
Di tempat lain, dua orang pria yang di sangka telah tiada, tengah mengadakan meeting bersama Klien nya. Mereka telah sampai di kota A sekitar 30 menit yang lalu, dengan menggunakan helikopter pribadi. Di karenakan kalau mereka menaiki pesawat, itu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama, dan mereka bisa kehilangan kontrak seharga milyaran juta itu.
“Baiklah pak, senang bisa bekerja sama dengan anda.” Ujar Rey sambil menyalami tangan lelaki yang saat ini ada di hadapan nya.
“Saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda, Pak Rey. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!” Rey pun mengangguk.
“Hati-hati di jalan Pak!” ucap Rey. Lelaki itu pun tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkah kaki nya.
“Huftt ... syukurlah masih sempat, jika terlambat sedikit saja, kita akan mengalami kerugian besar.” Rey menghembuskan nafas lega seraya menyandarkan tubuh nya pada sofa.
“Betul sekali, Rey.” Ronald ikut menimpali. Ronald pun ikut menyandarkan tubuh nya pada sofa, dan memainkan ponsel nya.
“Kenapa banyak sekali panggilan dari istriku?” ucap Ronald. Ia tidak mendengar bahwa istri nya menelepon, karena ketika meeting, handphone harus dalam mode silent.
“Astaga … kenapa bisa seperti ini?” ujar Ronald yang masih menatap layar ponsel nya.
Rey mengernyitkan dahi nya. “Ada apa?” tanya Rey.
“Lihatlah ponsel mu!”
“Hey, apa kau lupa kalau ponsel ku terjatuh?” Rey mendengus kesal.
“Oh iya aku lupa. Lihatlah Rey! “ ujar Ronald sambil menyodorkan ponsel nya kepada Rey. Rey pun mengambil ponsel tersebut.
“Astaga, untung saja kita tidak jadi menaiki pesawat itu,” ucap Rey ketika melihat berita yang mengabarkan 2 pesawat meledak sekaligus dari ponsel Ronald.
“Tapi kenapa bisa jatuh bersamaan seperti itu, seperti nya ada yang sudah merencanakan nya. Eh tunggu dulu! Cepat hubungi istrimu atau istriku, aku takut mereka telah melihat berita itu,” kata Rey yang sedikit panik.
“Benar apa katamu Rey, karena tadi Chelsea berulang kali menghubungi ku. Tapi karena handphone ku sedang aku buat mode silent, jadi aku tidak mendengar nya.” Jelas Ronald.
“Ya sudah, cepatlah hubungi mereka! Kenapa kau masih diam saja?” Rey mulai kesal karena melihat sahabat nya itu hanya diam dan banyak bicara.
“Iya, Rey.” Ronald langsung menghubungi nomor istri nya tersebut.
Tut ... tut ....
Tersambung ….
“Kenapa tidak di angkat? Ayolah sayang, angkat telepon nya!” Ronald berucap pada ponsel nya.
“Ckk … kau ini sudah seperti orang gila saja. Bagaimana bisa kau berbicara dengan handphone mu?” Rey berdecak.
Ronald melemparnya dengan bantal sofa. “Diam lah, Rey!” Selang beberapa detik kemudian, akhirnya telepon tersebut pun di angkat oleh Chelsea.
“Sayang,” ucap Ronald. Namun, tidak ada balasan dari sebrang sana.
“Sayang ….” Ucap nya lagi, karena tidak mendapat respon.
“Chelsea sayang … ada apa dengan mu?” ucap Ronald setengah berteriak, karena ia sedikit panik.
“Hiks … hiks … hiks sayang, apa benar ini kau?” Terdengar suara seseorang yang kurang jelas dari sebrang sana, karena suara itu di iringi dengan isakkan tangis.
“Iya sayang, ini aku.” Ujar Ronald untuk meyakinkan wanita yang telah menjadi istri nya itu.
“Sayang kau masih hidup? Berarti aku tidak jadi menjadi janda dan memiliki seorang anak,” Awalnya Ronald ingin marah karena istri nya itu berfikir bahwa ia telah tiada. Akan tetapi, di urungkan nya niat tersebut karena mendengar kata-kata seorang anak yang di ucapkan oleh istri nya.
“Apa sayang? Seorang anak?” tanya Ronald seakan tidak percaya.
“Iya sayang, saat ini aku tengah mengandung, mengandung anak kita, Sayang. Aku senang sekali karena kau masih hidup,” Chelsea berbicara masih dengan suara yang terbata-bata. Air mata masih saja mengalir dari mata nya, membasahi pipi mungil wanita itu.
Rey pun ikut senang mendengar nya, ia senang karena melihat sahabat nya begitu bahagia karena mendengar kabar tentang kehamilan istrinya.
“Apa aku juga akan seperti itu, kalau mengetahui Bella sedang hamil mengandung anak ku?” batin Rey. Ada rasa bersalah di dalam hati nya, karena sampai saat ini, ia belum pernah menyentuh Bella, selain hanya mencium kening dan puncak kepala nya saja.
