalam rumah, dan menghampiri asal suara.
Terlihat Rey dan Kia tengah duduk di sofa ruang tamu. Bella yang baru saja selesai membersihkan pekarangan rumah, menghampiri mereka berdua yang sedang duduk berbincang-bincang sambil bercanda dan memakan buah.
"Bersihkan ini!" perintah Rey ketika melihat Bella sudah datang.
Bella masih terdiam di tempatnya, ternyata Rey memanggil nya hanya untuk membersihkan kulit buah yang berserakan di lantai. Dengan berat hati akhirnya Bella pun berjongkok dan membersihkan kulit buah tersebut.
“Rey, apa tidak sebaik nya kita mempekerjakan orang saja untuk mengurus rumah?” Kia berucap sambil melihat ke arah Rey.
“Jadi, apa guna nya dia di sini, kalau kita masih harus membayar orang untuk membersihkan rumah.“ Cetus Rey sambil menunjuk ke arah Bella.
“Apa dia fikir tinggal di sini itu gratis? menghabiskan makanan saja!“ sambung nya lagi.
“Benar, Ki. Tidak masalah bagiku ... aku juga sudah biasa melakukan pekerjaan rumah seperti ini. Aku juga sadar posisi ku di sini sebagai apa. Sebagai orang yang menumpang, aku harus tau diri juga, kan.“ Ujar Bella tersenyum sambil melihat ke arah Rey dan Kia.
"*Apa kau memang hanya menganggap ku sebagai seorang pembantu di sini, Rey? apa aku begitu tidak berarti bagi mu? apakah aku sebegitu hina nya di mata mu, Rey*?” Batin Bella meringis. Ia hendak menangis sekarang juga, tapi cepat-cepat di tepis nya pemikiran nya itu, karena ia tidak mau terlihat lemah dan tak berdaya di depan pasangan ini.
"Aku masih belum mengerti apa yang ada di fikiran wanita bodoh ini. Sudah seperti ini pun dia masih bisa tersenyum.“ Gumam Rey sambil memperhatikan Bella yang masih setia dengan senyum yang terpatri di wajah nya.
"Cihh ... kau masih bisa tersenyum ternyata, ya.“ Kia berdecih dalam hati, ia tidak suka melihat reaksi Bella yang seolah biasa saja melihat Rey bersikap seperti itu kepada nya.
[ B e l l a ]
Aku terlihat tegar di hadapan mereka supaya mereka tidak melihat sisi lemah ku, sampai-sampai aku rela terlihat bodoh. Istri mana yang akan diam saja ketika melihat suami nya membawa wanita lain pulang ke rumah, dan posisi wanita itu adalah sahabat nya sendiri.
Aku baik ... tapi tidak dengan hati ku. Dan aku berpura-pura seakan tak perduli, supaya kalian tak menganggap ku lemah.
Tangisan Bella hampir pecah, melihat apa yang telah di perbuat oleh suami dan sahabat nya itu.
***
Sore itu, Bella sedang duduk di taman belakang rumah nya. Tidak tau apa yang saat ini sedang di fikirkan nya. Tapi, Ia kembali mendengar suara teriakan Rey dari dalam rumah. lagi-lagi Rey mengganggu waktu tenang nya.
Bella beranjak dari duduk nya dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk menghampiri Rey.
“Kau dari mana saja, Sayang? aku memanggil mu dari tapi tidak ada jawaban dari mu.“ Ucap Rey lembut ketika melihat Bella datang. Bella begitu terkesiap melihat sikap Rey yang seperti ini.
"What? Sayang? kerasukan setan apa dia sampai-sampai memanggil ku dengan sebutan seperti itu. Asal kau tau Rey, bukan nya romantis tapi malah terdengar menyeramkan di telinga ku.“ Batin Bella sambil mengernyitkan dahi nya bingung seolah bertanya.
“Bella Sayang, ini ada telfon dari ibu. Ibu ingin berbicara dengan mu.“ Ujar Rey masih dengan nada lembut, seraya menyerahkan ponsel nya kepada Bella.
"Pantas saja dia berlagak semanis itu. Ternyata dia tidak mau ibu tau apa yang selama ini dia lakukan terhadap ku." Gerutu Bella dalam hati lalu mengambil ponsel tersebut dari tangan Rey.
“Halo, Ibu. Ibu apa kabar? ibu baik-baik saja kan di sana? Kalau ada waktu luang, Rey dan Bella akan usahain untuk main ke rumah ibu, ya." Bella menjatuhkan pertanyaan bertubi-tubi kepada ibu Shinta atau ibu nya Rey.
Bella berjalan menuju dapur supaya Rey dan Kia tidak bisa mendengar pembicaraan nya dengan ibu.
“Iya, Sayang. Ibu baik-baik saja di sini, malah seharusnya ibu yang menanyakan keadaan mu. Apa Rey memperlakukan mu dengan baik di sana?“ tanya ibu Shinta dengan nada khawatir.
***
Sudah hampir 15 menit tetapi Bella belum juga selesai menelepon dengan bu Sinta. Kia mulai risau, ia takut kalau Bella akan membongkar semua nya kepada ibu nya Rey.
“Rey ... apa tidak sebaik nya kita lihat saja Bella? aku takut dia akan mengadukan mu ke ibu,“ ucap Kia sambil memegang lengan Rey.
“Aku khawatir dia akan membongkar rahasia kita, Rey. Aku takut dia akan memberitahu ibu mu tentang hubungan kita,“ sambung nya lagi yang semakin membuat Rey tambah bingung.
“Benar juga apa yang kamu katakan sayang. Ayo kita susul dia!“
Rey memegang tangan Kia dan mengajak nya supaya berjalan di belakang nya. Bella melihat Rey dan Kia yang sedang bersembunyi di balik tirai pintu, terlintas di pikiran nya untuk mengerjai mereka berdua. Bella sengaja menambah volume suara nya agar mereka mendengar apa yang sedang ia bicara kan.
"Hiks ... hiks ... iya, Bu. Rey menyuruhku untuk tidur di gudang, dia tidak mengizinkan ku tidur bersama nya di kamar kami bu. Rey meminta ku memakan makanan sisa, dia juga menyuruh ku membersihkan rumah layak nya seorang pembantu, Bu. Hiks ... hiks ... dan juga ...“ Bella menggantung kata-kata nya, dia mengusap air mata nya yang sudah hampir masuk ke dalam mulut nya. Rey hanya terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Bella. Bella terus berbicara seolah-olah ia benar-benar sedang menelepon, padahal sambungan telepon tersebut sudah lama terputus.
"…Rey juga membawa wanita lain pulang ke rumah bu, dan mereka tidur bersama. Hiks …hiks ... aku sangat sedih, Bu,“ sambung nya lagi sambil menangis tersedu-sedu. Sebenarnya ia sudah lama ingin mengeluarkan keluh kesah nya, dan akhirnya sekarang ia bisa menangis sepuasnya.
"Apa wanita ini sudah gila? berani sekali dia berbicara seperti itu kepada ibu. Benar-benar sudah tidak ingin hidup lagi dia." Rey geram menahan amarah nya.
"Bella benar-benar mengatakan yang sebenarnya kepada ibu nya Rey. Habis lah aku!“ Kia sudah ketakutan sambil memegang lengan Rey.
Rey terlihat geram, ia langsung berjalan menghampiri Bella, dan merampas handphone tersebut dari tangan wanita itu.