Seharusnya, yang lebih dulu mempunyai seorang anak adalah diri nya, karena pernikahan mereka sudah hampir menginjak usia 2 bulan. Sedangkan sahabat nya itu baru saja menikah 2 minggu yang lalu, dan sekarang sudah mendengar berita bahwa istri nya tengah hamil.
“Sepertinya aku harus meyakinkan perasaan ku pada Bella. Apakah aku benar-benar sudah mencintai nya atau belum?” batin Rey sambil mengingat wajah istri nya.
Di sebrang sana, Chelsea pun ikut bahagia. Yang pertama, karena ia mengetahui bahwa suami nya masih hidup, dan baik-baik saja. Dan yang kedua, ia bahagia karena melihat reaksi suaminya yang begitu bahagia, karena mendengar berita kehamilan nya.
“Sayang, aku tidak sabar ingin pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu, Sayang.” Ronald berucap seraya menghapus air mata yang mulai mengalir di pipi nya.
“Iya sayang, cepatlah selesaikan pekerjaan mu! Aku sangat merindukan mu.” Ucap Chelsea sambil menahan tangis nya.
“Hey, coba tanyakan pada istrimu, apa istriku ada bersama nya?” tanya Rey pada sahabat nya itu. Ronald menoleh ke arah Rey.
“Oh iya Rey, tunggu!”
“Sayang, apa kau sedang bersama Bella?” tanya Ronald pada istri nya.
“Iya sayang, Bella sedang bersama ku. Ada apa?”
“Bisakah kau memberikan ponsel mu kepada Bella, karena Rey ingin bicara dengan nya!” Chelsea pun langsung memberikan ponsel nya kepada Bella, begitu pula dengan Ronald yang langsung memberikan ponsel nya kepada Rey.
“Sayang,” Kini Rey yang sudah mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Ronald.
“Rey, benarkah ini kau?” Bella sudah tidak bisa menangis lagi, ia malah terdiam karena tidak percaya dengan kenyataan yang ia dapati saat ini.
Beberapa waktu lalu, ia baru saja berusaha mengikhlaskan kepergian suami nya. Dan sekarang, ia mengetahui bahwa suami nya itu masih hidup.
“Iya sayang, ini aku. Apa kau baik-baik saja?” Kini, Bella sudah tidak dapat menahan tangis nya. Akhirnya, tangisan nya kembali pecah, karena mendengar suara dari lelaki yang saat ini sangat ia khawatirkan, dan hampir saja ia ikhlaskan.
“Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?” Rey panik karena mendengar suara tangisan Bella.
“Aku hiks … bahagia Rey hiks … hiks …. Aku sangat bahagia karena kau masih hidup. Apa kau tau aku sangat mengkhawatirkan mu? Hiks … hiks ….”
“Sayang, sekarang kau tau kan, kalau aku baik-baik saja. Bagaimana bisa aku pergi, sebelum membuatmu bahagia?” ucapan Rey membuat Bella semakin tidak bisa menghentikan tangisan nya, karena begitu terharu akan ucapan Rey.
“Bukan nya kau menaiki pesawat itu?”
“Tidak sayang! Aku tidak jadi menaiki pesawat itu, karena aku takut terlambat, jadi nya kami menaiki helikopter pribadi milik ku. Lagipula, aku melihat sedikit kejanggalan. Tidak ada penumpang lain kecuali kami disana. Maaf, aku tidak bisa menghubungi mu, karena sepertinya ponsel ku terjatuh di bandara. Apa kau ingat saat kau menelepon ku dan menyuruh ku untuk pulang, hanya untuk membelikan martabak untuk ibu?” ucap Rey.
“Handphone mu ada pada ku, Rey. Tadi ada yang menemukan nya di bandara, dan aku langsung kesana untuk mengambil nya.”
“Baguslah kalau seperti itu,”
“Ingatlah! Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Tunggu aku kembali ya!” Bella pun mengiyakan kata-kata Rey.
“Ya sudah, aku matikan dulu telepon nya ya. Jaga dirimu baik-baik!” Rey pun mematikan telepon tersebut, dan mengembalikan ponsel itu pada sahabat nya.
***
Sedangkan di dalam mobil, mereka sedang berbahagia karena Rey dan Ronald baik-baik saja. Mereka menangis haru karena mendengar berita itu. Satu harian ini, mereka sudah terlalu banyak menangis, karena memikirkan Rey dan Ronald.
Tadi mereka baru saja akan mengantarkan Chelsea kembali ke rumah nya. Tapi, saat di tengah perjalanan, Chelsea menerima telepon dari suaminya. Ia takut saat hendak mengangkat telepon tersebut, ia takut jika harus menerima telepon sama seperti Bella. Tapi akhirnya, itu adalah kabar bahagia bagi mereka semua.